Baiat Aqabah
I
Pada musim
haji yang bertepatan dengan tahun kedua belas kenabian, 12 orang muslim Madinah
datang ke Mekah untuk berhaji. Beberapa orang diantaranya sudah pernah bertemu
dengan Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
pada musim haji sebelumnya dan telah beriman kepadanya. Mereka membawa
rekan-rekannya menemui Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berba’iat
kepada beliau.
Rasulullah
shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada mereka,
“Silahkan kalian berba’iat
kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, mencuri, berzina,
membunuh anak-anak kalian, membuat kedustaan (fitnah) dengan tangan dan
kaki-kaki kalian, kericuhan di antara kalian dan menentangku dalam kebaikan.
Barangsiapa yang menepati sumpah ini, niscaya ia akan mendapatkan pahala dari
sisi Allah. Namun, barangsiapa melanggarnya, maka keputusannya adalah hanya
pada Allah. Dia bisa mengazabnya dan juga bisa mengampuninya.”
Mereka pun
berba’iat kepada Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kalimat
tersebut.
Ketika mereka
hendak pulang ke Madinah, Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus
Mush’ab ibn Umair untuk menyertai mereka guna membacakan Al-Qur’an, mengajarkan
agama Islam dan memahamkan beberapa hukum agama kepada mereka. Di Madinah dia
tinggal di rumah As’ad ibn Zurarah.
Tak lama
kemudian hamper seluruh rumah Madinah berpenghunikan orang-orang Islam, baik
laki-laki maupun perempuan. Beberapa waktu sebelum datangnya musim haji tahun
berikutnya (tahun ketiga belas dari kenabian), Mush’ab ibn Umair kembali ke
Mekah untuk memberikan kabar gembira kepada Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam tentang keberhasilan tugasnya berkat taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Baiat Aqabah
II
Pada musim
haji tahun ketiga belas dari kenabian, sekelompok besar kaum muslimin Madinah dating
ke Mekah untuk menjalankan haji di pimpin oleh al-Barra ibn Ma’mur. Sesampainya
di Mekah, kaum muslimin Medinah tidak
bisa bertemu langsung dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena
situasi keamanan tidak memungkinkan. Mereka hanya bisa berkomunikasi dengan
Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara sembunyi-sembunyi. Dari hasil
pertemuan selama beberapa kali itu mereka dan Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam sepakat untuk menentukan waktu dan pertemuan yang akan mereka gunakan
untuk menandatangani sebuah perjanjian besar dan paling penting dalam sejarah
Islam.
Ibn Ishaq
meriwayatkan: Ka’ab ibn Malik berkata,
“Kami pergi meninggalkan Madinah untuk
berhaji. Pada musim haji tahun sebelumnya kami telah berjanji kepada Rasulullah
untuk bertemu beliau di Aqabah pada pertengahan hari-hari tasyriq. Setelah kami
menyelesaikan ibadah haji dan malam yang kami janjikan untuk bertemu Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun
telah tiba. Maka, aku bersama sejumlah orang bersiap-siap untuk menemui
Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
di tempat dan pada waktu yang telah kami rencanakan. Untuk menghindari
kecurigaan malam itu kami tidur bersama kaum kami di atas kendaraan kami.
Ketika sepertiga malam baru saja berlalu, kami pergi menuju tempat yang telah
kami sepakati dengan menyelinap dan sembunyi-sembunyi. Kemudian kami berkumpul
di Sya’ab, Aqabah. Saat itu kami berjumlah 73 orang laki-laki dan 2 orang
wanita.
Kami
berkumpul di Sya’ab menunggu kedatangan Rasulullah, tak lama kemudian beliau
datang bersama Abbas ibn Abdul Muthalib (saat itu beliau belum masuk Islam).
Pertemuan pun dimulai dan Abbas ibn Abdul Muthalib berkata,
“Wahai seluruh
warga Khazraj (Orang Mekah pada waktu itu menyebut warga Medinah dengan
Khazraj, tanpa membedakan wilayah Aus dan Khazraj), sesungguhnya Muhammad ini
berasal dari keluarga kami seperti yang telah kalian maklumi. Kami telah
melindunginya dari kaum kami sehingga ia pun tetap terhormat dan aman di
negerinya. Namun ternyata sekarang justru ia ingin bergabung dan tinggal dengan
kalian. Maka, bila kalian sanggup memenuhi apa yang pernah kalian janjikan
kepadanya dan melindunginya dari orang-orang yang memusuhinya, maka kalian
harus bertanggung jawab atas semua itu. Dan ingat, jangan kalian bermain-main
dengannya, karena ia masih terhormat dan terlindungi oleh kaumnya dan juga
negerinya.”
Kami pun
menjawab:
“Kami telah mendengar apa yang anda sampaikan. Maka sekarang
bicaralah, wahai Rasulullah! Tentukanlah apa yang kau inginkan dan dikehendaki
Tuhanmu.”
Kemudian Rasulullah mengutarakan beberapa patah kata, membacakan
beberapa ayat Al-Qur’an, berdo’a kepada Allah dan memuji kebesaran ajaran
Islam. Setelah itu beliau berkata,
“Aku akan meminta kalian berbai’at untuk melindungiku
seperti kalian melindungi istri dan anak-anak kalian”
maka dengan cepat Barra
ibn Ma’rur mengangkat tangan Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan
kemudian berkata,
“Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai
seorang nabi, kami sungguh-sungguh akan melindungimu sebagaimana kami
melindungi anak-anak dan istri-istri kami. Wahai Rasulullah, bai’atlah kami!
Demi Allah, kami adalah orang-orang yang akrab dan terbiasa dengan peperangan
dan pertempuran dari generasi ke generasi…”
belum selesai Barra menuntaskan
perkataannya, Abu Haitsam ibn Taihan segera menyela. Ia berkata,
“Wahai
Rasulullah, sesungguhnya kami telah memiliki ikatan dengan sekelompok warga
Madinah (Yahudi) dan kami akan memutuskan ikatan tersebut. Lantas bila kami
telah memutuskannya dan kemudian Allah menjayakanmu, apakah engkau akan kembali
kepada kaummu dan meninggalkan kami?”
Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
pun tersenyum dan menjawab dengan tegas,
“Darah dibalas dengan darah dan
kehancuran harus dibalas dengan kehancuran. Aku adalah bagian dari kalian dan
kalian adalah bagian dariku. Aku akan memerangi orang-orang yang memerangi
kalian dan akan berdamai dengan orang-orang yang berdamai dengan kalian.”
Setelah kedua
belah pihak menyepakati syarat-syarat bai’at ini, dua orang Anshar yang telah
masuk Islam pada musim haji tahun kesebelas dan dua belas kenabian, Abbas ibn
Ubbadah ibn Nadhlah dan As’ad ibn Zurara menjelaskan kepada kaumnya hakikat dan
pentingnya melakukan bai’at tersebut.
Abbas Ibn
Nadhlah berkata,
“Wahai kaumku, tahukah kalian atas dasar apa kalian akan
melakukan bai’at terhadap orang ini?”
mereka menjawab,
“Ya, kami tahu !”
namun,
Abbas tetap berkata,
“Ketahuilah, sesungguhnya kalian akan berba’iat untuk siap
memerangi orang-orang musyrik yang berkulit merah maupun yang berkulit hitam.
Maka bila kalian masih memandang terampasnya harta kalian sebagai musibah dan
gugurnya para pembesar kalian sebagai petaka, urungkanlah bai’at! sebab, demi
Allah, bila kalian melakukannya, maka hal itu akan menjadi ejekan di dunia dan
akhirat. Namun, apabila kalian yakin akan mampu memenuhi janji kalian kepadanya
untuk siap sedia mengorbankan harta kalian dan kehilangan para pembesar kalian,
maka lakukanlah bai’at itu! Karena, demi Allah, tindakan itu akan memberikan
kebaikan kepada kalian di dunia dan di akhirat.”
Lalu serta merta orang-orang
Anshar menjawab,
“Kami siap untuk kehilangan harta benda kami dan juga
kehilangan para pemimpin kami. Lantas, balasan apakah yang akan kami dapatkan
dengan semua itu, ya Rasulullah?"
Dengan singkat beliau menajwab,
“Surga!”
maka,
serentak orang-orang Anshar pun berkata,
“Ulurkanlah tanganmu, wahai
Rasulullah!”
sehingga Rasulullah pun mengulurkan tangannya dan membai’at
mereka.
Namun, baru
saja orang-orang Anshar itu akan bangkit dari duduknya untuk melakukan bai’at,
tiba-tiba As’ad ibn Zurarah berseru,
“Tunggu dulu wahai penduduk Yastrib!”
perlu kita ingat bahwa kita berjalan jauh-jauh adalah karena kita mengetahui
bahwa ia adalah Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . dan sesungguhnya
keluarnya beliau sekarang ini adalah karena ingin memisahkan diri dari bangsa
Arab, telah terbunuhnya orang-orang pilihan kalian, dan telah berkecamuknya api
perang di depan kalian. Maka, jika kalian telah yakin akan sabar dengan semua
ini, lakukanlah bai’at itu dan pahala kalian ada di sisi Allah! Akan tetapi
bila kalian takut dan khawatir dengan jiwa-jiwa, tinggalkanlah bai’at itu saat
ini juga ! Ketahuilah, sesungguhnya ketakutanmu itu akan dimaafkan oleh Allah.”
Namun dengan tekad baja orang-orang Anshar itu berkata,
“Wahai As’ad, lepaskan
tanganmu! Demi Allah, kami tidak akan berpaling atau pun meninggalkan sedikit
pun dari keharusan bai’at yang kita lakukan ini.”
Ketika As’ad
telah yakin benar dengan sikap kaumnya, ia pun langsung menjabat tangan
Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk melakukan bai’at. Lalu satu
persatu dari orang Anshar itu menjabat tangan
Rasulullah dan berbai’at kepadanya.
Adapun
tentang cara Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membai’at dua orang
wanita yang ikut hadir pada malam itu adalah beliau cukup mendengarkan ikrar
mereka dan kemudian menjawabnya seraya berkata,
“Aku telah menerima bai’at
kalian.”
Setelah semua
yang hadir sudah berbai’at. Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata
kepada mereka,
“Pilihlah 12 orang wakil dari kalian untuk menjadi pemimpin dan
bertanggungjawab terhadap segala urusan kaumnya masing-masing!”
lalu
terpilihlah 12 orang pemimpin, 9 dari suku Khazraj dan 3 dari suku Aus. Lalu
Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambil sumpah setia kedua belas
orang wakil tersebut dan berkata kepada mereka, “
Kalian adalah pemimpin kaum
kalian dan bertanggung jawab atas segala yang terjadi pada mereka. sebagaimana Isa ibn Maryam menjadi penjamin para
pengikutnya. Dan aku adalah penanggung jawab kaumku: umat Islam.”
Maka mereka
pun menjawab,
“Ya, kami siap laksanakan!”
Tentang
materi bai’at Aqabah II, Jabir mengatakan: Kami berkata,
“Wahai Rasulullah,
apakah yang harus kami bai’atkan kepadamu?”
beliau menjawab:
“Taat dan patuh di
kala sibuk maupun senggang, berinfak di saat kaya maupun miskin, selalu beramar
ma’ruf nahi munkar, berjuang di jalan Allah dengan tegar dan siap mental
menghadapi celaan dari siapapun demi Allah, Menolongku bila aku dating kepada
kalian dan melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak
kalian. Dan surgalah balasan untuk kalian.” (H.R. Ahmad dan Bihaqi).
Setelah
bai’at telah selesai dan para wakil suku telah terpilih. Mereka pun kembali ke
kemah-kemah mereka dan tidur sampai pagi. Esoknya, pagi-pagi sekali kaum
Quraisy sudah mendatangi kemah-kemah kami dan menanyakan tentang peristiwa
pertemuan tadi malam. Kaum musyrikin Madinah yang serombongan dengan kami pun
bersumpah tidak pernah melakukan apa
yang mereka tuduhkan. Dan memang, kami
sama sekali tidak memberitahukan pertemuan kami malam itu kepada mereka.
Akhirnya kaum Quraisy pun percaya dan tidak berhasil mengetahui peristiwa malam
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar