Rabu, 02 November 2011

UMAR BIN ABDUL AZIZ Rhadhiyallahu ‘Anhu


Dia bernama Umar bin Abdul Aziz bin Marwan. Seorang khalifah yang shalih. Sering dipanggil dengan sebutan abu Hafsh. Disepakati sebagai Khalifah Rasyidin kelima.
 
Umar dilahirkan di Hulwan, sebuah desa di Mesir. Ayahnya, Marwan pernah menjadi gubernur di wilayah itu. Dia dilahirkan pada tahun 61 H. Ibunya bernama Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin al-Khattab. 

Di wajah Umar terdapat bekas luka karena tendangan seekor binatang pada saat dia masih kanak-kanak. Umar bin al-Khattab pernah berkata, 
“Akan ada dari keturunanku seorang anak yang diwajahnya ada bekas luka. Dia kan memenuhi dunia dengan keadilan.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Tarikh-nya).

Umar bin Abdul Aziz telah berusaha menghafal al-Qur’an sejak kecil. Kemudian ayahnya mengirimnya ke Madinah untuk belajar. Umar bin Abdul Aziz banyak berguru kepada Ubaidillah bin Abdullah. 

Zaid bin Aslam meriwayatkan dari Anas, dia berkata: Saya tidak pernah melakukan shalat di belakang seorang imam pun yang hamper serupa shalatnya dengan shalat Rasulullah dari pada anak muda ini (maksudnya Umar bin Abdul Aziz yang saat itu menjadi gubernur Madinah).

Tatkala ayahnya meninggal, Abdul Malik memintanya untuk datang ke Damaskus. Lalu dia dinikahkan dengan anaknya yang bernama Fathimah.

Tatkala al-Walid menjadi khalifah, dia diangkat sebagai gubernur di Madinah. Dia menjadi gubernur Madinah pada tahun 86 H hingga tahun 93 H, kemudian dia dipecat. Akhirnya dia kembali ke Damaskus.

Dia dilantik sebagai khalifah pada bulan Shafar tahun 99 H. tatkala dia dilantik sebagai khalifah dia terkulai lemas dan berkata, 
”Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah satu kali pun.”
KHALIFAH YANG ADIL

Dari al-Laits  dia berkata, “Tatkala Umar bin Abdul Aziz berkuasa dia mulai melakukan perbaikan dari kalangan kelurga dan familinya."



Jisr al-Qashshab berkata, saya melihat serigala dan kambing hidup damai di masa pemerintahan Umar bin abdul Aziz. Lalu saya katakan, “Subhanallah! Serigala sama sekali tidak berbahaya berada di tengah-tengah kambing? Penggembala berkata, jika kepalanya baik, maka semua jasad pun tidak akan menderita sakit apa-apa.”

Al-Jarrah bin Abdullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz sebagai berikut, 

“Sesungguhnya orang-orang Khurasan adalah orang-orang yang bandel dan sulit untuk diatur kecuali dengan pedang dan cemeti. Jika Amirul Mukminin mengijinkan aku untuk memerintah mereka dengan pedang dan cemeti, maka akan saya lakukan.”
 Umar membalas surat tersebut sebagai  berikut,
 “Amma Ba’du, telah sampai surat yang kau kirimkan kepadaku yang menyebutkan bahwa penduduk Khurasan tidak mungkin diatur kecuali dengan pedang dan cemeti. Namun saya yakin bahwa apa yang kamu katakan itu adalah bohong. Mereka pasti bias diatur dan diperbaiki dengan keadilan dan kebenaran. Maka sebarkanlah itu di antara mereka. Wassalam.”
 Beberapa orang pegawai Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepadanya,
 
“Sesunggunya kota telah rusak. Jika Amirul Mukminin memberikan  kepada kami sejumlah uang agar kami memperbaiki kota ini, maka kami akan melakukannya.”
Umar membalas surat tersebut,
“Jika kamu membaca surat ini, maka jagalah kota itu dengan cara kau berlaku adil dan bersihkanlah jalan-jalannya dari kezhaliman. Karena itulah sebenarbenar perbaikan. Wassalam.

KHALIFAH YANG SEDERHANA 

Al-Hakam bin Umar berkata, saya menyaksikan orang-orang yang datang dengan kendaraan khusus kepada Umar bin Abdul Aziz saat dia diangkat menjadi khalifah. Namun beliau berkata,
“Kirim kendaraan-kendaraan itu ke pasar dan juallah kemudian hasil penjualannya simpan di Baitu Mal. Saya cukup naik kendaraanku ini saja.”
Dari Umar bin Muhajir dia berkata bahwa tatkala Umar dibaiat sebagai khalifah dia berdiri di hadapan khalayak, seraya memuji Allah dan berkata,
“Wahai hadirin sekalian, sesungguhnya tidak ada satu kitab Suci pun setelah al-Qur’an dan tidak ada nabi setelah Muhammad. Ketahuilah saya bukan pembuat undang-undang. Saya hanyalah orang yang melaksanakan dan bukan pula orang yang membuat ajaran-ajaran baru, saya hanyalah sebagai pengikut. Saya bukan orang yang terbaik di antara kalian, justru saya adalah orang yang memikul beban demikian berat. Ketahuilah bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk apabila dia berada dalam bermaksiat.”   
Umar bin abdul Aziz berkata kepada istrinya Fhatimah binti Abdul Malik(dia memiliki perhiasan berupa mutiara yang sangat indah), 
“Pilihlah olehmu, kau kembalikan harta perhiasan ini ke baitul mal atau kau izinkan saya meninggalkanmu untuk selamanya. Sebab saya sangat benci jika saya, kamu dan perhiasan ini berada dalam satu rumah.” Istrinya menjawab “Saya memilih kamu daripada mutiara ini, bahkan jika lebih dari itupun saya tetap memilih kamu.” Kemudian dia memerintahkan salah seorang untuk membawa perhiasan istrinya ke Baitul Mal.
Azhar berkata, Saya melihat Umar bin abdul Azizi berkhutbah dengan baju penuh tambalan.

Yunus bin Abi Syaib berkata, saya pernah melihat Umar bin Abdul Aziz saat sebelum menjadi khalifah. Saya melihat tali celananya masuk ke dalam perutnya yang besar. Namun ketika dia menjadi khalifah, dia sangat kurus, bahkan jika saya menghitung jumlah tulang rusuknya tanpa menyentuhnya, maka pastilah saya bisa melakukannya.

Anak Umar bin Abdul Aziz ditanya,
“Berapa jumlah kekayaan ayahmu saat diserahkan padanya kendali khalifah?” dia menjawab, “Empat puluh ribu dinar.” Dia ditanya lagi, “Lalu berapa kekayaan ayahmu saat dia meninggal dunia?” dia kembali menjawab, “empat ratus dinar. Itu pun kalau belum berkurang.”
Al-Walid bin Abi as-Saib berkata, saya tidak pernah melihat orang yang lebih takut kepada Allah dari pada Umar bin Abdul Aziz.

Sa’id bin suwaid berkata, Umar bin Abdul Aziz melakukan shalat Jum’at di masjid bersama orang banyak dengan baju yang bertambal di sana-sini. Salah seorang yang hadir berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadamu kenikmatan. Mengapa kau tidak pergunakan walau sekedar untuk berpakaian?.” Umar bin Abdul Aziz tertunduk sebentar lalu dia mengangkat kepalanya seraya berkata, “Sesungguhnya berlaku sederhana yang paling baik adalah pada saat kita kaya dan sebaik-baik pengampunan adalah saat kita berada dalam posisi kuat.”

Fathimah istri Umar bin Abdul Aziz berkata bahwa dia pernah menemui suaminya saat dia berada di tempat shalatnya dengan air mata berlinang memenuhi janggutnya, dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin segala sesuatu itu adalah baru adanya.” Dia menjawab, “wahai Fathimah, sesungguhnya saya memikul beban umat Muhammad dari yang hitam sampai yang merah. Dan saya memikirkan persoalan orang-orang fakir yang kelaparan, orang yang sakit dan yang tersia-sia, orang yang tidak sanggup berpakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan terintimidasi, yang terasing dan yang ditawan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, namun hartanya sedikit dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Saya sadar dan tahu bahwa Allah akan menanyakan kelak di hari kiamat. Saya khawatir, saat itu saya tidak memiliki alasan buat Tuhanku.”

‘Amr bin Muhajir berkata, Umar bin Abdul Aziz akan menyalakan lampu milik umum jika pekerjaannya berhubungan dengan kebutuhan kaum Muslimin. Ketika urusan kaum Muslimin selesai, maka dia akan memadamkannya dan segera menyalakan lentera miliknya sendiri.

‘Amr bin Muhajir berkata, suatu saat Umar bin Abdul Aziz pernah menginginkan apel, kemudian salah seorang anggota keluarganya memberinya apel. Lalu dia berkata, “Alangkah harum baunya! Wahai pelayan bawa dia kembali kepada orang yang memberikannya untukku, dan sampaikan salam saya kepadanya. Serta jangan lupa katakan kepadanya, sesungguhnya hadiah yang kamu berikan telah sampai kepada kami sebagimana yang kami inginkan.” Saya katakan kepadanya, “wahai Amirul Mukminin orang yang memberi hadiah itu adalah salah seorang yang mempunyai hubungan kerabat yang sangat dekat denganmu. Bukankah Rasulullah juga menerima hadiah yang diberikan orang lain kepadanya?.” Umar bin Abdul Aziz berkata, “Celaka kamu, sesungguhnya hadiah yang diberikan kepada Rasulullah adalah benar-benar hadiah, sedangkan yang diberikan kepadaku ini adalah sogok.”

NASEHAT-NASEHAT UMAR BIN ABDUL AZIZ

“Sesungguhnya yang mencegahku untuk banyak bicara adalah karena rasa khawatirku akan membanggakan diri.”

“Wahai manusia, pebaikilah perbuatan-perbuatan kalian yang rahasia, maka yang terang-terangan akan menjadi baik. Berbuatlah untuk akhiratmu, maka Allah akan mencukupkan kebutuhan duniamu. Ketahuilah bahwa seorang lelaki antara dia dan Adam tidak memiliki seorang ayah yang melindunginya dari kematian saat kematian itu dating. Wassalamu ‘alaikum.”

“Ambillah pendapat dari orang-orang yang jujur yang dating sebelum kamu, dan janganlah kamu mengambil pendapat orang yang berseberangan dengan mereka. Sebab orang-orang jujur sebelum kamu itu lebih baik dan lebih tahu darimu.”

Ada seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, “Wahai Amirul Mukminin, berilah saya nasehat!,” Umar  berkata, “Saya nasehatkan kepadamu agar bertaqwa kepada Allah dan hendaknya kamu mendahulukan Allah atas semua kepentinganmu, niscaya Allah menjadikan bebanmu tersa ringan, dan kamu akan mendapat pertolongan dari-Nya.”

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Saya tidak pernah berdusta sejak saya tahu bahwa dusta itu akan mendatangkan bencana bagi pelakunya.”

“Banyaklah mengingat mati, jika kamu berada dalam kesempitan hidup, maka kamu akan merasa lapang dengan mengingatnya. Dan jika kamu berada dalam kelapangan hidup, maka kamu akan merasa sempit dengan mengingatnya.”

“Jika kamu mendengar seorang Muslim mengatakan satu kata, maka janganlah kamu membawa kata-kata itu kepada penafsiran yang jelek selagi kamu mendapat celah untuk menafsirkannya kepada yang baik.”

“Alangkah beruntung orang yang terhindar dari riya’, kemarahan dan rasa tamak.”

“Wahai Manusia hendaknya kalian takut kepada Allah, dan mintalah dengan sopan. Sebab kalau rezeki kalian ada di puncak gunung atau di perut bumi, niscaya dia akan dating kepadamu!.”

 “Segala puji bagi Allah, kami memuji, minta pertolongan kepada-Nya, kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan nafsu angkara kami dan dari kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak akan ada orang yang mampu memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah mendapat jalan yang lurus dan barangsiapa yang melakukan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah benar-benar tersesat.”

“Ketahuilah apa yang dilakukan Rasulullah dan kedua sahabatnya, maka itu adalah agama yang kami ambil darinya dan kami berhenti sampai batas itu. Sedangkan hal-hal yang disunnahkan oleh selain mereka, maka kami akan melihat terlebih dahulu dan menangguhkannya.”

Nasehat Umar bin Abdul Aziz terhadap pejabat yang baru beliau lantik, “Terimalah orang baik dari mereka dan ampunilah orang yang jahatnya. Janganlah kamu berada di bagian paling depan di kalangan mereka sehingga kamu dibunuh, jangan pula menjadi orang yang berdiri di bagian paling belakang sehingga kamu akan gagal. Jadilah ditengah-tengah di mana tempatmu kelihatan dan suaramu bias di dengar.”

Setiap kali Umar bin Abdul Aziz mendiktekan kata-kata kepada juru tulisnya, maka dia akan selalu mengatakan, “Ya, Allah aku berlindung kepada Allah dari kejahatan lisanku.”

“Barangsiapa yang menganggap bahwa ucapannya adalah bagian dari amalnya, maka dia akan sedikit bicaranya.”

KEMATIAN UMAR BIN ABDUL AZIZ

Umar bin Abdul Aziz wafat di Dir Sim’an di sebuah kota di Himsh. Pada tanggal 20 Rajab tahun 101 H. pada saat wafatnya ia berusia 39 tahun 6 bulan. 

Dia menjadi khalifah selama dua tahun lima bulan sebagaimana masa kekhalifahan Abu bakar ash-shiddiq. Di masa pemerintahannya dia telah memenuhi dunia dengan keadilan, mengembalikan semua harta yang diambil dengn cara yang tidak halal dan kejam. 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada Umar bin Abdul Aziz. 
Semoga Allah menerima kebaikan-kebaikan yang telah dia ukir dengan tinta emas dalam sejarah dunia Islam.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. 
Aamiin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar