Minggu, 30 Oktober 2011

AL-HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB Rhadhiyallahu ‘Anhu

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Abu Muhammad, cucu Rasulullah. 
Sa’ad meriwayatkan dari Imran bin Sulaiman dia berkata: Al-Hasan dan Al-Husein adalah dua nama-nama penghuni Surga, dan tidak ada seorang Arab pun yang memakai nama tersebut pada masa jahiliyah.
Al-Hasan dilahirkan pada pertengahan bulan Ramadhan tahun ketiga Hijriyah. Dia meriwayatkan beberapa hadits dari Rasulullah.

Nama al-Hasan diberikan oleh Rasulullah. Dia diaqiqah pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dipotong rambutnya. Rasulullah memerintahkan untuk memberikan sedekah perak seberat rambut yang dipotong.

Dia sangat mirip dengan Rasulullah. 
Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas dia berkata: “Tidak ada seorangpun yang amat mirip dengan Rasulullah dari pada al-Hasan bin Ali.”
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari al-Barra’ dia berkata: 
Saya melihat Rasulullah meletakkan al-Hasan bin Ali di atas pundaknya, seraya berkata, “Ya Allah, saya mencintainya maka cintailah dia.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakrah dia berkata:  
Saya mendengar Rasulullah berada di atas mimbar dan al-Hasan berada di sampingnya, kadang-kadang dia melihat kepada yang hadir dan kadang-kadang melihat kepada al-Hasan seraya berkata, “Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid (tuan), semoga Allah akan mendamaikan dengannya dua kelompok kaum Muslimin yang bertikai.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata: 
al-Hasan dan al-Husein adalah rayhanahku (bunga) di dunia.
Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-khudri dia berkata bahwa RasuluIlah bersabda, 
“Al-Hasan dan al-Husein adalah penghulu pemuda di Surga.”
Iman at-Tirmidzi meriwayatkan dari Usmah bin Zaid dia berkata: 
“Saya melihat Rasulullah, sedangkan al-Hasan dan al-Husein ada di atas dua pahanya, dia berkata, “Ini adalah dua cucuku dari anak putriku. Ya Allah, sesungguhnya saya mencintai keduanya, maka cintailah mereka dan cintailah orang-orang yang mencintai mereka.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair dia berkata: 
Orang yang paling mirip dengan Rasulullah dan paling disenangi olehnya dari kalangan keluarganya adalah al-Hasan. Saya melihat dia datang dan Rasulullah sedang bersujud lalu al-Hasan naik ke punggungnya. Rasulullah tidak menurunkannya hingga dia sendiri yang turun. Sebagaimana saya juga melihat Rasulullah sedang ruku’, maka dia masuk diselangkangan Rasulullah dan keluar dari bagian yang lain.
Al-Hasan adalah seorang sayyid, penyabar, sangat tenang pembawaannya, pemurah, akhlaknya terpuji, tidak menyukai pertengkaran dan pertumpahan darah dan pemurah.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari ‘Umair bin Ishaq dia berkata: 
Tidak ada seorangpun yang berbicara di hadapanku yang aku inginkan agar dia tidak berhenti bicara kecuali al-Hasan bin Ali.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibn Ishaq dia berkata: 
Ketika Marwan menjadi gubernur, dia seringkali mencaci maki Ali dalam setiap khutbah Jum’atnya, sedangkan al-Hasan mendengar apa yang Marwan katakan, namun dia tidak pernah membalasnya. Kemudian Marwan mengirim seorang laki-laki dan mengatakan kepadanya, “Atas nama Ali dan namamu, sesungguhnya saya tidak menganggapmu kecuali seekor keledai yang jika dikatakan padanya, siapa ayahmu? Dia menjawab, ibuku adalah seekor kuda.”
Al-Hasan berkata kepada orang itu,
”Kembalilah kepadanya dan katakan padanya: “Saya tidak akan membalas apa yang kamu katakan dan saya tidak akan mencacimu karena perkataanmu. Namun ingatlah perjumpaan kita di hadapan Allah, jika kamu benar maka Allah akan mengganjarmu dengan kebenaran yang kamu katakan dan jika kamu bohong maka sesungguhnya siksa Allah sangatlah pedih.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari al-Mubarrid dia berkata, Hasan bin Ali berkata, 

“Barangsiapa yang menyandarkan diri kepada apa yang telah Allah pilihkan, maka dia tidak akan pernah mengharapkan apa yang Allah tidak pilihkan baginya. Dan inilah makna dari ridha kepada qadha’ Allah.”
Al-Hasan memangku khalifah setelah ayahnya terbunuh. Dia dibaiat oleh orang-orang Kufah. Dia tinggal di Kufah selama enam bulan dan beberapa hari. Kemudian Mu’awiyah datang menemuinya. Al-Hasan kemudian mengirimkan utusan dan menyerahkan semua kekhalifahan kepada Mu’awiyah.
Al-Hasan turun dari kursi khalifah. Beliau mengundurkan diri dari kursi khalifah pada bulan Rabi’ul Awal tahun 41 H.

Para sahabatnya berkata, 
“Wahai orang yang menghinakan kaum Muslimin!.”
Dia berkata, 
“Saya bukanlah orang yang menghinakan kaum mukminin, namun saya tidak suka membunuh kalian lantaran berebut kekuasaan.”
Dalam riwayat lain beliau berkata, 
“Sesungguhnya seluruh orang Arab telah berada di bawah telapak tanganku, mereka akan memerangi siapa pun yang saya perangi dan akan berdamai dengan orang yang berdamai denganku. Namun saya biarkan mereka demi mencari keridhaan Allah dan mencegah terjadinya pertumpahan darah di antara sesame umat Muhammad.”
Saat itu tampaklah mukjizat kenabian Rasulullah saat dia bersabda, 
“Dia akan mendamaikan dua golongan kaum Muslimin yang sedang bertikai.”
Kemudian al-Hasan meninggalkan Kufah menuju Madinah dan menetap di sana. Imam al-Baihaqi dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Abu al-Mundzir, Hisyam bin Muhammad, dari ayahnya dia berkata, 
Al-Hasan ditimpa krisis keuangan. Dia mendapatkan gaji dari setiap tahun sebanyak seratus ribu. Pada suatu tahun Mu’awiyah tidak memberikan bayaran itu kepadanya, maka dia menderita krisis keuangan tersebut. Al-Hasan berkata, “Saya meminta tinta kepada salah seorang sahabat untuk menulis surat kepada Mu’awiyah tentang bagianku, namun saya tidak melakukannya.”
Tiba-tiba dalam tidurku saya melihat Rasulullah berkata, 
“Bagaimana keadaanmu wahai Hasan?.”
Saya katakan, 
“Saya baik-baik wahai kakekku.” Saya kemudian melaporkan tentang ditundanya bayaran yang seharusnya diberikan kepada saya. Lalu Rasulullah bersabda, “Apakah kau memanggil seseorang agar kamu bias menulis permohonan kepada makhluk sepertimu dan kamu peringatkan tentang bayaranmu?.”
Saya katakan, 
“Ya, wahai Rasulullah, lalu apa sebaiknya yang saya lakukan?.”
Rasulullah bersabda, 
“Katakan doa ini, Ya Allah, tanamkan dalam dadaku harapan untukmu, dan putuskanlah harapanku selain-Mu hingga tidak saya gantungkan harapanku kepada selain-Mu. Ya Allah, tanamkanlah dalam dadaku yang saya tidak kuat melakukannya, dan saya tidak mampu menanggungnya dan keinginan yang tidak saya sampai kepadanya, dan belum pernah terlontar pada lidahku apa yang Kau berikan kepada orang-orang terdahulu dan yang belakangan dari keyakinan, maka berikanlah itu kepadaku wahai Tuhan Semesta Alam.”
Al-Hasan mengatakan, 
Demi Allah belum sepekan saya mengucapkan doa ini, ternyata Mu’awiyah mengirim kepada saya uang sebanyak satu juta lima ratus ribu. Lalu saya katakan, “Segala puji bagi Allah yang tidak pernah melupakan orang yang mengingat-Nya, dan tidak pernah mengecewakan orang yang meminta-Nya.”
Saya kembali melihat Rasulullah dalam mimpiku. Dia berkata, 
“Bagaimana keadaanmu wahai Hasan?.”
Saya menjawab. 
“Baik-baik saja wahai Rasulullah!” lalu saya beritahukan kepadanya apa yang terjadi. Rasulullah berkata, “Wahai anakku, demikianlah orang yang menggantungkan harapannya kepada Yang Maha Pencipta dan tidak pernah menggantungkan harapannya kepada makhluk-Nya.”
Al-Hasan wafat pada tahun 49 H di Madinah. Beliau meninggal karena diracun. Saudaranya, Husein, mendesaknya untuk memberitahukan kepadanya siapa yang telah meracuninya, namun dia tidak memberitahukannya. Dia berkata, 

“Murka Allah jauh lebih berat daripada yang saya duga, dan jika saya kabarkan maka dia akan dibunuh karena kematianku, sementara Allah berlepas diri darinya.”
Dalam kitab ath-Thuyuriyyat dari Salim bin Isa berkata, 
Tatkala kematian menjelang, al-Hasan merasa ketakutan. Lalu al- Husein berkata, “Mengapa kamu demikian takut? Bukankah kamu akan bertemu dengan Rasulullah dan Ali, yang keduanya adalah ayahmu? Dan bukankah kamu akan bertemu dengan Khadijah dan Fatimah yang keduanya adalah ibumu? Dan bertemu al-Qasim, ath-Thahir, Hamzah dan Ja’far yang tak lain adalah pamanmu?.”
AL-Hasan berkata, 
“Wahai adikku, sesungguhnya saya akan memasuki perkara dari perkara Allah yang saya belum pernah memasukinya, dan saya akan melihat makhluk yang belum pernah saya lihat sebelumnya.”
Ibnu Abdul Barr berkata, tatkala ajal menjelang al-Hasan berkata kepada saudaranya, 
“Wahai saudaraku, sesungguhnya ayahmu pernah berminat untuk menjadi khalifah, namun Allah palingkan dia darinya dan Abu Bakarlah yang memangkunya. Lalu dia kembali menginginkannya, namun Allah palingkan darinya dan Dia berikan kepada Umar. Kemudian dia sama sekali tidak ragu bahwa perkara itu akan jatuh ke tangannya saat terjadi musyawarah. Namun kembali dia dipalingkan dan Utsmanlah yang berkuasa. Tatkala Utsman terbunuh Ali dilantik menjadi khalifah. Saat itulah dia banyak mendapat penentangan hingga dia harus menghunus pedang dan khilafah tidak mulus baginya. Demi Allah, Allah tidak akan menggabungkan pada diri kita antara khilafah dan kenabian, maka janganlah sampai saya melihat orang-orang bodoh dari orang-orang Kufah mengusirmu dari negeri mereka.”
Al-Hasan berkata kepada adiknya al-Husein, 
“Sesungguhnya saya telah meminta kepada Ummul Mukminin (Aisyah r.a) agar saya bisa dikuburkan bersama Rasulullah, dan dia menyanggupi permintaanku. Maka jika saya mati mintalah itu kembali kepadanya. Saya kira orang-orang itu akan mencegah apa yang akan kamu lakukan. Jika mereka melakukan itu, maka janganlah engkau melakukan perlawanan.”
Tatkala al-Hasan meninggal, al-Husein dating menemui ‘Aisyah. Ummul Mukminin berkata, 
“Ya, boleh, dengan senang hati.”
Namun Marwan melarangnya. Akhirnya al-Hasan dikuburkan di pemakaman al-Baqi’ di samping kuburan ibunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar