Tampilkan postingan dengan label Sirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2021

zaudah binti sam'ah

Ummahatul Mukminin 
Saudah binti zam'ah 

https://t.me/sahabat_taat

💐Namanya menggoreskan tinta emas dalam lembaran sejarah kaum muslimin. 
Dia wanita yang tabah. Keinginan menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai wafatnya adalah bukti kesetiannya terhadap beliau. 

🌷Dia adalah Saudah binti Zam’ah. Aku ingin sekali menjadi dirinya.

🌹Saudah menikah pertama kali dengan Sakran bin Amr, saudara laki-laki Suhaili bin Amr Al-Amiri.
Ia bersama suaminya adalah termasuk kelompok kaum muslimin yang berjumlah 8 orang dari Bani Amir yang hijrah ke Habasyah dengan meninggalkan harta-harta mereka. Mereka mengarungi laut penderitaan diatas keridhaan, rela atas kematian yang akan menghadangnya, demi kemenangan agama yang mulia ini. Dan sungguh bertambah keras siksa dan kesempitan yang dialaminya karena penolakan mereka terhadap kesasatan dan kesyirikan.

🍂Tak lama kemudian setelah berakhirnya pengujian pengungsian di negeri Habasyah, ujian yang lainpun datang. Saudah harus kehilangan suaminya menghadap Sang Khaliq selama-lamanya. Maka jadilah ia seorang janda seiring dengan usianya yang mulai menapaki masa senja.

🍂 Hari-hari duka dilalui dengan ketabahan. Dan inilah yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa terkesan kepadanya serta bersedia membantu Saudah tak ubahnya seperti masa kedukaan yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak meninggalnya Khadijah Ummul Mukminin Ath-Thahirah. Wanita pertama yang beriman dikala manusia berada dalam kekafiran, yang mendermakan hartanya ketika manusia menahannya, dan melalui dialah Allah anugerahkan seorang putera.

Namun setelah masa-masa itu datanglah Khaulah binti Hakim kepada Rasulullah seraya bertanya:”Tidakkah engkau ingin menikah lagi, Ya Rasulullah?.” Dengan suara sedih dan duka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :”Siapakah yang akan menjadi istriku setelah Khadijah, ya Khaulah?” Khaulah berkata lagi :”Terserah padamu , ya Rasulullah.., engkau menginginkan yang gadis atau yang janda”. “Siapakah yang masih perawan?”, tanya Rasulullah kepada Khaulah. Khaulah pun menjawab :”Anak perempuan dari orang yang paling engkau cintai, ‘Aisyah binti Abu Bakar”. “Dan siapakah kalau janda?” tanya beliau. Khaulah menjawab: “Ia adalah Saudah binti Zam’ah, yang ia beriman kepadamu dan mengikutimu atas apa-apa yang kamu ada padanya".

 💐Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan tidak lama kemudian beliau menikahi Saudah menjadi pendamping kedua bagi beliau. Kehadirannya sebagai istri dalam rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu membahagiakan hati beliau. Dan Saudah hidup bersendirian dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekitar tiga tahun lebih. Beliau membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putri-putri beliau.

💐Setelah selama tiga tahun baru kemudian datang lah ‘Aisyah ke rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disusul istri-istri beliau yang lain seperti Hafshah, Zainab Ummu Salamah, dan lainnya.

📌Rasulullah bersabda : “Tidak ada seorang wanita pun yang paling aku senangi menjadi orang sepertinya selain Saudah binti Zam`ah… (Hadis riwayat Muslim dari Aisyah radiyallahu ‘anha).

“Kata Saudah: Wahai Rasulullah, aku berikan hariku kepada Aisyah radliyallahu‘anha. Jadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi waktu kepada Aisyah radliyallahu‘anha dua hari, sehari miliknya sendiri dan sehari lagi pemberian Saudah.”(HR Muslim dari Aisyah radliyallahu ‘anha)


Demikianlah Ummul Mukminin Saudah tinggal di rumah Nabi, dan beliau hari-harinya dengan keridhaan, ketenangan dan rasa syukur kepada Allah sampai kepergiannya menghadap Rabbnya dimasa pemerintahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Wallahu ’alam bishshowwab

(Dikutip dari Majalah Salafy bagian Muslimah, judul asli “Muhajirah, Janda dari seorang Muhajir”, penulis Lia Nur, Edisi XIV/Syawwal/1417/1997)


✍👥 #SahabatHijrah Ikhwan
✍👥 #SahabatTaat Akhwat
✍📱 085889633774

Sabtu, 06 Februari 2021

khadijah binti khuwailid

Ummahatul mukminin 
Khadijah binti Khuwailid  🌹

🌷 Dialah Khadijah binti Khuwailid istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama. 

🌺 Ia lahir pada tahun 68 sebelum Hijrah. Hidup dan tumbuh serta berkembang dalam suasana keluarga yang terhormat dan terpandang, berakhlak mulia, terpuji, berkemauan tinggi, serta mempunyai akal yang suci, sehingga pada zaman jahiliyah diberi gelar “Ath-Thahirah”.

🌺Khadijah adalah wanita kaya yang hidup dari usaha perniagaan. Dan untuk menjalankan perniagaannya itu ia memiliki beberapa tenaga laki-laki, diantaranya adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebelum beliau menjadi suaminya). 

📌Sebenarnya Khadijah adalah wanita janda yang telah menikah dua kali. Pertama ia menikah dengan Zurarah At-Tamimi dan yang kedua menikah dengan Atid bin Abid Al-Makhzumi. Dan masing-masing wafat dengan meninggalkan seorang putera.

📋Pada usianya yang ke empat puluh, beliau menikah dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada waktu itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diangkat menjadi rasul dan baru berusia 25 tahun.

🌺Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai beberapa putera oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Qosim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Namun putera beliau yang laki-laki meninggal dunia sebelum dewasa.

🌺Diawal permulaan Islam, peranan Khadijah tidaklah sedikit. Dengan setia ia menemani suaminya dalam menyampaikan Risalah yang diemban oleh beliau dari Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Wanita pertama yang beriman kepada Allah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya menuju jalan Rabb-Nya. Dia yang membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengibarkan bendera Islam. bersama Rasulullah sebagai angkatan pertama. Dengan penuh semangat, Khadijah turut berjihad dan berjuang, mengorbankan harta, jiwa, dan berani menentang kejahilan kaumnya.

💐Perhatikan pujian Rasul terhadap Khadijah :
 “Dia (Khadijah) beriman kepadaku disaat orang-orang mengingkari. Ia membenarkanku disaat orang mendustakan. Dan ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tiada mau”. (HR. Ahmad, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Ba’ar)

🍂 Khadijah binti Khuwailid, wafat tiga tahun sebelum hijrah dalam usia 65 tahun. Kepergiaannya membuat kesedihan yang sangat mendalam di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun umat Islam. Ia pergi menghadap Rabb-Nya dengan meninggalkan banyak kebaikan yang tak terlupakan.

🌷 Itulah Khadijah binti Khuwailid, yang Allah pernah menyampaikan peghormatan (salam) kepadanya dan Allah janjikan untuknya sebuah rumah di Syurga.

 Sebagaimana telah disebut dalam hadist dari Abu Hurairah: 
 “Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepada engkau dengan membawa bejana berisi lauk pauk atau makanan atau minuman. Apabila ia datang kepadamu, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dan juga dariku dan kabarkanlah berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara di dalamnya tidak ada keributan dan kesusahan.” (HR Mus
lim dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu).

Mudah-mudahan Allah memberikan balasan kepada Khadijah atas segala jasa dan kebaikanya dalam membela agama dan Rasul-Nya dengan balasan yang sebaik-baiknya, penuh kenikmatan dan kecemerlangan di dalam “istananya”. 

Wallahu ‘alamu bisshowab

(Dikutip dari Majalah Salafy bagian Muslimah, tulisan Ummu ‘Umar dan redaksi, Edisi XIII/1417/1997)

Kamis, 27 Agustus 2020

Sejarah Terbunuhnya Husain

*📚SEJARAH TERBUNUHNYA AL HUSAIN RODHIYALLAHU ‘ANHU & PENGHIANATAN PENDUDUK KUFAH*

(1). Diawali dari pembaiatan Yazid bin Muawiyah pada tahun 60 Hijriyah. Al-Husain bin Ali dan Abdullah bin Az-Zubair belum membaiat Yazid (mengakui kepemimpinannya) meski keduanya berada di Madinah.

(2). Utusan Yazid meminta Al-Husain dan Abdullah untuk membaiatnya, tetapi keduanya belum memutuskan sampai akhirnya keluar dengan ijtihadnya dari Madinah menuju Makkah sebelum membaiat Yazid.

(3). Penduduk Kufah (Iraq) mendengar berita Al-Husain tidak membaiat Yazid, mereka gembira dengan kabar ini karena mereka tidak menyukai Yazid dan Muawiyah.

(4). Penduduk Kufah mengirim surat kepada Al-Husain isinya, "Kami telah membaiatmu dan kami tidak ridho kepada orang selainmu." Surat-surat berdatangan hingga berjumlah 500 pucuk surat.

(5). Al-Husain mengirim Muslim bin Aqil (sepupunya) untuk mengamati perkembangan. Setelah melihat secara langsung kondisi penduduk Kufah, mereka benar-benar menolak Yazid dan hanya menginginkan Al-Husain.

(6). Yazid mengangkat Ubaidullah bin Ziyad dengan memberikan otoritas untuk menangani Kufah dan Bashroh.

(7). Ubaidullah bin Ziyad mengetahui penduduk Kufah sudah menunggu kedatangan Al-Husain lalu Ubaidullah mengirim intelejennya bernama Ma'qil yang menyamar sebagai donatur 3000 dinar untuk membantu Al-Husain.

(8). Muslim bin Aqil mengirim surat kepada Al-Husain isinya memastikan dukungan penduduk Kufah kepada Al-Husain dan meminta Al-Husain untuk segera datang ke Kufah.

(9). Ubaidullah lewat intelejennya mengetahui rencana yang akan dilakukan Muslim, namun Muslim mengambil langkah lebih cepat bersama penduduk Kufah untuk menyerang Ubaidullah di istananya.

(10). Ubaidullah saat itu sedang bersama tokoh-tokoh penduduk Kufah, maka tokoh-tokoh tersebut diimingi imbalan besar agar penduduk Kufah tidak mendukung Muslim bin Aqil dan meninggalkannya.

(11). Penduduk Kufah berkhianat, satu persatu meninggalkan Muslim bin Aqil hingga terbunuh. Sebelum wafat, Muslim sempat mengirim surat kepada Al-Husain agar kembali pulang dan mengabarkan bahwa penduduk Kufah tidak bisa dipercaya.

(12). Para shohabat yang masih hidup kala itu sempat mencegah Al-Husain pergi ke Kufah, antara lain Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abdullah bin Amr, Abu Sa'id Al-Khudri, Abdullah bin Az-Zubair dan saudara beliau sendiri Muhammad Al-Hanafiyyah.

(13). Al-Husain tidak bergeming dengan ijtihadnya tetap berangkat ke Kufah dan sampailah beliau di tempat bernama Karbala sembari berkata, "Karb" (kesedihan) dan "Bala'" (ujian).

(14). Terjadi perundingan antara Al-Husain dan utusan Ubaidillah bin Ziyad. Al-Husain meminta diberi pilihan, membiarkan dirinya pulang ke perbatasan kaum muslimin, atau menemui Yazid untuk membaiatnya.

(15). Syamr bin Dzil Jausyan orang dekatnya Ubaidullah mendesak agar Ubaidilullah saja yang memutuskan jangan Al-Husain. Ubaidullah tertarik dengan pandangannya itu sehingga memaksa Al-Husain mengikuti kemauannya tanpa pilihan.

(16). Al-Husain menolak keputusan Ubaidullah dan memilih perang. Bersama Al-Husain ada 72 penunggang kuda, sedangkan di belakang Ubaidullah ada 5000 orang tentara Kufah.

(17). Meletuslah pertempuran hingga tinggal Al-Husain sendirian dan dalam kondisi seperti itu Syamr terus menghasut pasukan agar bunuh sekalian Al-Husain hingga akhirnya beliau terbunuh.

(18). Para Ulama sepakat bahwa Yazid bin Muawiyah tidak pernah menginstruksikan bunuh Al-Husain. Yazid hanya memerintahkan Ubaidullah menghalangi Al-Husain masuk ke Kufah. Bahkan Al-Husain berbaik sangka kepada Yazid untuk memilih pergi menemuinya guna baiat.

(19). Yazid murka dengan peristiwa itu dan beliau menghormati keluarga Al-Husain dengan baik dan tidak menawannya. Kisah kepala Al-Husain dikirim kepada Yazid adalah kisah yang batil.

(20). Al-Husain terbunuh secara zalim bukan sebagai kholifah bukan pula sebagai pemberontak, beliau mati syahid dan kelak menjadi junjungan para pemuda penduduk surga sebagaimana yang diberitakan Nabi ﷺ. (Faidah dari "Hiqbah Minat Tarikh" 227-260 - Syaikh Utsman Al-Khomis)

📁Manhajulhaq

*Repost by :*

Senin, 14 November 2011

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha


HADITS

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sambil membawa rupa Aisyah pada selembar kain sutra hijau, seraya berkata, ‘Ini adalah istrimu di dunia dan akhirat’.”
Amr bin Al-Ash Rhadhiyallahu ‘Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Siapakah yang paling  engkau cintai ya Rasulullah?” beliau menjawab, “Aisyah.” “Siapa dari kalangan laki-laki?” Tanya Amr. “Bapaknya,” jawab beliau.

Nasab Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha

Ibu Aisyah adalah Ummu Ruman bintu Amir bin Uwaimir Al-Kinaniyah.  Saudarinya dari satu bapak ialah Asma’ Dzatun-Nithaqain. Saudaranya seayah seibu adalah Abdurrahman, salah seorang pahlawan Islam. Dua orang saudaranya dari satu ayah ialah Abdullah dan Muhammad, dua orang penunggang kuda yang handal. Aisyah dilahirkan di Makkah tujuh tahun sebelum hijrah. Dia dilahirkan semasa Islam. Dia pernah berkata, “Aku tidak mengetahui kedua orang tuaku melainkan keduanya memeluk satu agama.” 

Pernikahan Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha

Aisyah rhadhiyallahu ‘Anha memperoleh gelar Ummul Mukminin karena pernikahannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sepeninggal istri beliau yang suci, Khadijah Rhadhiyallahu ‘Anha. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  berkata kepada Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha, 
“Aku bermimpi bertemu denganmu selama tiga malam. Malaikat mendatangiku sambil membawamu dalam sekedup yang ditutupi kain sutra, seraya berkata, ‘ini adalah istrimu.’ Maka aku menyibak kain di mukamu, yang ternyata adalah engkau.” Aisyah berkata, “kalau memang hal itu berasal dari sisi Allah, biarlah ia terjadi.” (Muttafaq ‘Alaihi).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,  menikahi Aisyah dengan maskawin sebanyak empat ratus dirham.

Pada bulan Syawwal tahun kedua Hijriyah Aisyah berpindah dari rengkuhan ayahnya ke kehidupan suami istri, rumah nubuwah dan tempat turunnya wahyu. Beliau menetap di rumah yang berdampingan secara langsung dengan masjid. Ketika itu beliau masih berusia muda.

Keutamaan Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anhu adalah seorang wanita yang kulitnya putih dan cantik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  tidak menikahi wanita gadis kecuali Aisyah dan tidak mencintai wanita seperti cintanya kepada Aisyah. Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menempati kedudukan yang mulia di hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam hal kecintaan, yang  tidak didahului siapa pun kecuali Khadijah bintu Khuwailid Rhadhiyallahu ‘Anha.  

Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha memiliki keutamaan yang nyata, yang tidak didapatkan wanita mana pun di alam ini. Beliau berkata, 
“Aku telah diberi Sembilan perkara yang tidak diberikan kepada wanita mana pun setelah Maryam bintu Imran, Jibril turun dengan membawa rupaku dalam lipatan kain, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam diperintahkan untuk menikahiku, beliau menikahiku dalam keadaan gadis dan beliau tidak menikahi seorang gadis selain diriku, beliau dicabut ajalnya sedang kepala beliau bersandar di dadaku, kuburan beliau berada di dalam rumahku, para malaikat mengelilingi rumahku dan wahyu turun kepada beliau sedang aku dan beliau berada di bawah satu selimut, aku adalah putri khalifah beliau dan teman karib beliau, alasanku turun dari langit, aku diciptakan sebagai wanita baik-baik di tempat yang baik-baik.”
Keutamaan lain yang dimiliki oleh Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha terdapat dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, 
“Kelebihan Aisyah atas para wanita seperti kelebihan tsarid atas seluruh makanan.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).
Keutamaan-keutamann Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha tidak dapat dibatasi. Cukuplah keutamaan baginya karena Al-Qur’an turun berkenaan dengan dirinya secara khusus. Subhanallah.

Di antara sikap yang mengundang kekaguman bahwa Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha juga ikut bergabung dalam jihad . Anas bin Malik meriwayatkan, 
“Aku melihat Aisyah bintu Abu Bakar dan Ummu Sulaim, keduanya menyingsingkan ujung baju, sehingga dapat kulihat betis bagian bawah. Keduanya mengangkuti  geriba air di atas pundak lalu memberi minum orang-orang yang terluka . kemudian keduanya kembali dan memenuhi lagi geriba itu, lalu meminumi mereka.” (Muttafaq ‘Alaihi).
Di antara barakah ibu kita, Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha ialah turunnya ayat tayammum karena keberadaannya, sebagai kemudahan bagi orang-orang muslim. Al-Bukhari mentakhrij dari Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha, dia berkata, 
“Kami pergi bersama Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah perjalanan jauh yang dilakukannya. Ketika kami tiba di sebuah padang pasir, tiba-tiba kalungku putus dan jatuh. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mencarinya, sehingga orang-orang harus berhenti di tempat itu, padahal mereka tidak lagi mempunyai air, sedang di tempat itu tidak ada sumber air. Pada saat itulah Allah menurunkan ayat tentang tayammum.”
Pemahaman Ilmunya

Al-Imam Adz-dzahaby Rahimahullah berkata tentang Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha, “Dapat dipastikan dia adalah wanita yang paling mendalam ilmunya dari umat ini.”

Umar bin Khattab dan Usman bin Affan biasa mengirim utusan kepada beliau untuk menanyakan as-Sunnah.

Zuhud dan kedermawanannya

Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menjadi teladan dalam zuhud, kemurahan hati dan kedermawanan. Hampir tidak ada harta yang ada di tangannya walau hanya beberapa saat, melainkan dia menyalurkannya kepada orang-orang miskin.  Urwah bin Az-Zubair Rhadhiyallahu ‘anhu berkata, 
“Aku pernah melihat Aisyah membagi-bagikan harta sebanyak tujuh ratus ribu dirham, sementara dia sendiri menjahit bajunya.”
Ibadah dan Wara’nya

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sehingga ibadahnya dianggap sebagai gambaran sederhana dari ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau banyak mendirikan shalat malam, karena mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di antara gambaran wara’nya, dia tetap berhijab terhadap laki-laki buta. Ishaq, seorang laki-laki buta mengisahkan,
“Aku menemui Aisyah di rumahnya dan dia berhijab dariku. Maka aku bertanya, “Apakah engkau berhijab dariku, padahal aku tidak dapat melihatmu?” beliau menjawab, “Kalaupun engkau tidak dapat melihatku, toh aku dapat melihatmu.”
Perkataan-Perkataannya              
                
Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha memiliki banyak perkataan yang mengagumkan. Di antara perkataannya yang indah dan terkenal adalah:
“Siapa yang mengamalkan sesuatu yang membuat Allah murka, maka orang yang tadinya memuji dirinya berbalik mencelanya.”
“Sekali-kali kalian tidak bersua Allah dengan sesuatu yang lebih baik bagi kalian selain dari sedikitnya dosa. Siapa yang suka mengalahkan serigala yang kencang larinya, hendaknya dia menghindarkan dirinya dari banyak dosa.”
Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha pernah ditanya,
 “Kapankah seseorang menjadi buruk?” beliau menjawab, “Jika dia mengira bahwa dirinya telah berbuat kebaikan.”

Tuduhan Bohong Terhadap Ummul Mukminin

Al- Bukhari meriwayatkan, Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menggambarkan dirinya, 
“Kami tiba di Madinah (dari Perang Bani Mushthaliq) dan aku jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang menyebarkan issu-issu dan berita bohong, sementara aku tidak mengetahui sedikit pun tentang semua itu. Yang membuatku bingung dan bimbang selama aku sakit itu, aku tidak lagi mendapatkan kelembutan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti yang kudapatkan sebelumnya ketika aku sedang jatuh sakit. Beliau hanya menemui aku dan bertanya, “Bagaimana keadaan kalian?” setelah itu beliau beranjak pergi. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Hari  demi hari terus berlalu sementara yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  tidak lebih dari kalimat itu.”
Aisyah Rhadhiyallalu ‘Anha tidak tahu menahu sedikit pun masalah berita bohong yang sudah menyebar. Sepulangnya dari Perang Bani Mushthaliq beliu sakit sehingga pergi ke rumah orang tuanya dan menetap di sana. Pada  suatu hari beliau pergi ke kamar kecil, Ummu Misthah bintu Utsatsah bin Ibbad Al-Qursyi memberitahukan apa yang dikatakan orang-orang yang menyebarkan berita bohong.

Ummul Mukminin, Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menceritakan, 
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dating ke tempat kami, mengucapkan salam lalu duduk di dekatku, dan selama sebulan itu juga tidak pernah turun wahyu kepada beliau mengenai diriku. Ketika duduk itu beliau  mengucapkan syahadat, kemudian bersabda, “Amma ba’d, wahai Aisyah, sesungguhnya aku mendengar kabar tentang dirimu begini dan begitu. Kalau memang engkau terbebas dari kesalahan, tentu Allah akan membebaskan dirimu. Namun jika engkau telah melakukan suatu dosa, maka mohonlah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya jika hamba mengakui dosanya kemudian bertaubat, niscaya Allah menerima taubatnya. Allahu Akbar.” Ummul Mukminin, Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menyimak setiap kata yang disampaikan kekasih pilihan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Air mata mengalir dari kedua matanya. Semua orang yang hadir di tempat itu terdiam seribu bahasa. Aisyah mengusap air matanya, lalu memberanikan diri berkata, “Aku berkata kepada ayahku, berikan jawaban kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dikatakannya. ” Ayahku berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.”

Aku ganti berkata kepada ibuku, “Berikan jawaban kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dikatakannya.”
Ibuku berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.”
Lalu aku berkata, “Demi Allah, aku sudah tahu dan kalian juga sudah mendengar isu ini hingga ia merasuk ke dalam jiwa kalian dan kalian membenarkannya. Sekiranya kukatakan kepada kalian bahwa sebenarnya aku terbebas dari kesalahan, dan Allah tahu bahwa memang aku terbebas dari kesalahan,toh kalian tidak akan mempercayai aku. Sekiranya aku mengakui sesuatu di hadapan kalian, dan Allah tahu bahwa aku terbebas dari pengakuan ini, tentu kalian akan  membenarkan aku. Demi Allah, aku tidak mendapatkan perumpamaan melainkan perkataan ayah Yusuf (Ya’qub), yang berkata, ‘Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan’.”
Aisyah berkata, “Demi Allah, Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tidak bergeming dan tidak seorang pun dari anggota keluarga yang keluar hingga turun wahyu kepada beliau.”
Aisyah berkata, “ketika mulai tampak tanda kegembiraan pada diri Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam,maka beliau benar-benar menunjukkan kegembiraan dan tersenyum. Yang pertama kali beliau ucapkan adalah, “wahai Aisyah, adapun Allah Azza wa Jalla sudah membebaskan dirimu.”
Ibuku berkata, “Bangunlah dan hampirilah beliau.”
Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menghampiri beliau dan aku tidak memuji kecuali Allah Azza wa Jalla.”
Saat itu Allah menurunkan Qs. An-Nuur ayat 11 sampai 20.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesaksian bagi ibu kita Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha dengan menurunkan ayat Al-Qur’an tentang kesucian dirinya, sebuah kesaksian yang tidak terhapus sepanjang masa. Yang dibaca oleh semua umat Islam di seluruh dunia hingga hari kiamat. Sehingga namanya tetap dikenang sepanjang masa di muka bumi ini. 

Perpisahan Dengan Kekasih

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha meriwayatkan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan berkata, “Di antara nikmat yang dilimpahkan Allah kepadaku, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal di dalam rumahku dan ketika tiba giliranku di dalam pelukan dadaku. Di samping itu Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Saat itu Abdurrahman masuk ke rumahku sambil memegangi siwak. Aku menyangga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku melihat beliau memandangi siwak itu dan aku tahu betul bahwa beliau menyukai siwak. “Apa aku perlu mengambilnya untuk engkau?” aku bertanya kepada beliau. Maka belaiu memberi isyarat dengan anggukan  kepala, mengiyakan. Aku menyerahkan siwak itu kepada beliau, tapi rupanya ia terlalu kasar dank eras. “Apakah aku perlu melenturkannya bagi engkau?” tanyaku kepada beliau. Beliau memberi isyarat dengan anggukan kepala, mengiyakan. Maka aku pun melenturkannya. Sementara itu di hadapan belaiu ada kantong dari kulit atau ceret yang di dalamnya ada air. beliau memasukkan tangan ke dalam air lalu mengusapkannya ke muka seraya bersabda, “La ilaha illallah. Sesungguhnya kematian itu sakarat.” Kemudian beliau menegakkan tangannya dan bersabda, “Di Ar-Rafiqul-A’la.” Hingga akhirnya ajal belaiu tiba dan tangan beliau condong terkulai.” ((H.R. Al-Bukhari).
Kematian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan kejadian yang mengguncangkan akal, menggetarkan hati dan mendebarkan jiwa. Manusia seperti dalam keadaan bingung. Tapi,  Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha tetap tegar hati dan jiwanya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikubur di rumah Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha.  Dengan begitu dia mendapatkan kemuliaan, biliknya tetap menjadi pusat perhatian seluruh orang Muslim di seluruh dunia.

Kemuliaan lain yang dimiliki Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha adalah, beliau pernah bermimpi seakan ada tiga rembulan di biliknya. Abu Bakar berkata,  
“Kalau mimpimu itu mimpi yang benar, berarti rumahmu akan dikuburkan penduduk bumi yang paling baik.” Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat, Abu Bakar berkata kepada Aisyah, “Inilah salah satu rembulanmu dan inilah yang paling baik. ” di rumah Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha juga dikuburkan Abu bakar dan Umar Rhadhiyallahu ‘Anhuma. Jadi komplit sudah tiga rembulan seperti mimpinya.
Wafatnya Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha wafat pada malam Selasa 17 Ramadhan tahun 58 H, yang bertepatan dengan tahun 678 M, dalam usia enam puluh enam tahun. Belai dikuburkan di Baqi’ pada malam itu pula setelah shalat witir. 

Yang mengiringi jenazahnya ialah seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya. Mereka berkata, “Kami tidak pernah melihat orang berkumpul pada malam hari yang lebih banyak dari malam itu. 

Yang menjadi imam shalat jenazahnya ialah Abu Hurairah Rhadhiyallahu ‘Anhu. Sedangkan yang turun  ke liang lahatnya ialah lima orang laki-laki dan mahramnya.

Inilah sekilas uraian tentang kehidupan Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha. 
Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha serta melapangkan kuburannya. 
Aamiin.


Jumat, 04 November 2011

FATHIMAH AZ-ZAHRA RHADHIYALLAHU 'ANHA



KEUTAMAAN NASABNYA

Fatimah dilahirkan di Ummul Qura, ketika orang-orang Quraisy merehab bangunan Ka’bah, yaitu lima tahun sebelum nubuwah. Kedua orang tuanya sangat gembira dan senang karena kelahirannya. 

Ayahnya adalah pemimpin semua anak Adam, sebagai rahmat bagi semesta alam, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Ibunya adalah pemimpin wanita semesta alam dan orang yang pertama kali masuk Islam, Khadijah bintu Khuwailid Rhadhiyallahu ‘Anha.

Fathimah  sendiri adalah pemimpin para wanita surga pada zamannya dan merupakan putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang paling utama.

Anaknya adalah dua orang pemimpin para pemuda penghuni surga, dua cucu  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, al-Hasan dan al-Husain Rhadhiyallahu ‘anhuma.

Pamannya adalah pemimpin para syuhada’, salah seorang singa ar-Rahman dan Rasul-Nya, Hamzah bin Abdul Muththalib Rhadhiyallahu ‘anhu.

Pamannya yang lain adalah pemimpin Bani Hasyim, yang biasa melindungi tetangga, mengorbankan harta, memberi pakaian dan makanan kepada orang yang tidak mampu, yaitu al-Abbas bin Abdul Muththalib Radhiyallahu ‘anhu.

Anak pamannya adalah pemimpin para syuhada’ yang besar, panji para mujahidin, Ja’far bin Abu Thalib Rhadhiyallahu ‘anhu.

Subhanallah, siapakah yang dapat menyaingi kebanggaan Fathimah Az-Zahra? Masih adakah keutamaan setelah keutamaan ini? Beliau adalah wanita yang dipanggil oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan gelar “Ibu dari ayahnya.” 

DI BARISAN TERDEPAN

Setelah turun wahyu yang membawa tugas risalah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari Rabb-nya, maka Ummul Mukminin Khadijah adalah orang yang pertama beriman kepada risalah itu. Kemudian diikuti oleh putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang suci, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fathima Rhadhiyallahu anhuma.

MEMBELA AYAHNYA

Semasa kanak-kanaknya Fathimah az-Zahrah menyaksikan dan merasakan kesulitan yang dialami orang tuanya. Suatu hari dia menyaksikan perlakuan salah seorang Quraisy yang sangat kasar dan beringas, Uqbah bin Abu Mu’aith. Pada saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedang shalat di depan Kakbah, ketika beliau sedang sujud Uqbah datang menghampiri dan meletakkan kotoran (yang menyertai kelahiran anak hewan) dipunggung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Orang-orang Quraisy yang jahat menyaksikan kejadian itu sambil tertawa terbahak-bahak dan mengolok-olok . Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tetap berada dalam sujudnya tanpa bergeming. 

Kejadian ini didengar oleh Fathimah az-Zahra. Dia segera datang dan menyingkirkan isi perut binatang itu dari punggung ayahnya dan mencucinya.

Seusai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menengadahkan tangan ke  langit dan berdoa,

Ya Allah, ada kewajiban atas Engkau untuk mencelakakan Syaibah bin Rabi’ah. Ya Allah, ada kewajiban atas Engkau untuk mencelakakan Abu Jahl bin Hisyam. Ya Allah, ada kewajiban atas Engkau untuk mencelakakan Uqbah bin Abu Mu’aith. Ya Allah, ada kewajiban atas Engkau untuk mencelakakan Umayyah bin Khalaf.”

Ketika mereka melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka terdiam dan tidak berani tertawa lagi, karena mereka takut terhadap doa beliau. Orang- orang yang namanya disebutkan dalam doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersebut itu semuanya terbunuh dalam Perang Badar.

PEMBOIKOTAN

Pada saat orang-orang kafir Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib, Fathimah az-Zahra Rhadhiyallahu ‘anha juga ikut bersama orang-orang yang diboikot ini. Boikot ini berdampak besar terhadap kesehatan beliau, yang terus memengaruhi kondisinya hingga beliau wafat.

KEMATIAN IBUNDA

Fathimah Az-Zahra Radhiyallahu ‘anhu tidak akan pernah melupakan hari yang sangat memilukan dalam hidupnya. Hari ketika dia harus kehilangan ibunya Khadijah Rhadhiyallahu ‘anha. Tapi peristiwa ini justru menambah bekal iman dan kepasrahan dirinya serta membuatnya semakin dekat dengan ayahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari beliau dia mendapatkan kasih saying dan kelembutan yang besar. Karena itulah, dia selalu menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam memikul tugas dan beban kehidupan, hingga akhirnya Allah mengizinkan hijrah ke Madnah Al-Munawwarah.

MENIKAH DENGAN ALI BIN ABI THALIB

Pada tahun kedua setelah hijrah (setelah Perang Badar Kubra), Ali bin Abu Thalib menikahi Fathimah putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan menjalani kehidupan sebagi suami istri bersama.

Ali bin Abu Thalib menuturkan kisah pernikahan mereka secara rinci. Beliau berkata, 

“Fathimah pernah dilamar seseorang, yang disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Lalu maula-ku berkata kepadaku, ‘Apakah engkau sudah tahu bahwa Fathimah sudah dilamar?’, ‘Belum’, jawabku.” ‘Dia sudah dilamar. Lalu apa yang menghalangimu untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, supaya dia menikahkanmu dengan Fathimah?’. ‘Aku tidak punya apa-apa untuk menikah dengannya’, jawabku. ‘Jika engkau menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau pasti akan menikahkanmu,’ kata maula-ku. Ali menuturkan, ‘Dia terus-menerus membujukku, hingga akhirnya aku memberanikan diri menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tapi setelah aku duduk di hadapan beliau, ternyata aku bungkam. Demi Allah, aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun karena sungkan dan takut.’ ‘Apa yang mendorongmu dating ke sini? Apakah engkau mempunyai keperluan?’ Tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Aku hanya bungkam, tidak mampu bicara. ‘Boleh jadi engkau datang untuk melamar Fathimah,’ sabda beliau. ‘Benar’ jawabku. ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu sebagai mahar baginya?’ Tanya beliau. ‘Tidak, demi Allah wahai Rasulullah,’ jawabku. ‘Apa yang engkau lakukan terhadap baju besi yang dulu pernah kuberikan kepadamu untuk perangkat perang?’ Tanya beliau. ‘Aku masih menyimpannya.’ Demi yang diriku ada di tangan-Nya, itu hanyalah hasil kerajinan Hatham bin Muharib (pandai besi pembuat baju besi) yang nilainya hanya empat dirham,’ kataku.

Beliau bersabda, ‘Aku menikahkanmu dengan Fathimah. Kirimlah utusan untuk mengambil baju besi itu dan berikan ia sebagai maskawin untuk menghalalkan dirinya.’ Lalu beliau bersabda, ‘Baju besi itu benar-benar merupakan maskawin bagi Fathimah putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.’
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menemui putrinya seraya bersabda, ‘Sesungguhnya Ali berhasrat terhadap dirimu.’

Fathimah hanya diam saja. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menikahkan mereka berdua. Usia Fathimah pada saat itu delapan belas tahun sedangkan Ali berusia dua puluh dua tahun.
Pada malam pengantin Fathimah az-Zahrah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu, lalu beliau mengucurkannya kepada Ali untuk wudhu’nya, lalu beliau bersabda, “Ya Allah, berkahilah mereka berdua dan limpahkanlah barakah bagi mereka berdua dalam keturunannya.”

Bani Abdul Muththalib dan para sahabat berkumpul karena peristiwa yang membahagiakan ini. Hamzah bin Abdul Muththalib menyembelih sebagian untanya dan menyuguhkannya kepada orang-orang yang hadir. Kemudian Fathiimah Az-Zahrah pindah ke rumah suaminya untuk menjalani kehidupan sebagai suami istri. Sebuah rumah yang tidak memiliki kasur yang empuk dan tebal, tidak ada gelas, tidak pula bantal-bantal yang terhampar atau pun permadani yang lebar. Itu adalah sebuah rumah yang sederhana, di dalamnya hanya ada selembar kulit domba, bantal yang isinya jerami, wadah air dari kulit, duah buah tempayan dan satu alat penggiling.

Tak seberapa lama berselang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang ke rumah Fathimah dan bersabda, “Aku ingin memindahkanmu agarlebih dekat dengan aku.” Akhirnya Ali dan Fathimah pindah ke rumah Haritsah bin An-Nu’man yang rumahnya lebih dekat dengan rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Minggu, 30 Oktober 2011

AL-HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB Rhadhiyallahu ‘Anhu

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Abu Muhammad, cucu Rasulullah. 
Sa’ad meriwayatkan dari Imran bin Sulaiman dia berkata: Al-Hasan dan Al-Husein adalah dua nama-nama penghuni Surga, dan tidak ada seorang Arab pun yang memakai nama tersebut pada masa jahiliyah.
Al-Hasan dilahirkan pada pertengahan bulan Ramadhan tahun ketiga Hijriyah. Dia meriwayatkan beberapa hadits dari Rasulullah.

Nama al-Hasan diberikan oleh Rasulullah. Dia diaqiqah pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dipotong rambutnya. Rasulullah memerintahkan untuk memberikan sedekah perak seberat rambut yang dipotong.

Dia sangat mirip dengan Rasulullah. 
Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas dia berkata: “Tidak ada seorangpun yang amat mirip dengan Rasulullah dari pada al-Hasan bin Ali.”
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari al-Barra’ dia berkata: 
Saya melihat Rasulullah meletakkan al-Hasan bin Ali di atas pundaknya, seraya berkata, “Ya Allah, saya mencintainya maka cintailah dia.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakrah dia berkata:  
Saya mendengar Rasulullah berada di atas mimbar dan al-Hasan berada di sampingnya, kadang-kadang dia melihat kepada yang hadir dan kadang-kadang melihat kepada al-Hasan seraya berkata, “Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid (tuan), semoga Allah akan mendamaikan dengannya dua kelompok kaum Muslimin yang bertikai.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata: 
al-Hasan dan al-Husein adalah rayhanahku (bunga) di dunia.
Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-khudri dia berkata bahwa RasuluIlah bersabda, 
“Al-Hasan dan al-Husein adalah penghulu pemuda di Surga.”
Iman at-Tirmidzi meriwayatkan dari Usmah bin Zaid dia berkata: 
“Saya melihat Rasulullah, sedangkan al-Hasan dan al-Husein ada di atas dua pahanya, dia berkata, “Ini adalah dua cucuku dari anak putriku. Ya Allah, sesungguhnya saya mencintai keduanya, maka cintailah mereka dan cintailah orang-orang yang mencintai mereka.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair dia berkata: 
Orang yang paling mirip dengan Rasulullah dan paling disenangi olehnya dari kalangan keluarganya adalah al-Hasan. Saya melihat dia datang dan Rasulullah sedang bersujud lalu al-Hasan naik ke punggungnya. Rasulullah tidak menurunkannya hingga dia sendiri yang turun. Sebagaimana saya juga melihat Rasulullah sedang ruku’, maka dia masuk diselangkangan Rasulullah dan keluar dari bagian yang lain.
Al-Hasan adalah seorang sayyid, penyabar, sangat tenang pembawaannya, pemurah, akhlaknya terpuji, tidak menyukai pertengkaran dan pertumpahan darah dan pemurah.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari ‘Umair bin Ishaq dia berkata: 
Tidak ada seorangpun yang berbicara di hadapanku yang aku inginkan agar dia tidak berhenti bicara kecuali al-Hasan bin Ali.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibn Ishaq dia berkata: 
Ketika Marwan menjadi gubernur, dia seringkali mencaci maki Ali dalam setiap khutbah Jum’atnya, sedangkan al-Hasan mendengar apa yang Marwan katakan, namun dia tidak pernah membalasnya. Kemudian Marwan mengirim seorang laki-laki dan mengatakan kepadanya, “Atas nama Ali dan namamu, sesungguhnya saya tidak menganggapmu kecuali seekor keledai yang jika dikatakan padanya, siapa ayahmu? Dia menjawab, ibuku adalah seekor kuda.”
Al-Hasan berkata kepada orang itu,
”Kembalilah kepadanya dan katakan padanya: “Saya tidak akan membalas apa yang kamu katakan dan saya tidak akan mencacimu karena perkataanmu. Namun ingatlah perjumpaan kita di hadapan Allah, jika kamu benar maka Allah akan mengganjarmu dengan kebenaran yang kamu katakan dan jika kamu bohong maka sesungguhnya siksa Allah sangatlah pedih.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari al-Mubarrid dia berkata, Hasan bin Ali berkata, 

“Barangsiapa yang menyandarkan diri kepada apa yang telah Allah pilihkan, maka dia tidak akan pernah mengharapkan apa yang Allah tidak pilihkan baginya. Dan inilah makna dari ridha kepada qadha’ Allah.”
Al-Hasan memangku khalifah setelah ayahnya terbunuh. Dia dibaiat oleh orang-orang Kufah. Dia tinggal di Kufah selama enam bulan dan beberapa hari. Kemudian Mu’awiyah datang menemuinya. Al-Hasan kemudian mengirimkan utusan dan menyerahkan semua kekhalifahan kepada Mu’awiyah.
Al-Hasan turun dari kursi khalifah. Beliau mengundurkan diri dari kursi khalifah pada bulan Rabi’ul Awal tahun 41 H.

Para sahabatnya berkata, 
“Wahai orang yang menghinakan kaum Muslimin!.”
Dia berkata, 
“Saya bukanlah orang yang menghinakan kaum mukminin, namun saya tidak suka membunuh kalian lantaran berebut kekuasaan.”
Dalam riwayat lain beliau berkata, 
“Sesungguhnya seluruh orang Arab telah berada di bawah telapak tanganku, mereka akan memerangi siapa pun yang saya perangi dan akan berdamai dengan orang yang berdamai denganku. Namun saya biarkan mereka demi mencari keridhaan Allah dan mencegah terjadinya pertumpahan darah di antara sesame umat Muhammad.”
Saat itu tampaklah mukjizat kenabian Rasulullah saat dia bersabda, 
“Dia akan mendamaikan dua golongan kaum Muslimin yang sedang bertikai.”
Kemudian al-Hasan meninggalkan Kufah menuju Madinah dan menetap di sana. Imam al-Baihaqi dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Abu al-Mundzir, Hisyam bin Muhammad, dari ayahnya dia berkata, 
Al-Hasan ditimpa krisis keuangan. Dia mendapatkan gaji dari setiap tahun sebanyak seratus ribu. Pada suatu tahun Mu’awiyah tidak memberikan bayaran itu kepadanya, maka dia menderita krisis keuangan tersebut. Al-Hasan berkata, “Saya meminta tinta kepada salah seorang sahabat untuk menulis surat kepada Mu’awiyah tentang bagianku, namun saya tidak melakukannya.”
Tiba-tiba dalam tidurku saya melihat Rasulullah berkata, 
“Bagaimana keadaanmu wahai Hasan?.”
Saya katakan, 
“Saya baik-baik wahai kakekku.” Saya kemudian melaporkan tentang ditundanya bayaran yang seharusnya diberikan kepada saya. Lalu Rasulullah bersabda, “Apakah kau memanggil seseorang agar kamu bias menulis permohonan kepada makhluk sepertimu dan kamu peringatkan tentang bayaranmu?.”
Saya katakan, 
“Ya, wahai Rasulullah, lalu apa sebaiknya yang saya lakukan?.”
Rasulullah bersabda, 
“Katakan doa ini, Ya Allah, tanamkan dalam dadaku harapan untukmu, dan putuskanlah harapanku selain-Mu hingga tidak saya gantungkan harapanku kepada selain-Mu. Ya Allah, tanamkanlah dalam dadaku yang saya tidak kuat melakukannya, dan saya tidak mampu menanggungnya dan keinginan yang tidak saya sampai kepadanya, dan belum pernah terlontar pada lidahku apa yang Kau berikan kepada orang-orang terdahulu dan yang belakangan dari keyakinan, maka berikanlah itu kepadaku wahai Tuhan Semesta Alam.”
Al-Hasan mengatakan, 
Demi Allah belum sepekan saya mengucapkan doa ini, ternyata Mu’awiyah mengirim kepada saya uang sebanyak satu juta lima ratus ribu. Lalu saya katakan, “Segala puji bagi Allah yang tidak pernah melupakan orang yang mengingat-Nya, dan tidak pernah mengecewakan orang yang meminta-Nya.”
Saya kembali melihat Rasulullah dalam mimpiku. Dia berkata, 
“Bagaimana keadaanmu wahai Hasan?.”
Saya menjawab. 
“Baik-baik saja wahai Rasulullah!” lalu saya beritahukan kepadanya apa yang terjadi. Rasulullah berkata, “Wahai anakku, demikianlah orang yang menggantungkan harapannya kepada Yang Maha Pencipta dan tidak pernah menggantungkan harapannya kepada makhluk-Nya.”
Al-Hasan wafat pada tahun 49 H di Madinah. Beliau meninggal karena diracun. Saudaranya, Husein, mendesaknya untuk memberitahukan kepadanya siapa yang telah meracuninya, namun dia tidak memberitahukannya. Dia berkata, 

“Murka Allah jauh lebih berat daripada yang saya duga, dan jika saya kabarkan maka dia akan dibunuh karena kematianku, sementara Allah berlepas diri darinya.”
Dalam kitab ath-Thuyuriyyat dari Salim bin Isa berkata, 
Tatkala kematian menjelang, al-Hasan merasa ketakutan. Lalu al- Husein berkata, “Mengapa kamu demikian takut? Bukankah kamu akan bertemu dengan Rasulullah dan Ali, yang keduanya adalah ayahmu? Dan bukankah kamu akan bertemu dengan Khadijah dan Fatimah yang keduanya adalah ibumu? Dan bertemu al-Qasim, ath-Thahir, Hamzah dan Ja’far yang tak lain adalah pamanmu?.”
AL-Hasan berkata, 
“Wahai adikku, sesungguhnya saya akan memasuki perkara dari perkara Allah yang saya belum pernah memasukinya, dan saya akan melihat makhluk yang belum pernah saya lihat sebelumnya.”
Ibnu Abdul Barr berkata, tatkala ajal menjelang al-Hasan berkata kepada saudaranya, 
“Wahai saudaraku, sesungguhnya ayahmu pernah berminat untuk menjadi khalifah, namun Allah palingkan dia darinya dan Abu Bakarlah yang memangkunya. Lalu dia kembali menginginkannya, namun Allah palingkan darinya dan Dia berikan kepada Umar. Kemudian dia sama sekali tidak ragu bahwa perkara itu akan jatuh ke tangannya saat terjadi musyawarah. Namun kembali dia dipalingkan dan Utsmanlah yang berkuasa. Tatkala Utsman terbunuh Ali dilantik menjadi khalifah. Saat itulah dia banyak mendapat penentangan hingga dia harus menghunus pedang dan khilafah tidak mulus baginya. Demi Allah, Allah tidak akan menggabungkan pada diri kita antara khilafah dan kenabian, maka janganlah sampai saya melihat orang-orang bodoh dari orang-orang Kufah mengusirmu dari negeri mereka.”
Al-Hasan berkata kepada adiknya al-Husein, 
“Sesungguhnya saya telah meminta kepada Ummul Mukminin (Aisyah r.a) agar saya bisa dikuburkan bersama Rasulullah, dan dia menyanggupi permintaanku. Maka jika saya mati mintalah itu kembali kepadanya. Saya kira orang-orang itu akan mencegah apa yang akan kamu lakukan. Jika mereka melakukan itu, maka janganlah engkau melakukan perlawanan.”
Tatkala al-Hasan meninggal, al-Husein dating menemui ‘Aisyah. Ummul Mukminin berkata, 
“Ya, boleh, dengan senang hati.”
Namun Marwan melarangnya. Akhirnya al-Hasan dikuburkan di pemakaman al-Baqi’ di samping kuburan ibunya.