Selasa, 23 Februari 2021
zaudah binti sam'ah
Sabtu, 06 Februari 2021
khadijah binti khuwailid
Kamis, 27 Agustus 2020
Sejarah Terbunuhnya Husain
*📚SEJARAH TERBUNUHNYA AL HUSAIN RODHIYALLAHU ‘ANHU & PENGHIANATAN PENDUDUK KUFAH*
(1). Diawali dari pembaiatan Yazid bin Muawiyah pada tahun 60 Hijriyah. Al-Husain bin Ali dan Abdullah bin Az-Zubair belum membaiat Yazid (mengakui kepemimpinannya) meski keduanya berada di Madinah.
(2). Utusan Yazid meminta Al-Husain dan Abdullah untuk membaiatnya, tetapi keduanya belum memutuskan sampai akhirnya keluar dengan ijtihadnya dari Madinah menuju Makkah sebelum membaiat Yazid.
(3). Penduduk Kufah (Iraq) mendengar berita Al-Husain tidak membaiat Yazid, mereka gembira dengan kabar ini karena mereka tidak menyukai Yazid dan Muawiyah.
(4). Penduduk Kufah mengirim surat kepada Al-Husain isinya, "Kami telah membaiatmu dan kami tidak ridho kepada orang selainmu." Surat-surat berdatangan hingga berjumlah 500 pucuk surat.
(5). Al-Husain mengirim Muslim bin Aqil (sepupunya) untuk mengamati perkembangan. Setelah melihat secara langsung kondisi penduduk Kufah, mereka benar-benar menolak Yazid dan hanya menginginkan Al-Husain.
(6). Yazid mengangkat Ubaidullah bin Ziyad dengan memberikan otoritas untuk menangani Kufah dan Bashroh.
(7). Ubaidullah bin Ziyad mengetahui penduduk Kufah sudah menunggu kedatangan Al-Husain lalu Ubaidullah mengirim intelejennya bernama Ma'qil yang menyamar sebagai donatur 3000 dinar untuk membantu Al-Husain.
(8). Muslim bin Aqil mengirim surat kepada Al-Husain isinya memastikan dukungan penduduk Kufah kepada Al-Husain dan meminta Al-Husain untuk segera datang ke Kufah.
(9). Ubaidullah lewat intelejennya mengetahui rencana yang akan dilakukan Muslim, namun Muslim mengambil langkah lebih cepat bersama penduduk Kufah untuk menyerang Ubaidullah di istananya.
(10). Ubaidullah saat itu sedang bersama tokoh-tokoh penduduk Kufah, maka tokoh-tokoh tersebut diimingi imbalan besar agar penduduk Kufah tidak mendukung Muslim bin Aqil dan meninggalkannya.
(11). Penduduk Kufah berkhianat, satu persatu meninggalkan Muslim bin Aqil hingga terbunuh. Sebelum wafat, Muslim sempat mengirim surat kepada Al-Husain agar kembali pulang dan mengabarkan bahwa penduduk Kufah tidak bisa dipercaya.
(12). Para shohabat yang masih hidup kala itu sempat mencegah Al-Husain pergi ke Kufah, antara lain Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abdullah bin Amr, Abu Sa'id Al-Khudri, Abdullah bin Az-Zubair dan saudara beliau sendiri Muhammad Al-Hanafiyyah.
(13). Al-Husain tidak bergeming dengan ijtihadnya tetap berangkat ke Kufah dan sampailah beliau di tempat bernama Karbala sembari berkata, "Karb" (kesedihan) dan "Bala'" (ujian).
(14). Terjadi perundingan antara Al-Husain dan utusan Ubaidillah bin Ziyad. Al-Husain meminta diberi pilihan, membiarkan dirinya pulang ke perbatasan kaum muslimin, atau menemui Yazid untuk membaiatnya.
(15). Syamr bin Dzil Jausyan orang dekatnya Ubaidullah mendesak agar Ubaidilullah saja yang memutuskan jangan Al-Husain. Ubaidullah tertarik dengan pandangannya itu sehingga memaksa Al-Husain mengikuti kemauannya tanpa pilihan.
(16). Al-Husain menolak keputusan Ubaidullah dan memilih perang. Bersama Al-Husain ada 72 penunggang kuda, sedangkan di belakang Ubaidullah ada 5000 orang tentara Kufah.
(17). Meletuslah pertempuran hingga tinggal Al-Husain sendirian dan dalam kondisi seperti itu Syamr terus menghasut pasukan agar bunuh sekalian Al-Husain hingga akhirnya beliau terbunuh.
(18). Para Ulama sepakat bahwa Yazid bin Muawiyah tidak pernah menginstruksikan bunuh Al-Husain. Yazid hanya memerintahkan Ubaidullah menghalangi Al-Husain masuk ke Kufah. Bahkan Al-Husain berbaik sangka kepada Yazid untuk memilih pergi menemuinya guna baiat.
(19). Yazid murka dengan peristiwa itu dan beliau menghormati keluarga Al-Husain dengan baik dan tidak menawannya. Kisah kepala Al-Husain dikirim kepada Yazid adalah kisah yang batil.
(20). Al-Husain terbunuh secara zalim bukan sebagai kholifah bukan pula sebagai pemberontak, beliau mati syahid dan kelak menjadi junjungan para pemuda penduduk surga sebagaimana yang diberitakan Nabi ﷺ. (Faidah dari "Hiqbah Minat Tarikh" 227-260 - Syaikh Utsman Al-Khomis)
📁Manhajulhaq
*Repost by :*
Senin, 14 November 2011
Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sambil membawa rupa Aisyah pada selembar kain sutra hijau, seraya berkata, ‘Ini adalah istrimu di dunia dan akhirat’.”
Amr bin Al-Ash Rhadhiyallahu ‘Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Siapakah yang paling engkau cintai ya Rasulullah?” beliau menjawab, “Aisyah.” “Siapa dari kalangan laki-laki?” Tanya Amr. “Bapaknya,” jawab beliau.
“Aku bermimpi bertemu denganmu selama tiga malam. Malaikat mendatangiku sambil membawamu dalam sekedup yang ditutupi kain sutra, seraya berkata, ‘ini adalah istrimu.’ Maka aku menyibak kain di mukamu, yang ternyata adalah engkau.” Aisyah berkata, “kalau memang hal itu berasal dari sisi Allah, biarlah ia terjadi.” (Muttafaq ‘Alaihi).
“Aku telah diberi Sembilan perkara yang tidak diberikan kepada wanita mana pun setelah Maryam bintu Imran, Jibril turun dengan membawa rupaku dalam lipatan kain, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam diperintahkan untuk menikahiku, beliau menikahiku dalam keadaan gadis dan beliau tidak menikahi seorang gadis selain diriku, beliau dicabut ajalnya sedang kepala beliau bersandar di dadaku, kuburan beliau berada di dalam rumahku, para malaikat mengelilingi rumahku dan wahyu turun kepada beliau sedang aku dan beliau berada di bawah satu selimut, aku adalah putri khalifah beliau dan teman karib beliau, alasanku turun dari langit, aku diciptakan sebagai wanita baik-baik di tempat yang baik-baik.”
“Kelebihan Aisyah atas para wanita seperti kelebihan tsarid atas seluruh makanan.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).
“Aku melihat Aisyah bintu Abu Bakar dan Ummu Sulaim, keduanya menyingsingkan ujung baju, sehingga dapat kulihat betis bagian bawah. Keduanya mengangkuti geriba air di atas pundak lalu memberi minum orang-orang yang terluka . kemudian keduanya kembali dan memenuhi lagi geriba itu, lalu meminumi mereka.” (Muttafaq ‘Alaihi).
“Kami pergi bersama Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah perjalanan jauh yang dilakukannya. Ketika kami tiba di sebuah padang pasir, tiba-tiba kalungku putus dan jatuh. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mencarinya, sehingga orang-orang harus berhenti di tempat itu, padahal mereka tidak lagi mempunyai air, sedang di tempat itu tidak ada sumber air. Pada saat itulah Allah menurunkan ayat tentang tayammum.”
“Aku pernah melihat Aisyah membagi-bagikan harta sebanyak tujuh ratus ribu dirham, sementara dia sendiri menjahit bajunya.”
“Aku menemui Aisyah di rumahnya dan dia berhijab dariku. Maka aku bertanya, “Apakah engkau berhijab dariku, padahal aku tidak dapat melihatmu?” beliau menjawab, “Kalaupun engkau tidak dapat melihatku, toh aku dapat melihatmu.”
“Siapa yang mengamalkan sesuatu yang membuat Allah murka, maka orang yang tadinya memuji dirinya berbalik mencelanya.”“Sekali-kali kalian tidak bersua Allah dengan sesuatu yang lebih baik bagi kalian selain dari sedikitnya dosa. Siapa yang suka mengalahkan serigala yang kencang larinya, hendaknya dia menghindarkan dirinya dari banyak dosa.”
Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha pernah ditanya,
“Kapankah seseorang menjadi buruk?” beliau menjawab, “Jika dia mengira bahwa dirinya telah berbuat kebaikan.”
“Kami tiba di Madinah (dari Perang Bani Mushthaliq) dan aku jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang menyebarkan issu-issu dan berita bohong, sementara aku tidak mengetahui sedikit pun tentang semua itu. Yang membuatku bingung dan bimbang selama aku sakit itu, aku tidak lagi mendapatkan kelembutan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti yang kudapatkan sebelumnya ketika aku sedang jatuh sakit. Beliau hanya menemui aku dan bertanya, “Bagaimana keadaan kalian?” setelah itu beliau beranjak pergi. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Hari demi hari terus berlalu sementara yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak lebih dari kalimat itu.”
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dating ke tempat kami, mengucapkan salam lalu duduk di dekatku, dan selama sebulan itu juga tidak pernah turun wahyu kepada beliau mengenai diriku. Ketika duduk itu beliau mengucapkan syahadat, kemudian bersabda, “Amma ba’d, wahai Aisyah, sesungguhnya aku mendengar kabar tentang dirimu begini dan begitu. Kalau memang engkau terbebas dari kesalahan, tentu Allah akan membebaskan dirimu. Namun jika engkau telah melakukan suatu dosa, maka mohonlah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya jika hamba mengakui dosanya kemudian bertaubat, niscaya Allah menerima taubatnya. Allahu Akbar.” Ummul Mukminin, Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menyimak setiap kata yang disampaikan kekasih pilihan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Air mata mengalir dari kedua matanya. Semua orang yang hadir di tempat itu terdiam seribu bahasa. Aisyah mengusap air matanya, lalu memberanikan diri berkata, “Aku berkata kepada ayahku, berikan jawaban kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dikatakannya. ” Ayahku berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.”
Aku ganti berkata kepada ibuku, “Berikan jawaban kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dikatakannya.”Ibuku berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.”Lalu aku berkata, “Demi Allah, aku sudah tahu dan kalian juga sudah mendengar isu ini hingga ia merasuk ke dalam jiwa kalian dan kalian membenarkannya. Sekiranya kukatakan kepada kalian bahwa sebenarnya aku terbebas dari kesalahan, dan Allah tahu bahwa memang aku terbebas dari kesalahan,toh kalian tidak akan mempercayai aku. Sekiranya aku mengakui sesuatu di hadapan kalian, dan Allah tahu bahwa aku terbebas dari pengakuan ini, tentu kalian akan membenarkan aku. Demi Allah, aku tidak mendapatkan perumpamaan melainkan perkataan ayah Yusuf (Ya’qub), yang berkata, ‘Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan’.”Aisyah berkata, “Demi Allah, Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tidak bergeming dan tidak seorang pun dari anggota keluarga yang keluar hingga turun wahyu kepada beliau.”Aisyah berkata, “ketika mulai tampak tanda kegembiraan pada diri Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam,maka beliau benar-benar menunjukkan kegembiraan dan tersenyum. Yang pertama kali beliau ucapkan adalah, “wahai Aisyah, adapun Allah Azza wa Jalla sudah membebaskan dirimu.”Ibuku berkata, “Bangunlah dan hampirilah beliau.”Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menghampiri beliau dan aku tidak memuji kecuali Allah Azza wa Jalla.”
Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha meriwayatkan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan berkata, “Di antara nikmat yang dilimpahkan Allah kepadaku, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal di dalam rumahku dan ketika tiba giliranku di dalam pelukan dadaku. Di samping itu Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Saat itu Abdurrahman masuk ke rumahku sambil memegangi siwak. Aku menyangga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku melihat beliau memandangi siwak itu dan aku tahu betul bahwa beliau menyukai siwak. “Apa aku perlu mengambilnya untuk engkau?” aku bertanya kepada beliau. Maka belaiu memberi isyarat dengan anggukan kepala, mengiyakan. Aku menyerahkan siwak itu kepada beliau, tapi rupanya ia terlalu kasar dank eras. “Apakah aku perlu melenturkannya bagi engkau?” tanyaku kepada beliau. Beliau memberi isyarat dengan anggukan kepala, mengiyakan. Maka aku pun melenturkannya. Sementara itu di hadapan belaiu ada kantong dari kulit atau ceret yang di dalamnya ada air. beliau memasukkan tangan ke dalam air lalu mengusapkannya ke muka seraya bersabda, “La ilaha illallah. Sesungguhnya kematian itu sakarat.” Kemudian beliau menegakkan tangannya dan bersabda, “Di Ar-Rafiqul-A’la.” Hingga akhirnya ajal belaiu tiba dan tangan beliau condong terkulai.” ((H.R. Al-Bukhari).
“Kalau mimpimu itu mimpi yang benar, berarti rumahmu akan dikuburkan penduduk bumi yang paling baik.” Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat, Abu Bakar berkata kepada Aisyah, “Inilah salah satu rembulanmu dan inilah yang paling baik. ” di rumah Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha juga dikuburkan Abu bakar dan Umar Rhadhiyallahu ‘Anhuma. Jadi komplit sudah tiga rembulan seperti mimpinya.
Jumat, 04 November 2011
FATHIMAH AZ-ZAHRA RHADHIYALLAHU 'ANHA
Ali bin Abu Thalib menuturkan kisah pernikahan mereka secara rinci. Beliau berkata,
“Fathimah pernah dilamar seseorang, yang disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Lalu maula-ku berkata kepadaku, ‘Apakah engkau sudah tahu bahwa Fathimah sudah dilamar?’, ‘Belum’, jawabku.” ‘Dia sudah dilamar. Lalu apa yang menghalangimu untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, supaya dia menikahkanmu dengan Fathimah?’. ‘Aku tidak punya apa-apa untuk menikah dengannya’, jawabku. ‘Jika engkau menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau pasti akan menikahkanmu,’ kata maula-ku. Ali menuturkan, ‘Dia terus-menerus membujukku, hingga akhirnya aku memberanikan diri menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tapi setelah aku duduk di hadapan beliau, ternyata aku bungkam. Demi Allah, aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun karena sungkan dan takut.’ ‘Apa yang mendorongmu dating ke sini? Apakah engkau mempunyai keperluan?’ Tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Aku hanya bungkam, tidak mampu bicara. ‘Boleh jadi engkau datang untuk melamar Fathimah,’ sabda beliau. ‘Benar’ jawabku. ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu sebagai mahar baginya?’ Tanya beliau. ‘Tidak, demi Allah wahai Rasulullah,’ jawabku. ‘Apa yang engkau lakukan terhadap baju besi yang dulu pernah kuberikan kepadamu untuk perangkat perang?’ Tanya beliau. ‘Aku masih menyimpannya.’ Demi yang diriku ada di tangan-Nya, itu hanyalah hasil kerajinan Hatham bin Muharib (pandai besi pembuat baju besi) yang nilainya hanya empat dirham,’ kataku.
Beliau bersabda, ‘Aku menikahkanmu dengan Fathimah. Kirimlah utusan untuk mengambil baju besi itu dan berikan ia sebagai maskawin untuk menghalalkan dirinya.’ Lalu beliau bersabda, ‘Baju besi itu benar-benar merupakan maskawin bagi Fathimah putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.’
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menemui putrinya seraya bersabda, ‘Sesungguhnya Ali berhasrat terhadap dirimu.’
Fathimah hanya diam saja. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menikahkan mereka berdua. Usia Fathimah pada saat itu delapan belas tahun sedangkan Ali berusia dua puluh dua tahun.
Rabu, 02 November 2011
Minggu, 30 Oktober 2011
AL-HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB Rhadhiyallahu ‘Anhu
Sa’ad meriwayatkan dari Imran bin Sulaiman dia berkata: Al-Hasan dan Al-Husein adalah dua nama-nama penghuni Surga, dan tidak ada seorang Arab pun yang memakai nama tersebut pada masa jahiliyah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas dia berkata: “Tidak ada seorangpun yang amat mirip dengan Rasulullah dari pada al-Hasan bin Ali.”
Saya melihat Rasulullah meletakkan al-Hasan bin Ali di atas pundaknya, seraya berkata, “Ya Allah, saya mencintainya maka cintailah dia.”
Saya mendengar Rasulullah berada di atas mimbar dan al-Hasan berada di sampingnya, kadang-kadang dia melihat kepada yang hadir dan kadang-kadang melihat kepada al-Hasan seraya berkata, “Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid (tuan), semoga Allah akan mendamaikan dengannya dua kelompok kaum Muslimin yang bertikai.”
al-Hasan dan al-Husein adalah rayhanahku (bunga) di dunia.
“Al-Hasan dan al-Husein adalah penghulu pemuda di Surga.”
“Saya melihat Rasulullah, sedangkan al-Hasan dan al-Husein ada di atas dua pahanya, dia berkata, “Ini adalah dua cucuku dari anak putriku. Ya Allah, sesungguhnya saya mencintai keduanya, maka cintailah mereka dan cintailah orang-orang yang mencintai mereka.”
Orang yang paling mirip dengan Rasulullah dan paling disenangi olehnya dari kalangan keluarganya adalah al-Hasan. Saya melihat dia datang dan Rasulullah sedang bersujud lalu al-Hasan naik ke punggungnya. Rasulullah tidak menurunkannya hingga dia sendiri yang turun. Sebagaimana saya juga melihat Rasulullah sedang ruku’, maka dia masuk diselangkangan Rasulullah dan keluar dari bagian yang lain.
Tidak ada seorangpun yang berbicara di hadapanku yang aku inginkan agar dia tidak berhenti bicara kecuali al-Hasan bin Ali.
Ketika Marwan menjadi gubernur, dia seringkali mencaci maki Ali dalam setiap khutbah Jum’atnya, sedangkan al-Hasan mendengar apa yang Marwan katakan, namun dia tidak pernah membalasnya. Kemudian Marwan mengirim seorang laki-laki dan mengatakan kepadanya, “Atas nama Ali dan namamu, sesungguhnya saya tidak menganggapmu kecuali seekor keledai yang jika dikatakan padanya, siapa ayahmu? Dia menjawab, ibuku adalah seekor kuda.”
”Kembalilah kepadanya dan katakan padanya: “Saya tidak akan membalas apa yang kamu katakan dan saya tidak akan mencacimu karena perkataanmu. Namun ingatlah perjumpaan kita di hadapan Allah, jika kamu benar maka Allah akan mengganjarmu dengan kebenaran yang kamu katakan dan jika kamu bohong maka sesungguhnya siksa Allah sangatlah pedih.”
“Barangsiapa yang menyandarkan diri kepada apa yang telah Allah pilihkan, maka dia tidak akan pernah mengharapkan apa yang Allah tidak pilihkan baginya. Dan inilah makna dari ridha kepada qadha’ Allah.”
“Wahai orang yang menghinakan kaum Muslimin!.”
“Saya bukanlah orang yang menghinakan kaum mukminin, namun saya tidak suka membunuh kalian lantaran berebut kekuasaan.”
“Sesungguhnya seluruh orang Arab telah berada di bawah telapak tanganku, mereka akan memerangi siapa pun yang saya perangi dan akan berdamai dengan orang yang berdamai denganku. Namun saya biarkan mereka demi mencari keridhaan Allah dan mencegah terjadinya pertumpahan darah di antara sesame umat Muhammad.”
“Dia akan mendamaikan dua golongan kaum Muslimin yang sedang bertikai.”
Al-Hasan ditimpa krisis keuangan. Dia mendapatkan gaji dari setiap tahun sebanyak seratus ribu. Pada suatu tahun Mu’awiyah tidak memberikan bayaran itu kepadanya, maka dia menderita krisis keuangan tersebut. Al-Hasan berkata, “Saya meminta tinta kepada salah seorang sahabat untuk menulis surat kepada Mu’awiyah tentang bagianku, namun saya tidak melakukannya.”
“Bagaimana keadaanmu wahai Hasan?.”
“Saya baik-baik wahai kakekku.” Saya kemudian melaporkan tentang ditundanya bayaran yang seharusnya diberikan kepada saya. Lalu Rasulullah bersabda, “Apakah kau memanggil seseorang agar kamu bias menulis permohonan kepada makhluk sepertimu dan kamu peringatkan tentang bayaranmu?.”
“Ya, wahai Rasulullah, lalu apa sebaiknya yang saya lakukan?.”
“Katakan doa ini, Ya Allah, tanamkan dalam dadaku harapan untukmu, dan putuskanlah harapanku selain-Mu hingga tidak saya gantungkan harapanku kepada selain-Mu. Ya Allah, tanamkanlah dalam dadaku yang saya tidak kuat melakukannya, dan saya tidak mampu menanggungnya dan keinginan yang tidak saya sampai kepadanya, dan belum pernah terlontar pada lidahku apa yang Kau berikan kepada orang-orang terdahulu dan yang belakangan dari keyakinan, maka berikanlah itu kepadaku wahai Tuhan Semesta Alam.”
Demi Allah belum sepekan saya mengucapkan doa ini, ternyata Mu’awiyah mengirim kepada saya uang sebanyak satu juta lima ratus ribu. Lalu saya katakan, “Segala puji bagi Allah yang tidak pernah melupakan orang yang mengingat-Nya, dan tidak pernah mengecewakan orang yang meminta-Nya.”
“Bagaimana keadaanmu wahai Hasan?.”
“Baik-baik saja wahai Rasulullah!” lalu saya beritahukan kepadanya apa yang terjadi. Rasulullah berkata, “Wahai anakku, demikianlah orang yang menggantungkan harapannya kepada Yang Maha Pencipta dan tidak pernah menggantungkan harapannya kepada makhluk-Nya.”
“Murka Allah jauh lebih berat daripada yang saya duga, dan jika saya kabarkan maka dia akan dibunuh karena kematianku, sementara Allah berlepas diri darinya.”
Tatkala kematian menjelang, al-Hasan merasa ketakutan. Lalu al- Husein berkata, “Mengapa kamu demikian takut? Bukankah kamu akan bertemu dengan Rasulullah dan Ali, yang keduanya adalah ayahmu? Dan bukankah kamu akan bertemu dengan Khadijah dan Fatimah yang keduanya adalah ibumu? Dan bertemu al-Qasim, ath-Thahir, Hamzah dan Ja’far yang tak lain adalah pamanmu?.”
“Wahai adikku, sesungguhnya saya akan memasuki perkara dari perkara Allah yang saya belum pernah memasukinya, dan saya akan melihat makhluk yang belum pernah saya lihat sebelumnya.”
“Wahai saudaraku, sesungguhnya ayahmu pernah berminat untuk menjadi khalifah, namun Allah palingkan dia darinya dan Abu Bakarlah yang memangkunya. Lalu dia kembali menginginkannya, namun Allah palingkan darinya dan Dia berikan kepada Umar. Kemudian dia sama sekali tidak ragu bahwa perkara itu akan jatuh ke tangannya saat terjadi musyawarah. Namun kembali dia dipalingkan dan Utsmanlah yang berkuasa. Tatkala Utsman terbunuh Ali dilantik menjadi khalifah. Saat itulah dia banyak mendapat penentangan hingga dia harus menghunus pedang dan khilafah tidak mulus baginya. Demi Allah, Allah tidak akan menggabungkan pada diri kita antara khilafah dan kenabian, maka janganlah sampai saya melihat orang-orang bodoh dari orang-orang Kufah mengusirmu dari negeri mereka.”
“Sesungguhnya saya telah meminta kepada Ummul Mukminin (Aisyah r.a) agar saya bisa dikuburkan bersama Rasulullah, dan dia menyanggupi permintaanku. Maka jika saya mati mintalah itu kembali kepadanya. Saya kira orang-orang itu akan mencegah apa yang akan kamu lakukan. Jika mereka melakukan itu, maka janganlah engkau melakukan perlawanan.”
“Ya, boleh, dengan senang hati.”