Tampilkan postingan dengan label Nasihat Untukku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat Untukku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Agustus 2023

TERJEBAK MACET DI AKHIRAT

Terjebak macet, siapa yang mau? Jenuh, gerah, bosan, pengap dan bising, itu sebagian alasannya. Terlebih bila berada di dalam sebuah kendaraan yang tidak layak pakai dan dalam waktu yang lama pula. 

Pendek kata, “macet” telah menjadi suatu momok yang menakutkan. Segala cara dilakukan, baik oleh pribadi maupun institusi, untuk menghindari atau mengurai kemacetan. 

Mencari jalur alternatif, menentukan waktu yang tepat untuk bepergian, memilih kendaraan yang nyaman dan full fasilitas guna membunuh kejenuhan bilamana harus terjebak kemacetan, dan sekian banyak usaha lainnya.

Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa kemacetan itu bukan hanya terjadi di dunia? 

Ada kemacetan lain yang jauh lebih mengerikan, yakni di akhirat. Lalu apa pula yang sudah kita persiapkan agar tidak terjebak di dalam kemacetan tersebut?

Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam mengingatkan:

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia manfaatkan, tentang ilmunya apa yang sudah diamalkan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia nafkahkan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia pergunakan”.
(HR. Tirmidzy dari Abu Barzah al-Aslamy radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan sahih oleh Tirmidzy)

Empat jenis pertanggungjawaban di atas inilah yang akan merintangi jalan seorang hamba di akhirat. Umur, ilmu, harta dan tubuh.

1. Umur yang Allah berikan kepada kita di dunia ini, lebih sering kita isi dengan sesuatu yang diridhai-Nya, atau justru sebaliknya?

2. Ilmu yang kita ketahui, seberapa persen yang sudah kita amalkan?

3. Harta  yang kita punyai, didapatkan dengan cara seperti apa? Lalu digunakan untuk apa? Pertanyaan dobel inilah yang akan diajukan pada kita kelak, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas harta yang Allah rezekikan pada kita.

4. Tubuh yang kita miliki, lebih banyak kita pergunakan untuk apa? Untuk menjalankan ketaatan kepada Allah kah? Atau untuk berbuat maksiat kepada-Nya?

Ketika seluruh karunia di atas bisa kita pertanggungjawabkan dengan baik, saat itulah perjalanan kita berikutnya di alam akhirat akan lancar. 

Namun, bila justru yang terjadi adalah sebaliknya, maka bersiaplah untuk terjebak macet di akhirat! Kedua kaki ini akan terpancang kaku! Na’udzubillah min dzalik…

Berhasil atau tidaknya kita melewati rintangan ini, tergantung taufik dari Allah ta’ala. Juga sejauh mana persiapan kita di dunia ini untuk menghadapi hari yang maha dahsyat. Selamat bersiap-siap menghadapi hari itu!

✍ Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA


Senin, 31 Juli 2023

MUSIBAH TERBESAR

Imam Ibnul Jauzy berkata, 

“Musibah terbesar adalah keridhaan seseorang terhadap dirinya dan merasa cukup dan puas dengan ilmu yang ia miliki, yang demikian adalah bencana yang menimpa banyak orang.”

(Shaidul Khaatir hlm. 470)

Seorang tabi'in mulia Ibrohim Adham satu hari berjalan di pasar lalu orang-orang mengerumuninya seraya bertanya kepadanya : 

Hai Abu Ishaq, mengapa doa kami tidak dikabulkan ? 

Ia menjawab : Karena kalian mematikan hati dengan sepuluh sebab : 

Pertama : Kalian mengetahui hak Alloh namun tidak menunaikan hakNya. (Ibadah).

Kedua : Kalian mengklaim mencintai Rosululloh صلى الله عليه وسلم kemudian kalian tinggalkan Sunnahnya.

Ketiga : Kalian membaca Alquran dan tidak mengamalkannya.

Keempat : Kalian makan kenikmatan Alloh dan tidak bersyukur.

Kelima : Kalian katakan syetan musuh kalian namun kalian mengikutinya.

Keenam : Kalian katakan sorga benar dan kalian tidak beramal.

Ketujuh : Kalian katakan neraka benar dan kalian tidak lari darinya. (Amalan yang menjerumuskan ke dalamnya).

Kedelapan : Kalian katakan kematian benar dan kalian tidak mempersiapkan kematian.

Kesembilan : Kalian bangun tidur dan sibuk dengan aib manusia lalai dari aib kalian.

Kesepuluh : Kalian mengubur mayat dan tidak mengambil pelajaran.

(Jami' Bayan Al Ilmi wa Fadhlihi, 2/122).

Jumat, 28 Juli 2023

Ia Menasehati-mu Karena Pernah Terjatuh pada posisimu

Seorang sahabat yang menasehati,

Bukan berarti ia cerewet
Bukan berarti ia suka ikut campur urusan-mu.

Bisa jadi ia pernah berada di posisi-mu dahulu.

Terjatuh dan terjerembab lalu menyesal.

Ia ingin engkau tidak terjatuh juga

Dulu ia bangga memamerkan auratnya.

Tapi ia sadar bahwa ia dipandang dengan nafsu bukan dipandang dengan menunduk menghormati.

Jadilah laki-laki yang medekati hanya karena nafsu.

Cantik hilang, hilang juga cinta yang diumbar.

Karenanya ia sangat cerewet padamu menesahati.

Dahulu ia senang menikmati dan mengumpulkan dunia.

Menjadi budak harta dan sombong memamerkan lalu lupa akhirat.

Tapi ia sadar bahwa mencari dunia tidak akan ada garis finishnya. Karena garis finishnya adalah qana'ah. 

Kini ia sadar setelah mulai menua. Tidak bisa menikmati harta yang sudah tumpuk. Karena sakit-sakitan dan badan melemah. 

Karenanya ia cerewet agar engkau infakkan harta-mu. Membantu sesama dan menolong agama Allah.

Itulah sahabat.

Bukan sahabat namanya jika tidak pernah menegur. 

Tidak pernah memperbaiki kesalahan temannya. 

Sebuah syair Arab,

ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪّﻗﻚ

Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka

“Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu”

Jika engaku memiliki sahabat seperti ini. Maka genggam tanggannya. Jangan pernah lepaskan.

Semoga menjadi sahabat dunia akhirat. Saling memberikan syafa'at di akhirat

Imam Syafi'i berkata,

إذا كان لك صديق يعينك على الطاعة فشد يديك به فإن اتخاذ الصديق صعب ومفارقته سهل

"Jika engkau memiliki sahabat yang membantumu dalam ketaatan maka genggam erat ia, karena menjadikan teman itu susah dan melepasnya sangat mudah." (Hilyah al-Auliya' 4/101)

Penyusun: Raehanul Bahraen


Kamis, 27 Juli 2023

SEMUA AKAN BERAKHIR

Kemaren kita pernah memiliki baju kesayangan, yang selalu kita cuci bersih, kita lipat, kita beri pewangi, namun akhirnya kusam, robek, sudah tak muat lagi, dan terbuang di tempat sampah

Kemaren kita pernah memiliki sepatu, jam tangan, tas dan barang² branded lainnya, yang selalu kita jaga, kita simpan, kita perhatikan, namun akhirnya rusak dan terbuang di tempat sampah

Kemaren kita pernah memiliki berbagai makanan lezat, nikmat dan menggugah selera. namun akhirnya menjadi kotoran, membusuk atau tak layak lagi dimakan dan terbuang di tempat sampah

Kemaren kita pernah memiliki kendaraan mewah seharga puluhan juta, yang selalu kita banggakan, kita rawat, kita jaga, namun akhirnya rusak, tak terpakai, menjadi rongsokan dan terbuang di tempat sampah.

Begitulah dunia..

Seindah apapun kejadian suatu hari nanti ia tetap akan menjadi kenangan.
Dan semegah apapun kehidupan suatu hari nanti ia tetap akan kita tinggalkan.

Semua serba sementara.
Semua pasti akan sirna.
Dan semua akan tetap binasa.

Maka hari ini jika engkau ingin melihat keadaan dunia dengan segala kesenangan dan kemewahannya.

Yang kemarin kita rebutkan.
Yang kemarin kita banggakan.

Maka datanglah ketempat sampah.

Lihat dan renungkan, bagaimana semua berakhir dan menjadi tak berarti lagi.

Lantas masihkah kita lalai dalam beribadah demi mendapatkan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat yang abadi ?