Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Agustus 2023

Dzikir Yang Ringan di Lisan Namun Berat di Mizan

Sebuah dzikir yang mudah dirutink setiap saat, namun berat di timbangan amalan. Dzikir tersebut adalah bacaan “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim”.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Dalam Muqoddimah Al Fath (Fathul Bari), Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan keutamaan hadits tersebut sebagai berikut:

Maksud “dua kalimat” adalah untuk memotivasi berdzikir dengan kalimat yang ringan.

Maksud “dua kalimat yang dicintai” adalah untuk mendorong orang berdzikir karena kedua kalimat tersebut dicintai oleh Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih).

Maksud “dua kalimat ringan” adalah untuk memotivasi untuk beramal (karena dua kalimat ini ringan dan mudah sekali diamalkan).

Maksud “dua kalimat yang berat di timbangan” adalah menunjukkan besarnya pahala.

Alur pembicaraan dalam hadits di atas sangat bagus sekali. Hadits tersebut  menunjukkan bahwa cinta Rabb mendahului hal itu, kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba. Setelah itu diikuti dengan balasan dua kalimat tadi pada hari kiamat. Makna dzikir tersebut disebutkan dalam akhir do’a penduduk surga yang disebutkan dalam firman Allah,

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Do’a mereka di dalamnya adalah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka adalah: “Salam”. Dan penutup doa mereka adalah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.” (QS. Yunus: 10)

Sumber: Muqqodimah Al Fath, Ibnu Hajar Al Asqolani, hal. 474.

Jumat, 04 Agustus 2023

HAKIKAT HUSNUL KHATIMAH

Imam al-'Utsaimin رحمه الله berkata :

"Bukanlah maksud dari husnul khatimah itu Mengharuskan engkau Meninggal Di Masjid, atau di atas sajadah shalat, atau engkau Meninggal sedangkan MUSHAF itu sedang berada di kedua tanganmu. 

Karena sesungguhnya wafat sebaik-baik manusia di atas muka bumi dan ia wafat berada di atas tempat tidurnya.

Dan telah wafat sahabatnya ash-Shiddiq Abu Bakar, dan ia adalah sahabat terbaik yang juga Wafat di atas tempat Tidurnya. 

Telah WAFAT "Khalid bin al-Walid" di atas tempat tidurnya, padahal ia Telah Dijuluki Pedang Allah yg Terhunus, & Telah Terjun di 100 medan peperangan, & ia pun Tidak pernah kalah.

Tetapi Husnul Khatimah adalah engkau pun wafat dalam keadaan Berlepas Diri dari kesyirikan, husnul khatimah adalah engkau wafat dalam keadaan "berlepas diri" dari kemunafikan. 

Husnul khatimah adalah engkau wafat dalam keadaan BERPISAH Dari Pelaku Bid'ah dan segala perbuatan Bid'ah. ‌

Husnul khatimah adalah engkau Wafat dalam keadaan Tetap berpegang teguh di atas "al-Qur'an dan as-Sunnah" serta beriman kepada keduanya tanpa Ta'wil. ‌

Husnul khatimah adalah engkau "Wafat" dalam keadaan tidak meneteskan darah, mengganggu harta, & kehormatan kaum Muslimin. Melaksanakan Hak Allah atas dirimu dan juga hak hamba-Nya atasmu. ‌

Husnul khatimah adalah engkau "Wafat" dalam keadaan hati yg Selamat (Bersih), NIAT yang baik, dan juga "AKHLAK" yang mulia. Tidak ada kebencian, kedengkian, & permusuhan kepada seorang muslim. ‌

Husnul khatimah adalah engkau "Shalat" lima waktu pada waktunya dengan "cara berjamaah" (bagi laki-laki), & engkau pun menunaikan semua yang  Allah Wajibkan atas dirimu"

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar


Sabtu, 29 Juli 2023

Tugas Terbesar Para Orang Tua....

Sebagian orang tua saat ini yang difikirkan hanyalah bagaimana agar bisa meraih kesuksesan di dunia, sibuk mencari harta hingga lupa apa tugas terbesar mereka yang sebenarnya yaitu menyelamatkn dirinya dan keluarganya dari api neraka. 

Allahu subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..."
(QS. At-Tahrim: 6)

Berapa banyak orang tua yang tidak mendidik anak - anaknya dengan baik. Bahkan tidak mendidiknya dengan pendidikan Agama.

Ibnu al-Qayyim menyatakan, “Berapa banyak orang yang menyengsarakan anak dan buah hatinya di dunia dan akherat dengan acuh dan tidak mendidiknya serta membantu mereka menumpahkan syahwatnya. Dengan itu, ia menganggap telah memuliakannya padahal ia menghinakannya dan telah memberikan kasih sayangnya padahal ia telah menzholiminya. Sehingga ia kehilangan (kesempatan) memanfaatkan anaknya (untuk bekal akhirat) dan anaknya pun kehilangan bagiannya di dunia dan akherat. Apabila engkau perhatikan baik-baik kerusakan pada anak-anak maka engkau dapati umumnya dari pihak bapak (Tuhafatul Maudud Fi Ahkaam al-Maulud hal 242)

Beliau juga menyatakan, “Siapa yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya semua yang bermanfaat baginya dan meninggalkannya begitu saja, maka ia telah melakukan kejelekan yang paling besar padanya. Mayoritas anak-anak datangnya kerusakan pada mereka dari pihak bapak dan tidak perhatiannya mereka terhadap anak-anak serta tidak mengajari anak-anak kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Sehingga mereka telah menelantarkan anak-anak sejak kecil.
 (Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud 229)

Sumber: https://muslimah.or.id/248-jagalah-keluargamu-dari-ner

Jumat, 28 Juli 2023

FIRASAT MENJELANG KEMATIAN

Hukum asalnya tidak ada seorangpun yang tahu dengan pasti kapan dia akan meninggal. 

Allah ﷻ berfirman,

وَما تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (QS. Luqman: 34)

Tidak ada satu pun manusia yang tahu, di mana dia akan meninggal dunia. Akan tetapi, bagaimanapun seseorang berusaha menghindar dari kematian, dia pasti akan tetap mendatanginya.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu.” (QS. Al-Jumuah: 8)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh.” (QS. An-Nisa’: 78)

Siapa pun orangnya, baik raja, panglima perang atau orang yang memiliki keistimewaan lengkap dengan penjagaan sekalipun, bahkan di dalam rumah yang besar dan dinding yang kokoh, jika kematian datang kepadanya, maka dia akan mendapatinya dan tidak bisa lari darinya.

Bahkan para nabi pun tidak tahu dengan pasti kapan tiba kematiannya.
Seperti Nabi Adam álaihis salam ketika datang malaikat maut beliau menyangka bahwa umur beliau masih tersisa 40 tahun.

Rasulullahﷺ bersabda,

لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ، فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا مِنْ ذُرِّيَّتِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَجَعَلَ بَيْنَ عَيْنَيْ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصًا مِنْ نُورٍ، ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى آدَمَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ ذُرِّيَّتُكَ، فَرَأَى رَجُلًا مِنْهُمْ فَأَعْجَبَهُ وَبِيصُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: هَذَا رَجُلٌ مِنْ آخِرِ الأُمَمِ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ فَقَالَ: رَبِّ كَمْ جَعَلْتَ عُمْرَهُ؟ قَالَ: سِتِّينَ سَنَةً، قَالَ: أَيْ رَبِّ، زِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً، فَلَمَّا قُضِيَ عُمْرُ آدَمَ جَاءَهُ مَلَكُ المَوْتِ، فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ قَالَ: فَجَحَدَ آدَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَنُسِّيَ آدَمُ فَنُسِّيَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَخَطِئَ آدَمُ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ

“Saat Allah menciptakan Adam, Ia mengusap punggungnya lalu dari punggungnya berjatuhan setiap jiwa yang diciptakan Allah dari keturunan Adam hingga hari kiamat dan Ia menjadikan kilatan cahaya diantara kedua mata setiap orang dari mereka, kemudian mereka dihadapkan kepada Adam, ia bertanya: ‘Wahai Rabb, siapa mereka?’ Allah menjawab: ‘Mereka keturunanmu’. Adam melihat seseorang dari mereka dan kilatan cahaya diantara kedua matanya membuatnya kagum, Adam bertanya: ‘Wahai Rabb siapa dia?’ Allah menjawab: ‘Ia orang akhir zaman dari keturunanmu bernama Daud’. Adam bertanya: ‘Wahai Rabb, berapa lama Engkau menciptakan umurnya?’ Allah menjawab: ‘Enam puluh tahun’. Adam bertanya: ‘Wahai Rabb, tambahilah empat puluh tahun dari umurku’. Saat usia Adam ditentukan, Malaikat maut mendatanginya lalu berkata: ‘Bukankah usiaku masih tersisa empat puluh tahun’. Malaikat maut berkata: ‘Bukankah kau telah memberikannya kepada anakmu, Daud’. Adam membantah lalu keturunannya juga membantah. Adam dibuat lupa dan keturunannya juga dibuat lupa. Adam salah dan keturunannya juga salah.”

(H.R. Tirmidzi. 5/267 no. 3076)

🍃🍃

Ustadz Dr. Musyaffa' ad Dariny, M.A, Asatidzah Pengajar di Yayasan Risalah Islam Hafizhakumullah & Mutiara Riasalah Islam lainnya.

Kamis, 27 Juli 2023

ORANG BAIK BUKAN BERARTI BEBAS COBAAN

Jika Anda telah berusaha mendekat kepada Allah dan sesuai Sunnah Nabi -shollallohu 'alaihi wasallam- BUKAN BERARTI UJIAN, COBAAN, DAN MUSIBAH TIDAK AKAN MENIMPA

Jika sudah demikian, lalu ujian musibah menimpa, maka tetaplah teguh, dan  BERBAIK SANGKALAH kepada Allah. Ingat selalu firman-Nya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘kami telah beriman' TANPA diuji..?!

Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar tahu orang-orang yang tulus dan orang-orang yang dusta..“ [Al-Ankabut: 2-3].

Ingat pula Sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang paling baik (setelahnya),lalu orang yang paling baik (setelahnya)..

Maka siapa yang agamanya berbobot, cobaannya juga berat. Siapa yang agamanya lemah, cobaannya juga ringan..

Dan sungguh seseorang akan terus ditimpa cobaan, hingga dia berjalan di tengah-tengah manusia tanpa dosa sedikitpun..“ [Shohihul Jami: 993].

Jangan lupa juga perkataan Syeikh Abdul Qodir Jaelani -rohimahulloh-:

“Wahai anak kecilku, sungguh musibah itu datang BUKAN untuk membinasakanmu, namun dia datang untuk menguji kesabaran dan imanmu..

Wahai anak kecilku, cobaan itu (ibarat) hewan buas, dan hewan buas itu tidak mau memangsa bangkai..“ [Zadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim, 4/178].

Oleh karena itu, semakin tinggi agama kita, semakin kita butuh berdoa untuk keteguhan iman kita, sebagaimana dicontohkan Nabi -shollallohu 'alaihi wasallam.

Ummu Salamah -isteri beliau- mengatakan: "Dahulu doa Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- yang paling banyak adalah:

يا مقلب القلوب, ثبت قلبي على دينك

“Wahai Yang membolak-balikkan hati, TEGUHKANLAH hatiku di atas agamaMu.." [HR. Tirmidzi: 3522, dishohihkan oleh Syeikh Albani].

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

LEBARAN ANAK YATIM TIDAK ADA DI SYARI'AT DAN SUNNAH NABI ﷺ

Sedekah kepada Anak yang Yatim dapat dilakukan "kapan saja dan di mana saja". Adapun "Mengkhususkan" Sedekah atau Santunan kepada ANAK YATIM di Setiap tanggal 10 Muharram dengan Menyakini ada kelebihan, dan juga keistimewaan di hari itu, seperti hadits palsu di bawah ini maka tentu tdk diperbolehkan, tidak ada tuntunan, contoh, dan tidak disyariatkan.

Lalu istilah "LEBARAN" anak yatim juga tidak ada dalam Islam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam serta para sahabatnya TIDAK Pernah "Mengkhususkan" Untuk memberikan bantuan kpd anak yatim di setiap tanggal 10 Muharram.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

"Barangsiapa yang telah "Mengusapkan" tangannya ke "kepala anak yatim" di hari Asyuro’ (10 Muharram), maka Allah akan Mengangkat Derajatnya Dengan SETIAP helai rambut yang Diusap SATU Derajat"

Hadits ini terdapat dalam kitab Tanbiihul Ghaafiliin no. 475, & dinyatakan "PALSU" oleh para Ulama, disebabkan dalam jalur sanadnya terdapat nama "Habiib bin Abii Habiib". Ia seorang perawi yang tertuduh pernah berdusta, dan juga "memalsukan" hadits. Oleh karenanya, status perawi ini adalah "matruk" (ditinggalkan).

Para ulama berkomentar tentangnya :

- Ahmad bin Hanbal berkata : "Pendusta" (lihatlah Lisaanul Miizaan II/168/752 oleh Ibnu Hajar al-Asqalaani)

- Ibnu Ady berkata : "Dia memalsukan hadits" (Al-Maudhuu’aat II/571)

- Ibnul Jauzi berkata : "Ini adalah hadits palsu dengan tanpa keraguan" (lihatlah Al-Maudhuu'aat II/571)

- Adz-Dzahabi berkata : "Dia tertuduh berdusta" (Talkhis Kitab al-Maudhuu’aat hal 207)

- Adz-Dzahabi berkata : "Pendusta" (lihat Miizaanul I'tidaal I/451/1693)

- Abu Haatim berkata : "Ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya" (Al-Maudhuu’aat II/571)

- Asy-Syaukani berkata : "Hadits ini palsu" (Al-Fawaa-idul Majmuu'ah 92/33)

- lihat al-La'aali al-Mashnu'ah II/109 oleh Imam as-Suyuthi, at-Tanziih asy-Syari'ah II/149-150 oleh Ibnu 'Arraq al-Kanani dll.

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

ORANG YANG TIDAK SHOLAT KELAK AKAN DIKUMPULKAN BERSAMA EMPAT ORANG INI

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Amr bin Ash radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya suatu hari Nabi menyebutkan tentang sholat, lalu beliau bersabda :

“Barangsiapa menjaga (sholat)-nya maka ia akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat. Sedangkan siapa saja yang tidak menjaganya maka ia tidak akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat. Pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan : “Dikhususkannya penyebutan empat (4) orang ini, karena mereka adalah pentolan-pentolan kafir.
.
Ada catatan yang indah dalam hadits ini yaitu, orang yang meninggalkan sholat adakalanya karena disibukkan oleh harta, kekuasaan, jabatan, atau perniagaannya.

🔥 Oleh karenanya barangsiapa disibukkan oleh hartanya, ia akan dikumpulkan bersama Qarun.
🔥 Barangsiapa disibukkan oleh kekuasaannya, ia akan dikumpukan bersama Fir’aun.
🔥 Barangsiapa disibukkan oleh jabatannya, ia akan dikumpulkan bersama Haman.
🔥 Dan barangsiapa disibukkan oleh perniagaannya, ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf.”

(Kitab Ash-Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal.46-47)

Semoga menjadi renungan bagi yang masih meninggalkan shalat.



PERBEDAAN PUASA AROFAH DAN PUASA ASYURO

Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata:

“Nabi ﷺ ditanya mengenai keutamaan Puasa Arafah, beliau menjawab: ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau ﷺ juga ditanya mengenai keistimewaan Puasa Asyura, beliau menjawab: ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim no. 1162]

Mengapa puasa Asyuro (puasa pada tanggal 10 Muharram) hanya menghapuskan dosa selama satu tahun, sedangkan puasa Arofah (puasa tanggal 9 Dzulhijjah) menghapuskan puasa dua tahun?

Berkata Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah :

🌿 Yang pertama :
Karena hari Arafah (9 Dzulhijjah) terdapat pada bulan yang mulia, dan puasa arofah diapit (berada diantara dua bulan mulia).
~ Penjelasan : Puasa Arofah ( Di Bulan Dzulhijjah, dan bulan Dzulhijjah termasuk bulan mulia) 

Puasa Arofah diapit dua bulan mulia. Yaitu Dzulqo'dah dan Muharram, (dimana kedua bulan tersebut juga bulan yang mulia). Hal itu berbeda dengan Puasa Asyuro di bulan Muharram. 

🌿 Yang kedua :
Bahwasannya puasa Arofah termasuk kekhususan (ibadah yang khusus untuk umat Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam) berbeda dengan puasa Asyuro. (Puasa Asyuro bukan dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam, karena puasa Asyuro' juga pernah dilakukan umat sebelum beliau. 

[Al Quran Memorization Training Centre Indonesia]