Senin, 14 November 2011

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha


HADITS

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sambil membawa rupa Aisyah pada selembar kain sutra hijau, seraya berkata, ‘Ini adalah istrimu di dunia dan akhirat’.”
Amr bin Al-Ash Rhadhiyallahu ‘Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Siapakah yang paling  engkau cintai ya Rasulullah?” beliau menjawab, “Aisyah.” “Siapa dari kalangan laki-laki?” Tanya Amr. “Bapaknya,” jawab beliau.

Nasab Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha

Ibu Aisyah adalah Ummu Ruman bintu Amir bin Uwaimir Al-Kinaniyah.  Saudarinya dari satu bapak ialah Asma’ Dzatun-Nithaqain. Saudaranya seayah seibu adalah Abdurrahman, salah seorang pahlawan Islam. Dua orang saudaranya dari satu ayah ialah Abdullah dan Muhammad, dua orang penunggang kuda yang handal. Aisyah dilahirkan di Makkah tujuh tahun sebelum hijrah. Dia dilahirkan semasa Islam. Dia pernah berkata, “Aku tidak mengetahui kedua orang tuaku melainkan keduanya memeluk satu agama.” 

Pernikahan Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha

Aisyah rhadhiyallahu ‘Anha memperoleh gelar Ummul Mukminin karena pernikahannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sepeninggal istri beliau yang suci, Khadijah Rhadhiyallahu ‘Anha. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  berkata kepada Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha, 
“Aku bermimpi bertemu denganmu selama tiga malam. Malaikat mendatangiku sambil membawamu dalam sekedup yang ditutupi kain sutra, seraya berkata, ‘ini adalah istrimu.’ Maka aku menyibak kain di mukamu, yang ternyata adalah engkau.” Aisyah berkata, “kalau memang hal itu berasal dari sisi Allah, biarlah ia terjadi.” (Muttafaq ‘Alaihi).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,  menikahi Aisyah dengan maskawin sebanyak empat ratus dirham.

Pada bulan Syawwal tahun kedua Hijriyah Aisyah berpindah dari rengkuhan ayahnya ke kehidupan suami istri, rumah nubuwah dan tempat turunnya wahyu. Beliau menetap di rumah yang berdampingan secara langsung dengan masjid. Ketika itu beliau masih berusia muda.

Keutamaan Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anhu adalah seorang wanita yang kulitnya putih dan cantik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  tidak menikahi wanita gadis kecuali Aisyah dan tidak mencintai wanita seperti cintanya kepada Aisyah. Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menempati kedudukan yang mulia di hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam hal kecintaan, yang  tidak didahului siapa pun kecuali Khadijah bintu Khuwailid Rhadhiyallahu ‘Anha.  

Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha memiliki keutamaan yang nyata, yang tidak didapatkan wanita mana pun di alam ini. Beliau berkata, 
“Aku telah diberi Sembilan perkara yang tidak diberikan kepada wanita mana pun setelah Maryam bintu Imran, Jibril turun dengan membawa rupaku dalam lipatan kain, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam diperintahkan untuk menikahiku, beliau menikahiku dalam keadaan gadis dan beliau tidak menikahi seorang gadis selain diriku, beliau dicabut ajalnya sedang kepala beliau bersandar di dadaku, kuburan beliau berada di dalam rumahku, para malaikat mengelilingi rumahku dan wahyu turun kepada beliau sedang aku dan beliau berada di bawah satu selimut, aku adalah putri khalifah beliau dan teman karib beliau, alasanku turun dari langit, aku diciptakan sebagai wanita baik-baik di tempat yang baik-baik.”
Keutamaan lain yang dimiliki oleh Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha terdapat dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, 
“Kelebihan Aisyah atas para wanita seperti kelebihan tsarid atas seluruh makanan.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).
Keutamaan-keutamann Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha tidak dapat dibatasi. Cukuplah keutamaan baginya karena Al-Qur’an turun berkenaan dengan dirinya secara khusus. Subhanallah.

Di antara sikap yang mengundang kekaguman bahwa Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha juga ikut bergabung dalam jihad . Anas bin Malik meriwayatkan, 
“Aku melihat Aisyah bintu Abu Bakar dan Ummu Sulaim, keduanya menyingsingkan ujung baju, sehingga dapat kulihat betis bagian bawah. Keduanya mengangkuti  geriba air di atas pundak lalu memberi minum orang-orang yang terluka . kemudian keduanya kembali dan memenuhi lagi geriba itu, lalu meminumi mereka.” (Muttafaq ‘Alaihi).
Di antara barakah ibu kita, Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha ialah turunnya ayat tayammum karena keberadaannya, sebagai kemudahan bagi orang-orang muslim. Al-Bukhari mentakhrij dari Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha, dia berkata, 
“Kami pergi bersama Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah perjalanan jauh yang dilakukannya. Ketika kami tiba di sebuah padang pasir, tiba-tiba kalungku putus dan jatuh. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mencarinya, sehingga orang-orang harus berhenti di tempat itu, padahal mereka tidak lagi mempunyai air, sedang di tempat itu tidak ada sumber air. Pada saat itulah Allah menurunkan ayat tentang tayammum.”
Pemahaman Ilmunya

Al-Imam Adz-dzahaby Rahimahullah berkata tentang Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha, “Dapat dipastikan dia adalah wanita yang paling mendalam ilmunya dari umat ini.”

Umar bin Khattab dan Usman bin Affan biasa mengirim utusan kepada beliau untuk menanyakan as-Sunnah.

Zuhud dan kedermawanannya

Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menjadi teladan dalam zuhud, kemurahan hati dan kedermawanan. Hampir tidak ada harta yang ada di tangannya walau hanya beberapa saat, melainkan dia menyalurkannya kepada orang-orang miskin.  Urwah bin Az-Zubair Rhadhiyallahu ‘anhu berkata, 
“Aku pernah melihat Aisyah membagi-bagikan harta sebanyak tujuh ratus ribu dirham, sementara dia sendiri menjahit bajunya.”
Ibadah dan Wara’nya

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sehingga ibadahnya dianggap sebagai gambaran sederhana dari ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau banyak mendirikan shalat malam, karena mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di antara gambaran wara’nya, dia tetap berhijab terhadap laki-laki buta. Ishaq, seorang laki-laki buta mengisahkan,
“Aku menemui Aisyah di rumahnya dan dia berhijab dariku. Maka aku bertanya, “Apakah engkau berhijab dariku, padahal aku tidak dapat melihatmu?” beliau menjawab, “Kalaupun engkau tidak dapat melihatku, toh aku dapat melihatmu.”
Perkataan-Perkataannya              
                
Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha memiliki banyak perkataan yang mengagumkan. Di antara perkataannya yang indah dan terkenal adalah:
“Siapa yang mengamalkan sesuatu yang membuat Allah murka, maka orang yang tadinya memuji dirinya berbalik mencelanya.”
“Sekali-kali kalian tidak bersua Allah dengan sesuatu yang lebih baik bagi kalian selain dari sedikitnya dosa. Siapa yang suka mengalahkan serigala yang kencang larinya, hendaknya dia menghindarkan dirinya dari banyak dosa.”
Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha pernah ditanya,
 “Kapankah seseorang menjadi buruk?” beliau menjawab, “Jika dia mengira bahwa dirinya telah berbuat kebaikan.”

Tuduhan Bohong Terhadap Ummul Mukminin

Al- Bukhari meriwayatkan, Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menggambarkan dirinya, 
“Kami tiba di Madinah (dari Perang Bani Mushthaliq) dan aku jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang menyebarkan issu-issu dan berita bohong, sementara aku tidak mengetahui sedikit pun tentang semua itu. Yang membuatku bingung dan bimbang selama aku sakit itu, aku tidak lagi mendapatkan kelembutan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti yang kudapatkan sebelumnya ketika aku sedang jatuh sakit. Beliau hanya menemui aku dan bertanya, “Bagaimana keadaan kalian?” setelah itu beliau beranjak pergi. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Hari  demi hari terus berlalu sementara yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  tidak lebih dari kalimat itu.”
Aisyah Rhadhiyallalu ‘Anha tidak tahu menahu sedikit pun masalah berita bohong yang sudah menyebar. Sepulangnya dari Perang Bani Mushthaliq beliu sakit sehingga pergi ke rumah orang tuanya dan menetap di sana. Pada  suatu hari beliau pergi ke kamar kecil, Ummu Misthah bintu Utsatsah bin Ibbad Al-Qursyi memberitahukan apa yang dikatakan orang-orang yang menyebarkan berita bohong.

Ummul Mukminin, Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menceritakan, 
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dating ke tempat kami, mengucapkan salam lalu duduk di dekatku, dan selama sebulan itu juga tidak pernah turun wahyu kepada beliau mengenai diriku. Ketika duduk itu beliau  mengucapkan syahadat, kemudian bersabda, “Amma ba’d, wahai Aisyah, sesungguhnya aku mendengar kabar tentang dirimu begini dan begitu. Kalau memang engkau terbebas dari kesalahan, tentu Allah akan membebaskan dirimu. Namun jika engkau telah melakukan suatu dosa, maka mohonlah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya jika hamba mengakui dosanya kemudian bertaubat, niscaya Allah menerima taubatnya. Allahu Akbar.” Ummul Mukminin, Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha menyimak setiap kata yang disampaikan kekasih pilihan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Air mata mengalir dari kedua matanya. Semua orang yang hadir di tempat itu terdiam seribu bahasa. Aisyah mengusap air matanya, lalu memberanikan diri berkata, “Aku berkata kepada ayahku, berikan jawaban kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dikatakannya. ” Ayahku berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.”

Aku ganti berkata kepada ibuku, “Berikan jawaban kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dikatakannya.”
Ibuku berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.”
Lalu aku berkata, “Demi Allah, aku sudah tahu dan kalian juga sudah mendengar isu ini hingga ia merasuk ke dalam jiwa kalian dan kalian membenarkannya. Sekiranya kukatakan kepada kalian bahwa sebenarnya aku terbebas dari kesalahan, dan Allah tahu bahwa memang aku terbebas dari kesalahan,toh kalian tidak akan mempercayai aku. Sekiranya aku mengakui sesuatu di hadapan kalian, dan Allah tahu bahwa aku terbebas dari pengakuan ini, tentu kalian akan  membenarkan aku. Demi Allah, aku tidak mendapatkan perumpamaan melainkan perkataan ayah Yusuf (Ya’qub), yang berkata, ‘Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan’.”
Aisyah berkata, “Demi Allah, Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tidak bergeming dan tidak seorang pun dari anggota keluarga yang keluar hingga turun wahyu kepada beliau.”
Aisyah berkata, “ketika mulai tampak tanda kegembiraan pada diri Rashulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam,maka beliau benar-benar menunjukkan kegembiraan dan tersenyum. Yang pertama kali beliau ucapkan adalah, “wahai Aisyah, adapun Allah Azza wa Jalla sudah membebaskan dirimu.”
Ibuku berkata, “Bangunlah dan hampirilah beliau.”
Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menghampiri beliau dan aku tidak memuji kecuali Allah Azza wa Jalla.”
Saat itu Allah menurunkan Qs. An-Nuur ayat 11 sampai 20.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesaksian bagi ibu kita Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha dengan menurunkan ayat Al-Qur’an tentang kesucian dirinya, sebuah kesaksian yang tidak terhapus sepanjang masa. Yang dibaca oleh semua umat Islam di seluruh dunia hingga hari kiamat. Sehingga namanya tetap dikenang sepanjang masa di muka bumi ini. 

Perpisahan Dengan Kekasih

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha meriwayatkan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan berkata, “Di antara nikmat yang dilimpahkan Allah kepadaku, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal di dalam rumahku dan ketika tiba giliranku di dalam pelukan dadaku. Di samping itu Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Saat itu Abdurrahman masuk ke rumahku sambil memegangi siwak. Aku menyangga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku melihat beliau memandangi siwak itu dan aku tahu betul bahwa beliau menyukai siwak. “Apa aku perlu mengambilnya untuk engkau?” aku bertanya kepada beliau. Maka belaiu memberi isyarat dengan anggukan  kepala, mengiyakan. Aku menyerahkan siwak itu kepada beliau, tapi rupanya ia terlalu kasar dank eras. “Apakah aku perlu melenturkannya bagi engkau?” tanyaku kepada beliau. Beliau memberi isyarat dengan anggukan kepala, mengiyakan. Maka aku pun melenturkannya. Sementara itu di hadapan belaiu ada kantong dari kulit atau ceret yang di dalamnya ada air. beliau memasukkan tangan ke dalam air lalu mengusapkannya ke muka seraya bersabda, “La ilaha illallah. Sesungguhnya kematian itu sakarat.” Kemudian beliau menegakkan tangannya dan bersabda, “Di Ar-Rafiqul-A’la.” Hingga akhirnya ajal belaiu tiba dan tangan beliau condong terkulai.” ((H.R. Al-Bukhari).
Kematian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan kejadian yang mengguncangkan akal, menggetarkan hati dan mendebarkan jiwa. Manusia seperti dalam keadaan bingung. Tapi,  Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha tetap tegar hati dan jiwanya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikubur di rumah Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha.  Dengan begitu dia mendapatkan kemuliaan, biliknya tetap menjadi pusat perhatian seluruh orang Muslim di seluruh dunia.

Kemuliaan lain yang dimiliki Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha adalah, beliau pernah bermimpi seakan ada tiga rembulan di biliknya. Abu Bakar berkata,  
“Kalau mimpimu itu mimpi yang benar, berarti rumahmu akan dikuburkan penduduk bumi yang paling baik.” Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat, Abu Bakar berkata kepada Aisyah, “Inilah salah satu rembulanmu dan inilah yang paling baik. ” di rumah Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha juga dikuburkan Abu bakar dan Umar Rhadhiyallahu ‘Anhuma. Jadi komplit sudah tiga rembulan seperti mimpinya.
Wafatnya Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha

Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha wafat pada malam Selasa 17 Ramadhan tahun 58 H, yang bertepatan dengan tahun 678 M, dalam usia enam puluh enam tahun. Belai dikuburkan di Baqi’ pada malam itu pula setelah shalat witir. 

Yang mengiringi jenazahnya ialah seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya. Mereka berkata, “Kami tidak pernah melihat orang berkumpul pada malam hari yang lebih banyak dari malam itu. 

Yang menjadi imam shalat jenazahnya ialah Abu Hurairah Rhadhiyallahu ‘Anhu. Sedangkan yang turun  ke liang lahatnya ialah lima orang laki-laki dan mahramnya.

Inilah sekilas uraian tentang kehidupan Ummul Mukminin Aisyah Rhadhiyallahu ‘Anha. 
Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha serta melapangkan kuburannya. 
Aamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar