Selasa, 23 Maret 2021
birrul walidain
Rabu, 24 Februari 2021
kisah cinta Julaibib
Senin, 15 Februari 2021
Kesabaran Atha' bin Yasar
Sabtu, 06 Februari 2021
bila cinta
Bismillaah...
💞 *Bila Cinta Dalam Hati Bersemi* 💞
Cintailah orang yang menyayangimu
Karena bisa jadi
Dia pergi meninggalkanmu
Disaat engkau mulai mencintainya…….
Begitulah curahan penyesalan seorang lelaki ketika rumah tangga mereka sad ending dengan perceraian. Dia baru merasa kehilangan miliknya yang paling berharga, sosok wanita yang pernah menghiasi hari-harinya dengan kebahagiaan.
Justru lezatnya madu cinta seakan baru direguknya disaat-saat terakhir bersamanya. Sebagaimana ungkapan seorang shaleh yang mencandai istrinya : “ Cinta bertepuk sebelah tangan adalah musibah”. Sang istri membalas : “ Wajah yang berpaling darimu tapi kamu tak bisa melupakannya”.
Kulamar Engkau Di Akhirat
Ada pula gambaran menakjubkan tentang sepasang sejoli yang saling merajut cinta, dimana perasaan kasih keduanya sangat kuat, dan tak terpisahkan, hingga menjelang Abu Darda’ rahimahullah wafat, Ummu Darda’ pernah mengatakan kepadanya, “ Dulu kau pinang diriku kepada keluargaku di dunia, lalu mereka menikahkanku denganmu. Sekarang aku meminangmu kepada dirimu untuk nanti di akhirat”. Kalau begitu jangan engkau menikah lagi sepeninggalku ”.
Ummu Darda’ benar-benar memenuhi permintaan Abu Darda’. Setelah meninggalnya Abu Darda’, Muawiyah bin Abi Sufyan rahimahullah datang menyampaikan pinangan. Saat itu Ummu Darda’ masih muda dan dikenal kecantikannya Ummu Darda’ menolak, “ Tidak ” katanya. “ Aku tidak akan menikah lagi dengan seorangpun di dunia sampai aku menikah dengan Abu Darda’ di surga, insya Allah,”.
Abu Darda’ memberi nasehat spesial kepada istrinya, “Bila kau marah, aku membuatmu ridha kembali. Karena itu bila aku marah buatlah aku ridha. Kalau tidak demikian, betapa cepatnya kita akan berpisah”.
Itulah salah satu pesan penuh hikmah dari generasi terbaik yang pernah ada agar bahtera cinta tetap, meskipun hujan dan gelombang badai datang menerpa silih berganti.
Bukankah dalam setiap detik, pasutri tetap bisa merasa bahagia manakala dia menyandarkan segala kehidupannya kepada Allah Ta’ala dan melaksanakan hukum dan Syari’at-Nya. Orang yang cinta dalam hatinya bersemi akan merasa betapa sangat berharga nilai sebuah pernikahan, bagaimanapun kondisi kemiskinan, kesulitan dan berbagai penderitaan yang dialaminya.
Cinta Sepanjang Masa
Adalah Su’da rahimahallah, wanita cantik , anggun, dan lugu yang pernah mempesona seorang gubernur Madinah Marwan bin Hakam rahimahullah, wanita ini pula pernah membuat penasaran serta memikat hati Muawiyah bin Abi Sufyan rahimahullah. Lantas apa yang diimpikan wanita Arab itu ?
Su’da memiliki suami yang miskin, suatu saat Muawiyah berbicara kepada suaminya , “ Wahai pria Arab, apakah engkau masih mencintai Su’da ?”. Dia menjawab, “ Demi Allah wahai Amirul Mukminin, seandainya anda beri aku kursi kekhalifahan sekalipun dengan segala isinya, semua itu tidak ada nilainya disisiku bila dibandingkan dengan Su’da ” .
Bagaimana jawaban Su’da ketika Mu’awiyah menanyakan sosok lelaki yag dicintainya ?
Su’da menjawab,” Aku memilki kenangan manis bersama lelaki ini, cinta yang tak tergoyahkan. Bersamanya aku akan sabar menghadapi kesengsaraan hidup, sebagaimana aku mereguk kenikmatan pada saat kebahagiaan menjelang”.
Cinta di antara pasutri terkadang membuat orang lain takjub sedemikian rupa, sebagaimana kisah legendaris Su’da. Ada apa dibalik kedahsyatan cinta mereka, apa hanya karena faktor fisik, perasaan sehati, apa yang membuat magnet cinta mereka sangat kuat tak terpisahkan?
Kekuatan Sebuah Komitmen
Kenapa banyak pasangan yang memliih berpisah meski rumah tangga mereka baru seumur jagung?
Diluar kelihatannya mereka saling mesra dan menampakkan gairah cinta yang menyala-nyala .
Sebaliknya, ada rumah tangga yang berumur puluhan tahun dan nampaknya kurang mesra, bahkan sang istri selama itupun belum bisa mencintai suaminya meski telah memiliki beberapa anak.
Apa rahasia kesuksesan pernikahan?
Komitmen dan pembuktiannya, itulah kunci untuk mendapat taufik Allah sehingga sukses pernikahan seseorang! Selama seseorang memiliki visi , dan tujuan akhirat, tak masalah dengan perasaan cinta.
Kalau hanya bermodal cinta saja, namun tanpa komitmen jelas dalam bingkai ibadah kepada Allah, niscya rumah tangga akan mudah goyah. Inginkah anda berdua menjadi pasutri akhirat ?
Saatnya mempersiapkan bekal untuk menuju negeri kebahagiaan. Dan sebaik-baik bekal adalah taqwa kepada-Nya.
—————————————————-
Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah
Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah
Minggu, 31 Januari 2021
kisah teladan 39
Sabtu, 23 Januari 2021
Kisah Salaf
Sabtu, 16 Januari 2021
ibu
DI BALIK HARUMNYA NAMA MEREKA
https://t.me/sahabat_taat
"Nak, tuntutlah ilmu. Fokuslah engkau untuk belajar. Tidak usah risau dengan perbekalanmu. Aku yang akan menanggung semua kebutuhanmu dengan sedikit hasil pintalanku," kira-kira itulah ucapan salah seorang ibu kepada anaknya. Meski sedikit hasil dari memintal, meski hidup dalam kesederhanaan, sang ibu terus mendorong anaknya untuk terus menuntut ilmu.
Tak hanya dalam bekal materi saja, sang ibu terus melihat dan memerhatikan hasil perkembangan ilmu anaknya.
"Nak, kalau engkau menulis sepuluh huruf, lihatlah, apakah engkau merasakan ada tambahan rasa takut kepada Allah, kesabaran, dan ketenangan pada dirimu? Jika tidak, maka ilmu itu justru memudaratimu dan tidak berguna untukmu," kata sang ibu.
Ya, demikianlah perhatian sang ibu kepada anaknya. Kejadian ini terjadi pada sekitar abad pertama hijriah, anak itulah yang dinamai Sufyan, Sufyan bin Sa'id bin Masruq Ats Tsauri.
Siapa beliau❓
Tentu Anda telah mendengar nama harumnya, seorang ulama ternama di zamannya, imam, fakih, zahid, sampai-sampai lbnul Mubarak mengatakan,
"Tiada seorang pun yang kutulis riwayat darinya yang lebih baik daripada Sufyan Ats Tsauri rahimahullah."
Di belahan bumi yang lain, pada kurun generasi yang berbeda, bertepatan pada tahun 1330 H, seorang anak dilahirkan ke dunia. Fisiknya lemah. Dia baru bisa berjalan saat usianya tiga tahun. Ayahnya telah meninggal semenjak kecil. Di usia keenam belas, matanya terkena penyakit. Hingga, pada usia 19 tahun, penglihatannya telah buta total. Namun sang ibu tetap tak berputus asa. Dia terus mengasuh anaknya di atas kemuliaan. Dia terus mendidik anaknya di atas jalan thalabul ilmi (menuntut ilmu). Hingga anaknya tumbuh, bersemangat dan bersegera dalam kebaikan.
Sang anak senantiasa datang awal ke masjid pada waktu salat.
Dia pun terkenal dermawan. Setiap dia salam kepada seseorang, dia ajak makan siang atau makan malam bersama, meski seadanya, dengan kurma atau hidangan yang mudah untuknya.
Adapun pada masa tuanya, sang anak tumbuh memenuhi dunia ini dengan ilmu dan perbaikan. Fatwanya terus didengar dan dibaca meski jasadnya telah meninggal. Namanya terus semerbak hingga waktu ini. Dialah Imam Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.
Pembaca, rahimakumullah, dua kisah yang kami sebutkan ini hanyalah contoh. Kalau kita gali lebih dalam, niscaya kita dapatkan hal yang serupa. Sebutlah nama harum berikut: Imam Malik, Imam Asy Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Al Bukhari, dan masih banyak sederetan nama lainnya, yang menampakkan hal yang sama.
Bahwa, seorang tokoh akan muncul dari seorang ibu yang bijaksana, ibu yang memerhatikan anaknya dan mengarahkan anaknya menjadi pribadi mulia.
"Ibu adalah madrasah. Jika engkau mempersiapkannya, engkau mempersiapkan sebuah bangsa dan generasi yang baik.
Ibu adalah ujung tombak peradaban. Merekalah yang akan mempersiapkan anak-anak generasi setelahnya.
Saat sang ibu salehah, hasil yang didapatkan pun niscaya cemerlang insya Allah.
Ibu yang mendidik anaknya untuk zuhud, hidup sederhana, mempersiapkan anak untuk menghadapi kesulitan dan kepayahan, niscaya akan lahir generasi tangguh dan kokoh.
Berbeda dengan ibu yang tidak mempersiapkannya demi hal tersebut.
•Menangis, saat anaknya sedikit merasakan kepayahan.
•Mengeluh saat anaknya sedikit mendapatkan kesulitan menerapkan peraturan pondok.
Yang seperti ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cengeng, tidak tahan banting, dan akan menjadi anak yang mudah terkalahkan.
Generasi yang berani maju jihad melawan musuh, hanya akan lahir jika sang ibu terus memberikan dorongan untuk berani berkorban di jalan Allah.
Karena itu, jadilah ibu yang salehah demi anak-anak Anda.
Persiapkan diri Anda, wahai ibu, untuk mempersiapkan generasi setelah Anda.
Demikian pula para ayah, pilihlah ibu yang akan menjadi madrasah bagi anak Anda, anak yang kelak akan menjadi penerus perjuangan Islam.
Wallahu a'lam bish shawab.
Kamis, 26 November 2020
kisah wanita yang pesan kamar di neraka
Rabu, 28 Oktober 2020
saat Allah memberi hidayah
Jumat, 05 Januari 2018
Saya harus membuang air susu saya
{ Saya Harus Membuang Air Susu Saya, Bu }
Kisah ini didapatkan dari Riyadh Saudi Arabia. Di sebuah desa Huraimla, ada seorang wanita yang sudah dinyatakan oleh Dokter terkena kanker darah, kondisi fisiknya sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Untuk merawat dirinya dan memenuhi semua keperluannya, dia mendatangkan pembantu dari Indonesia. Pembantu ini adalah seorang wanita yang taat beragama. Satu minggu setelah bekerja, majikan merasa pekerjaannya dianggap bagus. Majikan wanita selalu memperhatikan apa yang dia kerjakan. Suatu waktu si majikan memperhatikan kelakukan aneh si pembantu. Pembantunya ini sering sekali ke kamar mandi dan berdiam cukup lama. Dengan tutur kata yang lemah lembut si majikan bertanya. “Apa yang sebenarnya engkau lakukan di kamar mandi?” Pembantu itu tidak menjawab, tetapi justru menangis tersedu-sedu. Si majikan menjadi iba dan kemudian menghiburnya sambil menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Akhirnya pembantunya itupun bercerita bahwa dirinya baru 20 hari melahirkan anaknya. Karena desakan ekonomi itulah dia terpaksa berangkat bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. “Saya harus membuang air susu saya Bu, kalau tidak dibuang dada saya terasa sesak dan penuh karena tidak disusu oleh anak saya.” Air susu yang menumpuk dan tidak tersalurkan itulah yang membuatnya sakit sehingga harus diperas dan dibuang di kamar mandi. “Subhanallah, Anda berjuang untuk anak dan keluarga Anda!!!” kata majikan.
Ternyata majikannya tidak seburuk seperti yang diceritakan di koran-koran atau televisi. Seketika itu juga si majikan memberikan gajinya secara penuh selama 2 tahun sesuai dengan akad kontraknya dan memberikannya tiket pulang. “Kamu pulanglah dulu, uang sudah saya berikan penuh untuk 2 tahun kontrakmu, kamu susui anakmu secara penuh selama 2 tahun dan jika kamu ingin kembali bekerja kamu mengubungi telepon ini sekaligus saya akan mengirim uang untuk tiket keberangkatanmu .” “Subhanallah, apa Ibu tidak apa- apa saya tinggal?” Si majikan waktu itu hanya menggelengkan kepala dan berkata bahwa apa yang kamu tinggal lebih berharga dari pada mengurus saya.
Setelah pembantu itu pulang, majikan mengalami perubahan luar bisa. Pikirannya menjadi terfokus pada kesembuhan, dan hatinya menjadi sangat senang karena dapat membantu orang yang sedang kesulitan. Hari-harinya tidak lagi memikirkan sakitnya lagi, yang ada hanyalah rasa bahagia. Sebulan kemudian dia baru kembali lagi ke rumah sakit untuk kontrol. Dokter yang menanganinya segera melakukan pemeriksaaan mendetail. Tapi apa yang terjadi? Dokter yang menangani awal tidak melihat ada penyakit seperti diagnosa sebelumnya. Dia tidak melihat ada penyakit kanker darah yang diderita pasiennnya.
Dokter itu terkagum-kagum, bagaimana mungkin bisa sedahsyat dan secepat itu penyakitnya bisa sembuh, apalagi kanker darah. Apa telah terjadi salah diagnosa? Akhirnya Dokter itupun bertanya, apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh pasien. Wanita itupun menjawab, “Saya tidak melakukan apa-apa dengan sakit saya, mungkin sedekah yang telah saya lakukan ke pembantu saya telah membantuku sembuh, nyatanya setelah saya menolong hati saya menjadi lebih bergairah untuk sembuh dan hidup, saya mempunyai pembantu yang sedang menyusui anaknya tapi susu itu tidak dapat disalurkan dan harus dibuang di kamar mandi.” Saya menangis apabila mengingat akan keadaannya, akhirnya pembantu itu saya suruh pulang agar bisa menyalurkan air susunya dan dia sehat dan anaknya juga bisa sehat. Mungkin dengan itu akhirnya sakit saya sembuh Dokter.
Dokter itupun akhirnya tersadar, bahwa diagnosa dan sakit apapun bisa sembuh karena Allah memang telah menghendakinya. “Obatilah orang yang sakit dengan sedekah.”
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya …
Penulis : Ustadz Abu Hamzah
Oleh: Mutiara Risalah Islam
📝 Mau Dapat Tambahan Ilmu Setiap Hari dari Ust Dr. Musyaffa' ad Dariny, M.A.
📔 Anda akan mendapatkan Nasehat, Artikel,Tanya Jawab Terbaik Setiap Hari di Group WA Mutiara Risalah Islam MRI
📱Daftar ke Wa : 089628222285 atau klik 👉http://gabung.kliksini.me/wa/groupMRI
Rabu, 03 Januari 2018
Sepenggal kisaj di langit Turki
{ Sepenggal Kisah Di Langit Turki }
Di dalam buku hariannya Sulthon Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kekalutan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya. Sultan berkata kepada kepala pengawal: “Mari kita keluar sejenak.
Diantara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan dimalam hari dengan cara menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka disebuah lorong yang sangat sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun setiap orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya. Sultanpun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan. Mereka bertanya: “Apa yang kau inginkan?. Sultan menjawab: “Mengapa orang ini meningal tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?” Mereka berkata: “Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina”. Sultan menimpali: “Tapi . . bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya”.
Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya. Dalam tangisnya sang istri berucap: Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah.. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang sholeh” Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget.. Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang mengatakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya”.
Sang istri menjawab: “Sudah kuduga pasti akan begini. Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu di bawah ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin”. Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi”. Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam”.
Orang-orangpun hanya menyaksikannya selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir. Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: “Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu”. Ia hanya tertawa, dan berkata: “Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya”. Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatinya dan menguburkannya”. Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat.
Catatan:
Jangan suka menilai orang lain dari sisi lahiriahnya saja. Atau menilainya berdasarkan ucapan orang lain. Terlalu banyak yang tidak kita ketahui. Apalagi soal yang tersimpan di tepian paling jauh di hatinya. Kedepankan prasangka baik terhadap saudaramu. Boleh jadi orang yang selama ini kita anggap sebagai penduduk Jahannam, ternyata penghuni Firdaus yang masih melangkah di bumi.
Ingat…
Diantara yang paling banyak membuat orang diseret masuk kedalam neraka adalah lisannya…
Penulis : Ustadz Aan Chandra Thalib
Oleh: Mutiara Risalah Islam
✏ Mau Dapat Tambahan Ilmu Setiap Hari dari Ust Dr. Musyaffa' ad Dariny, M.A...?
📒 Anda akan mendapatkan Nasehat, Artikel,Tanya Jawab Terbaik Setiap Hari di Group WA Mutiara Risalah Islam MRI
☎ Daftar ke Wa : 089628222285 atau klik 👉http://gabung.kliksini.me/wa/groupMRI
Istri sholehah
[Kisah Istri Sholehah]
Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :
Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.
Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…
Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.
Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.
Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.
Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.
Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.
Putriku bercerita :
Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.
Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”
Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…
Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…
Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”
Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.
Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…
Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.
Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??
Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…
Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.
Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…
Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…
Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin (SELESAI…)
Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
Hiaslah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…
( http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html , Diterjemahkan oleh Ust Firanda Andirja)
Oleh : Pusat Buku Sunnah
📝 Mau Dapat Tambahan Ilmu Setiap Hari.. ?
📚 Anda akan mendapatkan Fawaid, Artikel, Nasehat, Poster Dakwah Serta Resensi Buku Agama Sesuai Al Quran dan Sunnah Terbaik Setiap Hari di Group WA Mutiara Penuh Hikmah PBS
📱 Daftar ke Wa : 08975759697 atau klik 👉http://gabung.kliksini.me/wa/GroupWA
Senin, 04 Desember 2017
Istighfar seorang tukang roti
[Kisah Tukang Roti dan Istighfar]
Kisah ini terjadi pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu. Imam Ahmad ingin menghabiskan malamnya di masjid, akan tetapi beliau dilarang menginap di masjid lewat perantara penjaga masjid. Imam Ahmad berusaham agar diizinkan namun sia-sia. Imam Ahmad berkata kepadanya, "Saya akan tidur di sini." Dan benar, Imam Ahmad bin Hanbal tidur di tempatnya itu. Maka penjaga masjid mengeluarkannya dari area masjid.
Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang syaikh yang berwibawa, terlihat padanya ciri-ciri kebaikan dan ketakwaan. Tiba-tiba beliau dilihat oleh seorang tukang roti. Melihat beliau seperti itu, dia menawarkan agar menginap di rumahnya. Lantas Imam Ahmad bin Hanbal mengikuti si tukang roti. Dia menjamu beliau kemudian beranjak pergi mengambil adonannya untuk membuat roti. Imam Ahmad mendengar si tukang roti beristihfar dan beristighfar.
Waktu berlalu lama, sementara dia tetap seperti itu (beristighfar), Imam Ahmad bin Hanbal keheranan. Ketika hari beranjak pagi, Imam Ahmad bertanya kepada sang tukang roti tentang istighfarnya semalam, dia menjawab bahwa selama mengadon tepungnya, dia mengadon sambil beristighfar.
Imam Ahmad bertanya kepadanya, "Apakah kamu mendapatkan buah dari istighfarmu?" Imam Ahmad bertanya kepada sang tukang roti dengan pertanyaan ini karena beliau tahu buah-buah istighfar, beliau tahu keutamaan istighfar, serta tahu faidah-faidah istighfar.
Tukang roti berkata, "Ya. Demi Allah, saya tidak memohon permohonan kecuali pasti dikabulkan, kecuali satu doa."
Imam Ahmad bertanya, "Apa itu?"
Si tukang roti berkata, "(Permohonan untuk) melihat Imam Ahmad bin Hanbal!"
Imam Ahmad berkata, "Saya Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, aku diseret kepadamu."
Kisah ini disebutkan oleh al-Ustadz Amr Khalid
(Keajaiban Sedekah & Istighfar karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam (penerjemah Muhammad Iqbal, Lc & Jamaluddin), penerbit Darul Haq cet. V, Rajab 1429 H/Agustus 2008 M, hal. 142-143.)
Oleh : Pusat Buku Sunnah
📝 Mau Dapat Tambahan Ilmu Setiap Hari.. ?
📚 Anda akan mendapatkan Fawaid, Artikel, Nasehat, Poster Dakwah Serta Resensi Buku Agama Sesuai Al Quran dan Sunnah Terbaik Setiap Hari di Group WA Mutiara Penuh Hikmah PBS
📱 Daftar ke Wa : 08975759697 atau klik 👉http://gabung.kliksini.me/wa/GroupWA