Tampilkan postingan dengan label Nasihat Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Oktober 2023

JANGANLAH KAMU BERTEMAN, KECUALI ......

Sahabat Rosululloh yang mulia, Ibnu Mas'ud rodhiyallohu anhu pernah berkata :

"Janganlah kamu berteman, kecuali bersama dengan orang yang membantu/menolongmu untuk (selalu) mengingat Alloh."

[ Kitab AZ-ZUHUD (1/126), karya Al-Imam Abu Dawud rohimahulloh) 

Catatan :

1. Pembahasan masalah ini, sudah sering disampaikan. 

Dan benarlah apa yang disampaikan Sahabat Nabi yang mulia tersebut di atas. 

Ya, janganlah kita memilih sembarang teman, karena siapa pun teman kita, pasti akan memberikan pengaruh kepada kita, baik pengaruh yang baiknya ataupun yang jeleknya.

2. Dalil-dalil yang menunjukkan hal itu pun sangat banyaknya. 

Diantaranya adalah apa yang difirmankan oleh Alloh ta'ala di dalam Al-Qur'an :

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

"Teman-teman akrab pada hari itu (yakni di hari kiamat nanti), sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa." [QS Az-Zukhruf : 67]

Yakni, teman-teman akrab/dekat kita ketika di dunia, terkadang di akhirat nanti justru akan menjadi musuh, kecuali orang-orang yang bertakwa, yakni kecuali jika pertemanan/persahabatan yang kita bangun di dunia ini dasarnya/pondasinya adalah ketakwaan, bukan semata-mata karena perkara dunia, wallohu a'lam bis showab. 

Demikian pula, Nabi shollallahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang tukang pandai besi.

Adapun dari penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap akan mendapatkan bau harum darinya.

Sedangkan dari tukang pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau akan tetap mendapatkan bau busuk dari asapnya yang tak sedap." (HR. Imam Al-Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Dalam hadits lainnya, Nabi shollallahu alaihi wa sallam juga bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

"Seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Karena itu hendaknya salah seorang dari kalian melihat/memperhatikan, siapakah yang dia jadikan sebagai teman dekatnya." 

(HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi , dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam *Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

3. Demikianlah. Dalil-dalil itu semua menunjukkan, betapa seorang muslim itu sepantasnya selalu memperhatikan siapa teman-teman dekatnya. 

Termasuk dalam hal ini adalah : Perhatikanlah, siapakah (calon) istri atau suami kita, guru-guru agama kita dan anak-anak kita, juga teman-teman bermain kita, siapakah teman duduk/ngobrol kita, dan sebagainya.

Jadi, janganlah kita berteman dengan itu semua, kecuali dengan mereka yang selalu mengingatkan kita kepada Alloh dan kehidupan di akhirat nanti.

Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala memilihkan dan mendekatkan kepada kita, teman-teman dekat atau sahabat-sahabat dekat yang sholih dan sholihah, yang selalu mengingatkan kita kepada Robb kita dan hari akhirat. 

Kami (penulis) juga berharap, semoga kami bisa menjadi teman dan sahabat yang baik untuk kaum Muslimin semuanya, yang biasa membaca dan mendapatkan tulisan pada Fawaid yang kami sampaikan pada setiap pagi hari seperti ini ......

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Selasa pagi yg sejuk, 17 Robi'ul Awal 1445 H / 3 Oktober 2023 M

✍  Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby


Senin, 25 September 2023

TANDA TAKUT

Abu Laits As Samarqondi rohimahullah berkata,

Tanda takut kepada Allah itu akan tampak pada tujuh perkara :

1. Lisannya.
Ia tak berani berdusta, berghibah, mengadu domba. ia selalu berdzikir kepada Allah.

2. Hatinya.
Rasa takut mengeluarkan kedengkian dan permusuhan dari hati. Dan penyakit penyakit hati lainnya.

3. Matanya.
Ia tak mau melihat yang diharamkan oleh Allah.

4. Perutnya.
Ia tak memasukkan ke dalam perutnya sesuatu yang haram.

5.Tangannya.
Ia tak menggunakannya untuk yang haram tapi ia gunakan untuk ketaatan.

6. Kakinya. 
Ia tak melangkahkan kakinya ke tempat maksiat. Namun ia langkahkan untuk ketaatan.

7.Ketaatannya.
Ia jadikan ketaatannya benar benar ikhlas mengharapkan wajah-Nya semata.."

📒(Tanbihul Ghofilin hal. 256)

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kamis, 07 September 2023

KEUTAMAAN DZIKIR

Dzikir memiliki banyak keutamaan yang Agung, sebagimana banyak disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi. Di antaranya:

1. Dzikir lebih besar (keutamaannya) dari segala sesuatu. Allah Ta'ala berfirman: 

 وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ 

*Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain).* (QS. Al-Ankabut: 45).

2. Allah Ta'ala ingat kepada orang yang mengingat-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ

*Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.* (QS. Al-Baqarah: 152).

Dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Allah Ta'ala berfirman:

 أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي، فإنْ ذَكَرَنِي في نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي، وإنْ ذَكَرَنِي في مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ في مَلَإٍ خَيْرٍ منهمْ، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ بشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِراعًا، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِراعًا تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ باعًا، وإنْ أتانِي يَمْشِي أتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

*Aku (Allah) ada pada perasangkaan hamba Ku pada Ku, dan Aku akan selalu bersamanya saat ia mengingat Ku, jika ia mengingat Ku dalam kesendiriannya maka Aku pun akan mengingatnya dalam kesendirian Ku, dan jika ia mengingatku dalam keramaian maka Aku pun mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari keramaian mereka (yiatu di keramaian alam langit), jika ia mendekat pada Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat padanya satu lengan, dan jika ia mendekat pada Ku satu lengan Aku oun akan mendekatinya satu pelukan, lalu jika ia mendatangi Ku dengan berjalan maka Aku juga akan mendekatinya dengan cara jalan cepat (setengah berlari).* 

3. Berdzikir itu berarti melaksanakan perintah Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman: 

وَٱذۡكُر رَّبَّكَ فِي نَفۡسِكَ تَضَرُّعٗا وَخِيفَةٗ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ

*Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.* (QS. Al-A'raf: 205).

Dan firman-Nya: 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا. وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا

*Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.* (QS. Al-Ahzab: 41-42).

4. Dzikir merupakan salah satu sebab kebahgiaan baik di dunia maupun di akherat. 

Allah Ta'ala berfirman: 

 وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

*Dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.* (QS. Al-Jumu'ah: 10).

5. Orang yang banyak berdzikir kepada Allah, akan mendapatkan ampunan, dan pahala yang besar di sisi Allah Ta'ala. 

Allah Ta'ala berfirman: 

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا

*Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.* (QS. Al-Ahzab: 35).

6. Dzikir kepada Allah, termasuk amalan yang berat di sisi Allah Ta'ala. 

Dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

*Ada dua kalimat (dzikir) yang ringan diucapkan di lisah, (tapi) berat (besar pahalanya) pada timbangan amal (kebaikan) dan sangat dicintai oleh Ar-Rahman (Allah Ta'ala Yang Maha Luas Rahmat-Nya), (yaitu): Subhaanallahi wabihamdihi, subhaanallahil 'azhiim (maha suci Allah dengan memuji-Nya, dan maha suci Allah yang maha agung).*

7. Dzikir lebih utama dari dunia dan seisinya. 

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

*Sesungguhnya aku membaca subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar) itu lebih aku sukai dari pada terbitnya matahari*

📚 _Dari kitab Jan yu Ats-Tsimâr_

By : Ustadz fuad hamzah baraba, Lc

Jumat, 25 Agustus 2023

PENYAKIT HATI YANG TERSEMBUNYI

Ibnu Rojab rohimahullah berkata:

“Sesungguhnya suul khotimah disebabkan oleh penyakit yang ada di batin seorang hamba yang tidak diketahui oleh manusia..”
(Jami’ul Ulum wal Hikam 1/57)

Terkadang..
Seseorang terlihat soleh di hadapan manusia..
Namun saat sendiri ia memaksiati Allah..

Terkadang..
Seseorang menampilkan amalnya kepada manusia..
Sehingga manusia memujinya..
Sementara hatinya riya berharap pujian manusia..

Ada lagi orang yang ikhlas saat beramal..
Namun tertimpa ujub dan sombong setelah beramal..

Ada lagi yang tertipu dengan banyaknya amal yang ia lakukan..
Lalu ia memandang remeh maksiat dan melakukannya..

Ternyata ajalnya menjemput saat ia bermaksiat..
Itu semua penyakit batin yang membinasakan..

✍🏻 Ustadz Abu Yahya حفظه الله تعالى

Adab Membaca Al - Qur'an

Adab Membaca Al - Qur'an

عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ كِتَابًا فَكَانَ فِيهِ لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

Dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya, “Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci”. (HR. Daruquthni)

Beberapa Pelajaran yang terdapat dalam Hadits :

Beberapa adab penting yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Qur’an yaitu :

1️⃣ Hendaklah yang membaca Al-Qur’an berniat ikhlas, mengharapkan ridha Allah, bukan berniat ingin cari dunia atau cari pujian.

2️⃣ Disunnahkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan mulut yang bersih. Bau mulut tersebut bisa dibersihkan dengan siwak atau bahan semisalnya.

3️⃣ Disunnahkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci. Namun jika membacanya dalam keadaan berhadats dibolehkan berdasarkan kesepatakan para ulama.

Catatan: Ini berkaitan dengan masalah membaca, namun untuk menyentuh Al-Qur’an dipersyaratkan harus suci. Dalil yang mendukung hal ini adalah:

عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ كِتَابًا فَكَانَ فِيهِ لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

Dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya, “Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci”. (HR. Daruquthni no. 449. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 122).

4️⃣ Mengambil tempat yang bersih untuk membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu, para ulama sangat anjurkan membaca Al-Qur’an di masjid. Di samping masjid adalah tempat yang bersih dan dimuliakan, juga ketika itu dapat meraih fadhilah i’tikaf.

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Hendaklah setiap orang yang duduk di masjid berniat i’tikaf baik untuk waktu yang lama atau hanya sesaat. Bahkan sudah sepatutnya sejak masuk masjid tersebut sudah berniat untuk i’tikaf. Adab seperti ini sudah sepatutnya diperhatikan dan disebarkan, apalagi pada anak-anak dan orang awam (yang belum paham). Karena mengamalkan seperti itu sudah semakin langka.” (At-Tibyan, hlm. 83).

5️⃣ Menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an. Duduk ketika itu dalam keadaan sakinah dan penuh ketenangan.

6️⃣ Memulai membaca Al-Qur’an dengan membaca ta’awudz. Bacaan ta’awudz menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah “a’udzu billahi minasy syaithonir rajiim”. Membaca ta’awudz ini dihukumi sunnah, bukan wajib.

Perintah untuk membaca ta’awudz di sini disebutkan dalam ayat,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

7️⃣ Membaca “bismillahir rahmanir rahim” di setiap awal surat selain surat Bara’ah (surat At-Taubah).

Catatan: Memulai pertengahan surat cukup dengan ta’awudz tanpa bismillahir rahmanir rahim.

8️⃣ Hendaknya ketika membaca Al-Qur’an dalam keadaan khusyu’ dan berusaha untuk mentadabbur (merenungkan) setiap ayat yang dibaca.

Perintah untuk mentadabburi Al-Qur’an disebutkan dalam ayat,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Hadits yang membicarakan tentang perintah untuk tadabbur banyak sekali. Perkataan ulama salaf pun amat banyak tentang anjuran tersebut. Ada cerita bahwa sekelompok ulama teladan (ulama salaf) yang hanya membaca satu ayat yang terus diulang-ulang dan direnungkan di waktu malam hingga datang Shubuh. Bahkan ada yang membaca Al-Qur’an karena saking mentadabburinya hingga pingsan. Lebih dari itu, ada di antara ulama yang sampai meninggal dunia ketika mentadabburi Al-Qur’an.” (At-Tibyan, hlm. 86)

Diceritakan oleh Imam Nawawi, dari Bahz bin Hakim, bahwasanya Zararah bin Aufa, seorang ulama terkemuka di kalangan tabi’in, ia pernah menjadi imam untuk mereka ketika shalat Shubuh. Zararah membaca surat hingga sampai pada ayat,

فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ (8) فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ (9)

“Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit.” (QS. Al-Mudattsir: 8-9). Ketika itu Zararah tersungkur lantas meninggal dunia. Bahz menyatakan bahwa ia menjadi di antara orang yang memikul jenazahnya. (At-Tibyan, hlm. 87)

✅ Ingat nasihat Ibrahim Al-Khawwash bahwa tombo ati (obat hati) ada lima :

✒️Membaca Al-Qur’an disertai tadabbur (perenungan)

✒️Perut kosong (rajin puasa)

✒️Rajin qiyamul lail (shalat malam)

✒️Merendahkan diri di waktu sahur

✒️Duduk dengan orang-orang shalih.

✅ Adab membaca Al-Qur’an diringkas dari penjelasan Imam Nawawi dalam At-Tibyan, hlm. 80-87.

Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Dalam Ayat lain :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

Demikian, Semoga Bermanfaat. Aamiin

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullahal Adzim li wa lakum. 

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik... 

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

===================

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺑَﻠِّﻐُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻳَﺔً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”
(HR.Bukhari)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮْﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR.Muslim)

Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِۚ ﻭَﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang  yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS.Ali-Imran [3] :104)

UJIAN ATAS KESUNGGUHAN TAUBAT

Awal dari perjalanan taubatmu, engkau akan dapati beberapa dampak menyakitkan atau rasa perih bahkan tak jarang pula engkau temukan luka yang pedih.

Lebih lagi, kamu akan temukan kehidupan yang tambah sempit, seabrek masalah, atau bahkan ujian justru lebih banyak kamu alami.

Namun, inilah yang akan membawamu kepada pintu-pintu kebaikan dan akan memudahkanmu menuju Allah.

Beginilah bentuk ujian dari Allah untuk hamba-Nya. Tujuannya, melihat seberapa jujur batinmu.

Engkau pun akan diuji kembali dengan berbagai maksiat yang menjemput dari berbagai arah dan sisi. Tujuannya yaitu, Allah ingin melihat sejujur apa dirimu untuk bertaubat, dan sekuat apa tekadmu dalam insaf.

Ini merupakan kebenaran firman Allah: 

"Apakah manusia mengira bahwa setelah mereka beriman kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa ada ujian?" 
(Qs. Ankabut: 2)

📚 Zaadul Mudznibin wa Rihlatu Taibiin: hal. 5


Selasa, 22 Agustus 2023

Jadilah Hamba Yang Bersyukur

Di dunia ini engkau akan selalu menemukan kehidupan orang lain yang lebih baik dari kehidupanmu.

Jika engkau kaya maka akan ada yang lebih kaya darimu.
Jika engkau cantik maka akan ada yang lebih cantik darimu.
Jika rumahmu megah maka akan ada yang lebih megah dari rumahmu.
Jika kendaraamu mewah maka akan ada yang lebih mewah dari kendaraanmu.
Dan seterusnya.. seterusnya...

Maka disinilah ada kaedah sederhana bagi seorang muslim agar hidup menjadi tenang dan bahagia, yaitu senantiasa merasa bersyukur atas segala apa yang Allah berikan.

Dalam Surat Adh Dhuha Ayat 11 Allah Ta'ala berfirman:

‎وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaknya engkau nyatakan (dengan bersyukur).

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa, pentingnya membalas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah ﷻ dengan cara bersyukur. Walaupun itu kadang sederhana,

Sebab dengan bersyukur Allah akan menambah nikmat kita.
Sebab dengan bersyukur akan menjadikan kita lebih merasa tenang,
Sebab dengan bersyukur adalah merupakan amalan yang besar pahalanya,
Dan sebab bersyukur menjadikan Allah mencintai dan meninggikan derajat hamba-Nya.

Karena orang yang syukur adalah orang yang benar-benar telah mengumpulkan banyak amalan-amalan hati yang sangat tinggi nilainya.

Ia tidak memiliki rasa hasad dengan nikmat orang lain,
Dan Ia senantiasa berhusnudzon kepada Allah, bahwasanya apa yang Allah tetapkan baginya itulah yang terbaik baginya...

...

Ya Allah, anugerahkanlah kami sifat yang mulia ini. Agar kami menjadi hamba yang senantiasa bersyukur dan qana’ah atas segala karunia Mu.

✍ Habibie Quotes


SIAPA TEMAN YANG BAIK ?

Kapan Kita Di Katakan Telah Mengenal Seseorang ??

Ada seorang laki-laki berkata kepada Umar: "Sesungguhnya si fulan itu orangnya baik".

Umar: "Apakah kamu pernah bersafar bersamanya ?"

Lelaki: "Belum pernah".

Umar: "Apakah kamu pernah bermu'amalah dengannya ?"

Lelaki: "Belum pernah".

Umar: "Apakah kamu pernah memberinya amanah ?"

Lelaki: "Belum pernah".

Umar: "kalau begitu kamu tidak punya ilmu tentangnya. Barangkali kamu hanya melihat dia sholat di masjid".

(Mawa'idz shohabah hal. 65)

Mengapa Umar mempertanyakan 3 perkara itu kepada orang tersebut ?

Karena dengan safar, kita dapat mengetahui karakter dan watak seseorang sesungguhnya.

Sebab safar adalah bagian dari adzab, capek dan melelahkan, maka disaat itu akan tampak watak asli seseorang..

Dengan mu'amalah seperti jual beli dan lainnya, kita dapat mengetahui akhlak seseorang.

Sebab mu'amalah adalah dimana seseorang berurusan dengan harta dan mendapat peluang untuk mencari keutungan, maka disaat itu akan tampak watak asli seseorang.

Dan dengan memberi amanah, kita dapat mengetahui kadar amanah dan agama seseorang.

Sebab amanah adalah merupakan kepercayaan, dimana seseorang apakah akan jujur atau berdusta, bertanggung jawab atau semaunya, menepati janji atau ingkar janji, maka disaat itu akan tampak watak asli seseorang.

Sungguh, merupakan pertanyaan yang cerdas, karena watak asli seseorang biasanya akan muncul ketika menyangkut ketiga hal diatas.

Semoga kita termasuk orang-orang yang peduli, jujur dan amanah.

✍ Habibie Quotes



Sabtu, 19 Agustus 2023

AMAL DITENTUKAN OLEH PENUTUPNYA

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

“Umur ditentukan oleh akhirnya, dan amal ditentukan oleh penutupnya.

Dan siapa yang berbuat buruk di akhir umurnya, maka dia akan berjumpa Rabb-nya dengan bentuk seperti itu.”[Fawaidul Fawaid, halaman 342]

Sehingga jangan terkagum pada amalan kita saat ini. Karena akhir hayat itulah penentunya, apakah benar kita bisa istiqamah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang saleh, yang seandainya ia mati maka ia akan masuk Surga. Akan tetapi ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek.

Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati maka akan masuk Neraka. Akan tetapi ia berubah dan beramal dengan amalan saleh. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.” Para sahabat bertanya,“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi ﷺ menjawab: “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal saleh, dan mati dalam keadaan seperti itu.” [HR. Ahmad]

Oleh karenanya, penting sekali amalan yang kontinu dan menjadi akhir hidup dengan penutup terbaik, yaitu husnul khatimah

✍ Habibie Quotes


Kamis, 17 Agustus 2023

CONTOH BERBAKTI KE ORANG TUA TATKALA MEREKA "MASIH HIDUP"

(01). Senantiasa "mendoakan" orang tua agar diberi Hidayah, dan Kekuatan untuk menjalankan ibadah, dan diampuni dosa

(02). Membimbing mereka agar paham Tauhid, dan Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ

(03). Berdiri utk menyambut kedatangan mereka dengan Wajah "Berseri-seri" dan ceria, mendahului mengucapkan "salam" dan MENCIUM TANGAN keduanya, serta "menempatkannya" pada tempat dimana orang tua merasa "nyaman dan bahagia"

(04). Memberikan perhatian/pelayanan yang baik ketika orang tua itu berada di rumah anaknya

(05). Berusaha membebaskan orang tua dari Beban Hutang, serta menjenguknya ketika mereka sedang sakit

(06). Memohon maaf apabila anak tidak dapat memenuhi "Keinginan" Orang Tua

(07). Menghindari hal-hal yang membuat mereka bersedih, meskipun itu termasuk perkara yang dianggap sepele

(08). Menafkahi kedua orang tua apabila mereka berada Dalam "Kekurangan", dan tidaklah bersikap "KIKIR" kepada mereka

(09). Bersikap mengalah serta menerima pendapat dari orang tua bila berbenturan dengan pendapat anak, jika pendapat itu tidak menyelisihi syariat

(10). Tidak memanggil orang tua dengan namanya, Tetapi memanggil mereka dgn ucapan ibu, bapak, dan lain-lain

(11). Hendaknya berkata dengan lembut, sopan, tawadhu', dan tidak mengeraskan suara atau berkata kasar kepada mereka

(12). Tdk duduk sebelum mereka duduk, dan duduk di hadapan keduanya dengan santun, hormat & tidak menjulurkan kaki

(13). Tdk menyela saat mereka sedang berbicara, tapi hendaknya anak berkata setelah orang tua selesai perkataannya

(14). Tidak mengagetkan orang tua saat mereka sedang "Tidur atau Beristirahat"

(15). Menghadapkan wajah dan badan, apabila orang tua itu sedang berbicara

(16). Bersegera untuk menjawab seruan orang tua, dan juga lebih mendahulukan mereka daripada perkara ibadah sunnah

(17). Meluruskan ke-2 orang tua dengan cara yang "santun", apabila ada hal yang keliru dalam masalah "dunia dan agama"

(18). Membantu pekerjaan / kesibukan kedua orang tua, dan tidak membebani mereka dengan banyaknya "Tuntutan2"

(19). Memprioritaskan mereka dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan lain2

(20). Tidak duduk di Tempat yang "Lebih" tinggi dari tempat duduk kedua orang tua

(21). Sering mengunjungi ke-2 orang tua, dan Memberikan kepada mereka hadiah

(22). Hendaknya Meminta izin dulu kpd mereka saat hendak "keluar" dari rumah

(23). Tidak pernah "Mengutamakan" istri dan anak-anak daripada kedua orang tua

(24). Menjaga nama baik, & kehormatan, serta harta benda dari "kedua orang tua"

(25). Tidak mencela orang tua orang lain, sehingga orang tuanya pun juga "Dicela"

(26). Bersikap baik "menghormati" sanak kerabat, dan teman-teman dari orang tua

(27). Mendidik serta mengajarkan "anak" agar bersikap hormat dan sopan kepada nenek dan kakek mereka

(28). Tidak masuk ke kediaman ataupun kamar orang tua Sebelum mendapatkan izin, terutama ketika "istirahat atau tidur"

(29). Mengantar orang tua apabila ingin "Mendatangi" Tempat2 yang Diinginkan

(30). Dapat memberangkatkan orang tua untuk haji dan umroh, jika Anak Memiliki kemampuan dari sisi "materi"

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

CONTOH BERBAKTI KE ORANG TUA KETIKA SUDAH MENINGGAL DUNIA

(01). Mengurusi "jenazah" orang tua yang "Sesuai Sunnah", dari cara "Memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan juga ikut menguburkan" (khusus bagi anak laki2)

(02). Mendo’akan orang tua agar mereka diampuni "dosa-dosanya", dirahmati, dan bisa Terhindar dari siksa Kubur & Neraka

(03). Bersilaturahmi & berbuat baik kpd keluarga, & teman-teman dari orang tua

(04). Menunaikan janji-janji yang pernah diucapkan orang tua kepada "orang lain"

(05). Menghajikan dan mengumrohkan, jika orang tua belum berhaji dan umroh

(06). Bersedekah atas nama orang tua

(07). Melunasi semua hutang2 mereka

(08). Menjaga nama baik dari orang tua

(09). Membayarkan hutang dari puasa Ramadhan orang tua dgn bayar Fidyah

(10). Menziarahi kuburan dari orang tua (Rasul ﷺ menziarahi kuburan ibunya)

(11). Tidak mencela orang tua orang lain yang mengakibatkan orangtuanya dicela

(12). Melaksanakan nadzar, dan kafarat, sumpah & wasiat orang tua apabila ada, serta tidak menyelisihi syariat Islam

(13). Memperbanyak amalan shalih yang dapat dilakukan anak & bermanfaat bagi orang tua di akhirat

Imam al-Albaani رحمه الله berkata :

ما يفعله الولد الصّالح من الأعمال الصّالحة، فإنّ لوالديه مثل أجره، دون أن ينقص من أجره شيء، لأنّ الولد من سعيهما وكسبهما، و الله عزّ و جلّ يقوله : وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ، و قال رسول لله ﷺ : إنّ أطيب ما أكل الرجل من كسبه، وإنّ ولده من كسبه

"Berbagai amal ibadah yang "Dilakukan" oleh Seorang Anak Yang SHALIH, maka Kedua orang tuanya akan mendapatkan pahala yang "semisal dengannya" tanpa mengurangi sedikit pun pahala anaknya tersebut, karena anak "TERMASUK" dari Usaha dan Jerih Payah kedua orang tua.

Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman :
"Dan bahwasanya seorang "manusia" itu tiada memperoleh selain apa yang Telah "Diusahakannya" (QS. An-Najm [53]: 39).

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :
"Sesungguhnya sebaik-baik yg dimakan oleh Seseorang adalah "Makanan" yang telah dihasilkan dari "usahanya" sendiri. Dan sesungguhnya "Anak" itu termasuk dari "usahanya" (Ahkamul Janaa-iz 216)

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

KIAT MENDAKWAHI ORANGTUA

(01). Senantiasa mengikhlaskan "NIAT", serta mengikuti "sunnah Nabi ﷺ" dalam menasehati, dan mendakwahi orang tua

(02). Hendaknya anak menyiapkan "ilmu" yang akan disampaikan dgn berdasarkan pemahaman yg Benar, sehingga "Mudah" diterima, dan lebih "Meyakinkan" mereka

(03). Nasehati mereka dengan "Kalimat" yang lembut, sopan dan juga menyentuh, selalu "menghadapkan" wajah dan badan apabila orang tua sedang berbicara

(04). Berusaha meraih "simpati" mereka terlebih dahulu, dengan cara melakukan kebaikan-kebaikan yang dianjurkan oleh "syariat", yaitu kebaikan2 yang diketahui bahwa perkara itu "DISUKAI" orang tua

(05). Seringkali "mendampingi" orangtua dalam berbagai kesempatan, membantu pekerjaan, & melaksanakan perintahnya, selama hal itu "Tidak menyelisihi syariat"

(06). Tidaklah "Menyela" ketika mereka sedang "Berbicara", hendaknya berkata setelah orang tua selesai perkataannya

(07). Ajaklah mereka ke "Majelis Ta'lim" untuk menambah semangat keimanan, ilmu, amal shalih, rasa takut & harap, dll

(08). Lakukan shalat malam, menangis kepada Allah, & Memohon kepada-Nya agar kiranya Mereka Senantiasa Diberi "Hidayah dan Taufik" dari Allah Ta'ala

(09). Kuatkan kesabaran dlm memohon, dan menunggu datangnya hidayah Allah

(10). Nasehatilah orang tua saat sedang berdua, dan jangan "di depan" orang lain

(11). Usahakanlah utk bisa mengadakan seorang teman bagi orang tua yang bisa mewarnai dan mendakwahi mereka

(12). Pilih waktu yang tepat "menasihati", dan jangan ketika mereka sedang marah atau sibuk, atau yang lainnya

(13). Mintakanlah kepada orang shalih (yang masih hidup), yang "aqidah serta Ibadahnya Benar" utk mendo'akan ortu

(14). Sekali-kali ajaklah orang tua untuk "berziarah kubur", semoga bisa sebagai pengingat dan dapat melembutkan hati

(15). Berikanlah kepada mereka artikel, buku, video Ceramah dll, seperti kisah2 orang Shalih, kisah "akhir hayat" orang2 zhalim, penghuni Neraka & Surga, kisah Penghuni Kubur dll yang semoga dapat memotivasi "bertambahnya" keimanan

(16). Minta bantuan kepada orang yang lebih tua usianya, berilmu, & juga Benar pemahaman agamanya, lebih-lebih dari orang yang dicintai dan dihormati untuk menasihati, dan mendakwahi orang tua

(17). Berikanlah "hadiah" kepada mereka, semoga bisa Meluluhkan Hati, & dakwah pun akan lebih mudah diterima orang tua

(18). Hendaknya seorang anak berusaha Untuk Semakin SHALIH, sehingga orang tua akan "termotivasi" menerima dakwah

(19). Sekali waktu bisa Mengajak orang tua berkunjung ke rumah "Ahli Ilmu", utk Berdiskusi tentang perkara2 yang masih belum diketahui orang tua kebenarannya

(20). Mendakwahi orang tua Tidak cukup dengan sekali, dua kali, ataupun tiga kali, tetapi selama hidup "Terus Mendakwahi" mereka, dan "tanpa" mengenal putus asa

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

Rabu, 16 Agustus 2023

Ambisi dunia

Apakah dengan ibadah yang kita lakukan ini kita benar-benar mengharapkan kehidupan akhirat yang lebih baik atau kita justru selalu hanya mengharapkan balasan kenikmatan di dunia ?

Lihatlah apakah setiap amalan baik dan do'a yang kita mohon kepada Allah adakah kita lebih cenderung mengharapkan tentang balasan perkara² dunia saja? seperti ingin rumah yang bagus, ingin banyak uang, karir yang mapan, jodoh yang rupawan, rezeki yang lancar, usaha yang sukses.

Dan adapun untuk kehidupan akhirat sudahkah menjadi tujuan dan senantiasa menjadi priorotas kita ketika memohon kepada Allah, seperti memohon hidayah, kematian yang husnul khatimah, dijauhkan dari azab kubur, diberi nauangan di padang mahsyar, dimudahkan hisab, mendapatkan catatan amal dari sebelah kanan, diberatkan timbangan kebaikan, selamat ketika meniti jembatan shirat yang membentang di atas neraka jahannan dan memohon surga firdaus,

Maka itu hendaknya kita mulai merenungkan, sudahkah ibadah yang kita kerjakan menjadikan akhirat sebagai prioritas tujuan atau justru hanya mengharap demi kenikmatan dunia saja.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:⁣

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).

Imam Qatadah bin Di’amah al-Bashri berkata tentang makna ayat di atas: “Barangsiapa yang menjadikan dunia (sebagai) target (utama), niat dan ambisinya, maka Allah akan membalas kebaikan-kebaikannya (dengan balasan) di dunia, kemudian di akhirat (kelak) dia tidak memiliki kebaikan untuk diberikan balasan. Adapun orang yang beriman, maka kebaikan-kebaikannya akan mendapat balasan di dunia dan memperoleh pahala di akhirat (kelak)” (Dinukil oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau 15/264).
Inilah alasan kenapa Abdurahman bin Auf sering menangis ketika mendapatkan kenikmatan duniawi. Sahabat yang mulia ini khawatir bila kenikmatan di dunia saat ini merupakan nikmat akhirat yang disegerakan, sehingga kelak di akhirat tak didapatkan lagi nikmat-nikmat itu..
Semoga Allah Ta'ala memberikan Taufiq dan Hidayah kepada kita semua agar tetap istiqomah dan mampu meluruskan niat dalam setiap ibadah yang kita kerjakan. Aamiin.

✍ Habibie Quotes

 

TANDA TAKUT

Abu Laits As Samarqondi rohimahullah berkata, 

"Tanda takut kepada Allah itu akan tampak pada tujuh perkara :

1. Lisannya. 
Ia tak berani berdusta, berghibah, mengadu domba. ia selalu berdzikir kepada Allah.

2. Hatinya. 
Rasa takut mengeluarkan kedengkian dan permusuhan dari hati. Dan penyakit penyakit hati lainnya.

3. Matanya.
Ia tak mau melihat yang diharamkan oleh Allah.

4. Perutnya. 
Ia tak memasukkan ke dalam perutnya sesuatu yang haram.

5. Tangannya. 
Ia tak menggunakannya untuk yang haram tapi ia gunakan untuk ketaatan.

6. Kakinya.
Ia tak melangkahkan kakinya ke tempat maksiat. Namun ia langkahkan untuk ketaatan.

7. Ketaatannya. 
Ia jadikan ketaatannya benar benar ikhlas mengharapkan wajah-Nya semata.."

(Tanbihul Ghofilin hal. 256)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

۞━❀꧁꧂❀━۞

KEUTAMAAN TIDUR DALAM KEADAAN SUCI

Sebelum menutup lembar kegiatan hari ini dengan istirahat di malam hari, mari kita membasuh muka dan anggota badan lainnya dengan air wudhu. Sebab bila kita tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bermalam bersama kita dan mendoakan diri kita dengan ampunan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، لاَ يَسْتَيْقِظُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ:  اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَلاَنًا، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا.

Barang siapa yang bermalam dalam keadaan suci, maka ada satu malaikat ikut bermalam di syi’ar-nya. Tidaklah ia terbangun sesaat pada malam hari melaikan malaikat itu berkata: “Ya Allah, berilah ampunan bagi hamba-Mu Fulan, sebab ia bermalam dalam keadaan suci.” (Hadis hasan riwayat Ibnul Mubarak. Lihat: ash-Shahihah No 2539)

Pada riwayat lain beliau bersabda:

طَهِّرُوْا هَذِهِ اْلأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللَّهُ، فَإِنَّهُ لَيْسَ عَبْدٌ يَبِيْتُ طَاهِرًا إِلاَّ بَاتَ مَعَهُ مَلَكٌ فِي شِعَارِهِ، لاَ يَنْقَلِبُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا.

Sucikanlah tubuh kalian -semoga Allah menyucikan kalian-, sebab tidaklah seorang hamba bermalam dalam keadaan suci, melainkan akan ada satu malaikat ikut bermalam di syiar-nya, tidaklah ia berbalik sesaat pada malam hari melainkan malaikat itu berkata: “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu Fulan, sebab ia bermalam dalam keadaan suci. (Hadis hasan. Lihat Shahih al-Jami’ No 3936)

Arti “ syiar “ pada hadis di atas adalah pakaian, kain atau semisalnya yang menempel pada badan seseorang.

☆ SEKIRANYA MENINGGAL PADA MALAM ITU

Bila seseorang bersuci, kemudian membaca doa di bawah ini, kemudian ternyata ia meninggal dunia pada malam harinya, maka ada keutamaan khusus baginya. 

Dari al-Bara' bin 'Azib a ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku: "Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, kemudian rebahkan (badanmu) di atas bahu sebelah kanan kemudian ucapkanlah:"

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ.

[Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, ya Allah aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus].” Apabila engkau meninggal dunia pada malam itu, niscaya engkau dalam keadaan fitrah (di atas sunnah). Dan jadikanlah doa tersebut sebagai ucapan terakhirmu.  (HR. al-Bukhari No 247)

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menerapkan hadis ini setiap hari. Allahumma aamiin.  

https://t.me/iccdammamksa

•┈•◎❅❀🏵️❀❅◎•┈•

Sabtu, 12 Agustus 2023

DUDUK SAJA

Jika engkau hobi bermaksiat,
Dirimu lelah hidup seperti ini,
Dosa telah menawanmu,
Sulit bagimu untuk lepas dari jerat kemaksiatan,

Jiwa sudah terkadung suka bermaksiat,
Terlanjur suka karena biasa,
Engkau ingin lepas,
Namun kau tak tahu hendak kemana,

Coba Datangilah majelis-majelis Ilmu,
Datanglah ke kajian Islam ilmiah,
Datanglah ke kajian yang membahas Al Quran dan Sunnah,

...Duduk saja...
Dengarkan, meski berat kau rasa
Meski engkau ingin segera pergi,
Meski jiwamu gerah bagai cacing kepanasan,
Meski mata mengantuk karena diri tak terbiasa,
...Duduk saja..

Dengarkan Al-Quran dan Hadits disampaikan,
Dengarkan kajian,
Agar jiwamu terbiasa,
Terbiasa dengan ketaatan,

...Duduk saja...

Dengarkan,
Jangan beranjak,
Meski di awal terdengar membosankan
Lawan nafsumu,
Berharaplah,
Berdoalah kepada Allah,
Agar Dia melepaskanmu
Dari jerat-jerat kemaksiatan,

Sungguh usahamu takkan sia-sia, Jika engkau betul-betul ikhlas dan sungguh-sungguh,
Kelak hidayah 'kan turun kepadamu,
Sedikit...demi sedikit...,

Entah dari ayat al quran yang disampaikan,
Atau dari hadits yang kau dengar,
Atau dari sindiran sang Ustadz yang menohok hatimu,

...Duduk Saja....

Di majelis ilmu,
Di taman-taman Surga,
Di tempat turunnya ketenangan,
Tempat para malaikat berkumpul,

Karena sesungguhnya Nabimu telah bersabda :
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketentraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya."
(HR. Muslim)

...Duduk saja...

Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua

Semoga tulisan yg ringkas dan sangat sederhana ini Bermanfaat.

بارك الله فيكم وجزاكم الله خيرا


PAKAIANKU TIDAK CANTIK

Bagiku sederhana dengan penampilan itu sebuah pencapaian, saat gemerlap pakaian menawarkan keindahan, bagiku pakaian taqwa adalah pakaian yang paling sederhana, tanpa hiasan yang membuat mata tertarik memandangnya. 

Sejatinya pakaian yang kita kenakan bukan untuk ingin di lihat, namun untuk menutupi hal yang tak boleh terlihat. 

Mirisnya kini yang harusnya untuk menutup dihias dengan berbagai rupa agar terlihat menawan

Kini coba tanyakan pada hati kita.
Untuk apa khimar panjang yang kita kenakan ?
Untuk apa niqab ini kita gunakan ?
Untuk apa jubah panjang ini kita julurkan ?

Semua itu untuk menutupi tubuh agar orang tak tertarik melihat kita bukan ?

Dan...
Jika masih saja kita hiasi dengan hal-hal yang menarik perhatian
Lalu untuk apa itu kita pergunakan ?

Jangan gunakan alasan agama untuk menyanggah hawa nafsu kita

Mari tundukkan hati dan nafsu kita

Berlakulah sami'na wa atho'na
Kami mendengar dan kami taat ya Allah

✍️ Fighter Of Sunnah

Kamis, 10 Agustus 2023

NASIHAT ULAMA AGAR TENANG DALAM MENJALANI KEHIDUPAN

1. Menuntaskan aktivitas hari ini sehingga fokus dan konsentrasi untuk hari-hari ke depan. Pekerjaan hari ini selesaikan hari ini, tuntaskan hari ini, hingga bisa fokus dan konsentrasi untuk melaksanakan apa yang akan dilaksanakan di masa depan.

2. Menyingkirkan takalluf (membebani diri suatu pekerjaan melebihi batas kemampuan). Jangan memaksa-maksakan diri untuk mengambil hal-hal yang istimewa jika memang tidak mampu. Tidak usah memaksakan diri harus punya pencapaian ini dan itu, yang penting kita usaha, adapun hasil, nilai, prestasi itu bonus, yang pokok adalah usaha kita.

3. Memilih-milih melakukan ragam aktivitas yang mulia.

4. Mengkondisikan jiwa untuk tidak meminta dan mengharapkan ucapan serta balasan terima kasih, kecuali dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang kita cari adalah ganjaran dan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kebaikan yang kita lakukan kepada orang.

5. Mengetahui dan menyadari bahwasanya gangguan manusia kepada kita dengan ucapan dan perbuatan itu, tidak membahayakan kita jika kita tidak memikirkannya, namun akan membahayakan mereka.

6. Menghadirkan kesadaran di dalam diri dan hati tentang singkatnya kehidupan dunia. Maka jangan dipersingkat lagi dengan bertambahnya kegalauan.

7. Melatih jiwa untuk rela bersusah payah merasakan pahitnya takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan membiasakannya. Maka jiwa dilatih, dibiasakan dengan hidup susah, "hidup susah itu biasa dan siap", jika ternyata hidup enak "ya alhamdulillah", tapi jiwa dan diri itu disiapkan untuk hidup susah, siap untuk menderita.

Poin-poin ini semua disampaikan oleh Ibnu Sa'di Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab beliau yang tipis namun bermanfaat Al Wasail Al Mufidah Lil Hayati As Sa'idah.

📝 Ustadz Dr. Aris Munandar., SS., M.P.I حفظه الله تعالى


MELAWAN MASA TUA

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

‎خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمُلُهُ

Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan amalannya baik. [HR. At-Tirmidzi]

Usia yang panjang termasuk nikmat muqayyad yang tidak otomatis orang yang memilikinya lebih baik daripada yang tidak memperolehnya. Ia akan menjadi nikmat yang sebenarnya, apabila pemiliknya memanfaatkannya dalam urusan-urusan kebaikan, amal shaleh dan ketaatan kepada Rabbnya Allâh Azza wa Jalla.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah mengatakan, “Maka, seyogyanya orang yang usianya semakin menua untuk memperbanyak amal shaleh. Meskipun, para remaja juga seharusnya demikian, karena manusia tidak tahu kapan ia akan meninggal. Bisa saja, seorang pemuda meninggal pada usia mudanya atau ajalnya tertunda hingga ia tua. Akan tetapi, yang pasti, orang yang sudah berusia senja, ia lebih dekat kepada kematian, lantaran telah menghabiskan jatah usianya.

Setiap manusia dinilai dengan akhir kehidupannya, apakah menutup hidupnya dengan kebaikan atau keburukan. Maka, pada masa tua, atau seiring usia bertambah, seyogyanya seseorang semakin dewasa dalam mengarungi kehidupan dunia dan menyadari untuk memperbaiki diri dan meninggalkan hal-hal membuatnya merugi, lantaran kematian bisa datang setiap hari, tanpa menunggu kita bertaubat dan mensucikan amalan dan hati.


DUNIA HANYA SEBENTAR

Suatu hari ‘Umar bin Khattab datang menemui Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang tidur di atas tikar yang membuat bekas pada kulit beliau di bagian sisi.

Sontak Umar pun berkata: “Wahai Nabi Allah! Andaikan engkau menggunakan permadani tentu lebih baik dari tikar ini”. 

Maka beliau pun bersabda:

“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dishahihkan oleh al-Albany)

Demikianlah benar adanya...
Bahwa sejatinya kita hidup di dunia tak lain hanyalah sebentar.

Pangkat dan jabatan yang melekat sejatinya hanya sebentar.
Karir yang gemilang yang kita banggakan sejatinya hanya sebentar.

Rumah megah yang kita tempati sejatinya hanya sebentar.
Mobil mewah yang kita simpan di garasi sejatinya hanya sebentar.

Kebun, sawah, ternak dan emas yang kita miliki sejatinya hanya sebentar.
Hari, bulan dan tahun yang kita lalui sejatinya hanya sebentar.

Usia, kesempatan dan waktu yang kita jalani sejatinya hanya sebentar.
Bahkan anak, istri, orang tua dan keluarga yang kita bersamai sejatinya juga hanya sebentar.

Maka alangkah ruginya...

Bila kita berambisi mengejar dunia yang sebentar ini hingga lalai untuk menyiapkan bekal kehidupan akhirat.

Karena pada akhirnya cepat atau lambat semua akan kita tinggalkan.

Ya Rabbana...
Jadikanlah kami seseorang yang tak pernah lalai tentang tempat persinggahan ini.

Habibie Quotes