Jumat, 04 November 2011

FATHIMAH AZ-ZAHRA RHADHIYALLAHU 'ANHA



KEUTAMAAN NASABNYA

Fatimah dilahirkan di Ummul Qura, ketika orang-orang Quraisy merehab bangunan Ka’bah, yaitu lima tahun sebelum nubuwah. Kedua orang tuanya sangat gembira dan senang karena kelahirannya. 

Ayahnya adalah pemimpin semua anak Adam, sebagai rahmat bagi semesta alam, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Ibunya adalah pemimpin wanita semesta alam dan orang yang pertama kali masuk Islam, Khadijah bintu Khuwailid Rhadhiyallahu ‘Anha.

Fathimah  sendiri adalah pemimpin para wanita surga pada zamannya dan merupakan putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang paling utama.

Anaknya adalah dua orang pemimpin para pemuda penghuni surga, dua cucu  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, al-Hasan dan al-Husain Rhadhiyallahu ‘anhuma.

Pamannya adalah pemimpin para syuhada’, salah seorang singa ar-Rahman dan Rasul-Nya, Hamzah bin Abdul Muththalib Rhadhiyallahu ‘anhu.

Pamannya yang lain adalah pemimpin Bani Hasyim, yang biasa melindungi tetangga, mengorbankan harta, memberi pakaian dan makanan kepada orang yang tidak mampu, yaitu al-Abbas bin Abdul Muththalib Radhiyallahu ‘anhu.

Anak pamannya adalah pemimpin para syuhada’ yang besar, panji para mujahidin, Ja’far bin Abu Thalib Rhadhiyallahu ‘anhu.

Subhanallah, siapakah yang dapat menyaingi kebanggaan Fathimah Az-Zahra? Masih adakah keutamaan setelah keutamaan ini? Beliau adalah wanita yang dipanggil oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan gelar “Ibu dari ayahnya.” 

DI BARISAN TERDEPAN

Setelah turun wahyu yang membawa tugas risalah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari Rabb-nya, maka Ummul Mukminin Khadijah adalah orang yang pertama beriman kepada risalah itu. Kemudian diikuti oleh putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang suci, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fathima Rhadhiyallahu anhuma.

MEMBELA AYAHNYA

Semasa kanak-kanaknya Fathimah az-Zahrah menyaksikan dan merasakan kesulitan yang dialami orang tuanya. Suatu hari dia menyaksikan perlakuan salah seorang Quraisy yang sangat kasar dan beringas, Uqbah bin Abu Mu’aith. Pada saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedang shalat di depan Kakbah, ketika beliau sedang sujud Uqbah datang menghampiri dan meletakkan kotoran (yang menyertai kelahiran anak hewan) dipunggung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Orang-orang Quraisy yang jahat menyaksikan kejadian itu sambil tertawa terbahak-bahak dan mengolok-olok . Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tetap berada dalam sujudnya tanpa bergeming. 

Kejadian ini didengar oleh Fathimah az-Zahra. Dia segera datang dan menyingkirkan isi perut binatang itu dari punggung ayahnya dan mencucinya.

Seusai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menengadahkan tangan ke  langit dan berdoa,

Ya Allah, ada kewajiban atas Engkau untuk mencelakakan Syaibah bin Rabi’ah. Ya Allah, ada kewajiban atas Engkau untuk mencelakakan Abu Jahl bin Hisyam. Ya Allah, ada kewajiban atas Engkau untuk mencelakakan Uqbah bin Abu Mu’aith. Ya Allah, ada kewajiban atas Engkau untuk mencelakakan Umayyah bin Khalaf.”

Ketika mereka melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka terdiam dan tidak berani tertawa lagi, karena mereka takut terhadap doa beliau. Orang- orang yang namanya disebutkan dalam doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersebut itu semuanya terbunuh dalam Perang Badar.

PEMBOIKOTAN

Pada saat orang-orang kafir Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib, Fathimah az-Zahra Rhadhiyallahu ‘anha juga ikut bersama orang-orang yang diboikot ini. Boikot ini berdampak besar terhadap kesehatan beliau, yang terus memengaruhi kondisinya hingga beliau wafat.

KEMATIAN IBUNDA

Fathimah Az-Zahra Radhiyallahu ‘anhu tidak akan pernah melupakan hari yang sangat memilukan dalam hidupnya. Hari ketika dia harus kehilangan ibunya Khadijah Rhadhiyallahu ‘anha. Tapi peristiwa ini justru menambah bekal iman dan kepasrahan dirinya serta membuatnya semakin dekat dengan ayahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari beliau dia mendapatkan kasih saying dan kelembutan yang besar. Karena itulah, dia selalu menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam memikul tugas dan beban kehidupan, hingga akhirnya Allah mengizinkan hijrah ke Madnah Al-Munawwarah.

MENIKAH DENGAN ALI BIN ABI THALIB

Pada tahun kedua setelah hijrah (setelah Perang Badar Kubra), Ali bin Abu Thalib menikahi Fathimah putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan menjalani kehidupan sebagi suami istri bersama.

Ali bin Abu Thalib menuturkan kisah pernikahan mereka secara rinci. Beliau berkata, 

“Fathimah pernah dilamar seseorang, yang disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Lalu maula-ku berkata kepadaku, ‘Apakah engkau sudah tahu bahwa Fathimah sudah dilamar?’, ‘Belum’, jawabku.” ‘Dia sudah dilamar. Lalu apa yang menghalangimu untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, supaya dia menikahkanmu dengan Fathimah?’. ‘Aku tidak punya apa-apa untuk menikah dengannya’, jawabku. ‘Jika engkau menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau pasti akan menikahkanmu,’ kata maula-ku. Ali menuturkan, ‘Dia terus-menerus membujukku, hingga akhirnya aku memberanikan diri menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tapi setelah aku duduk di hadapan beliau, ternyata aku bungkam. Demi Allah, aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun karena sungkan dan takut.’ ‘Apa yang mendorongmu dating ke sini? Apakah engkau mempunyai keperluan?’ Tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Aku hanya bungkam, tidak mampu bicara. ‘Boleh jadi engkau datang untuk melamar Fathimah,’ sabda beliau. ‘Benar’ jawabku. ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu sebagai mahar baginya?’ Tanya beliau. ‘Tidak, demi Allah wahai Rasulullah,’ jawabku. ‘Apa yang engkau lakukan terhadap baju besi yang dulu pernah kuberikan kepadamu untuk perangkat perang?’ Tanya beliau. ‘Aku masih menyimpannya.’ Demi yang diriku ada di tangan-Nya, itu hanyalah hasil kerajinan Hatham bin Muharib (pandai besi pembuat baju besi) yang nilainya hanya empat dirham,’ kataku.

Beliau bersabda, ‘Aku menikahkanmu dengan Fathimah. Kirimlah utusan untuk mengambil baju besi itu dan berikan ia sebagai maskawin untuk menghalalkan dirinya.’ Lalu beliau bersabda, ‘Baju besi itu benar-benar merupakan maskawin bagi Fathimah putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.’
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menemui putrinya seraya bersabda, ‘Sesungguhnya Ali berhasrat terhadap dirimu.’

Fathimah hanya diam saja. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menikahkan mereka berdua. Usia Fathimah pada saat itu delapan belas tahun sedangkan Ali berusia dua puluh dua tahun.
Pada malam pengantin Fathimah az-Zahrah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu, lalu beliau mengucurkannya kepada Ali untuk wudhu’nya, lalu beliau bersabda, “Ya Allah, berkahilah mereka berdua dan limpahkanlah barakah bagi mereka berdua dalam keturunannya.”

Bani Abdul Muththalib dan para sahabat berkumpul karena peristiwa yang membahagiakan ini. Hamzah bin Abdul Muththalib menyembelih sebagian untanya dan menyuguhkannya kepada orang-orang yang hadir. Kemudian Fathiimah Az-Zahrah pindah ke rumah suaminya untuk menjalani kehidupan sebagai suami istri. Sebuah rumah yang tidak memiliki kasur yang empuk dan tebal, tidak ada gelas, tidak pula bantal-bantal yang terhampar atau pun permadani yang lebar. Itu adalah sebuah rumah yang sederhana, di dalamnya hanya ada selembar kulit domba, bantal yang isinya jerami, wadah air dari kulit, duah buah tempayan dan satu alat penggiling.

Tak seberapa lama berselang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang ke rumah Fathimah dan bersabda, “Aku ingin memindahkanmu agarlebih dekat dengan aku.” Akhirnya Ali dan Fathimah pindah ke rumah Haritsah bin An-Nu’man yang rumahnya lebih dekat dengan rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar