Selasa, 18 Oktober 2011

MASUK ISLAMNYA UMAR BIN KHATHTHAB

Dia bernama Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Rabah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luay. Amirul mukminin, Abu Hafash al-Qurasyi, al-Adawi, al-Faruq. Dia masuk Islam pada tahun keenam kenabian. Saat itu ia berusia 27 tahun. 
 
Imam Nawawi berkata: 
Dia termasuk pendahulu dari orang-orang yang masuk Islam, dan sepuluh orang yang dijanjikan Rasulullah untuk masuk surga. 
Dia salah seorang Khulafa’ Rasyidin dan sekaligus mertua Rasulullah. 
Umar juga merupakan sahabat terkemuka dan salah seorang yang paling zuhud terhadap dunia. 
Diriwayatkan darinya sebanyak lima ratus tiga puluh Sembilan hadits.

MASUK ISLAMNYA UMAR

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah berdoa, 

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orangyang Engkau cintai dengan Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Khaththab.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Ya’la dan al-Hakim dia berkata: 
Umar keluar dengan menyandang pedang di pundaknya. Seorang lelaki dari Bani Zuhrah bertemu dengannya di tengah jalan. Orang itu bertanya, “Kemana engkau akan pergi wahai Umar?” dia berkata, “Saya akan membunuh Muhammad!” orang itu berkata, “Bagaimana kamu bisa menjaga dirimu dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika kamu membunuh Muhammad?” Umar berkata, “Saya rasa kamu telah berganti agama!” orang itu berkata lagi, “Tidakkah akan saya tunjukkan satu hal yang mungkin menyentak fikiranmu? Sesungguhnya ipar dan saudarimu sendiri telah berganti agama dan mereka telah meninggalkan agama yang kamu peluk.” 

Umar kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah saudarinya. Di sana ada Khabbab. Ketika mendengar suara Umar, dia bersembunyi di belakang rumah. Umar masuk ke dalam rumah kemudian berkata, “Suara  apa yang kalian bisik-bisikkan itu?” ipar dan saudarinya menjawab, “bukan apa-apa, hanya perbincangan biasa yang rutin di antara kami.”  Umar berkata, “Apakah kalian telah berganti agama?” iparnya menjawab, “Wahai Umar, jika kebenaran ternyata berada di luar agamamu!” mendengar jawaban itu Umar melompat dan mencekik leher iparnya. Adiknya datang untuk mencegah perbuatan Umar terhadap suaminya itu, namun Umar justru menampar muka adiknya dengan keras hingga berdarah. Dengan nada marah adiknya berkata, “Karena kebenaran tidak berada bersama agamamu, maka Asyhadu allaa Ilaaha Illa allah wa Asyhadu Anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluhu (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).” Umar berkata, “Berikan kepada saya kitab yang kalian baca hingga saya juga bisa membacanya!” saudarinya berkata, “Tidak mungkin! Karena engkau najis. Dan sesungguhnya tidak ada seorang pun yang berhak menyentuh kitab ini kecuali dia berada dalam keadaan suci, maka mandilah engkau dan berwudhu’lah!.”
Umar kemudian berdiri dan berwudhu, kemudian dia membaca surat Thaha hingga berakhir pada ayat:

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Qs. Thaaha ayat 14).

Umar berkata, “Antarkan saya kepada Muhammad!” Khabbab yang mendengar ucapan Umar segera keluar dan berkata, “Bergembiralah engkau wahai Umar, saya berharap semoga doa Rasulullah pada malam kamis yang lalu adalah untukmu.” Saat beliau berdoa, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang Engkau cintai dengan Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Khaththab.”  

Setelah itu berangkatah Umar ke rumah tempat Rasulullah berada. Di depan pintu ada Hamzah dan Thalhah dan beberapa orang yang lain. Hamzah berkata, ini Umar datang! Jika Allah menginginkan kebaikan baginya, maka dia akan masuk Islam, dan jika dia menginginkan selain itu maka akan gampang bagi kita untuk membunuhnya.
Saat itu Rasulullah keluar dan menemui Umar. Raasulullah memegangng bagian baju Umar dan sarung pedangnya seraya berkata, 

“Jika kamu tidak berhenti melakukan ini wahai Umar, Allah akan menurunkan siksa kepadamu sebagaimana yang Allah turunkan kepada al-Walid bin al-Mughirah.” Umar berkata, “Asyhadu Allaa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Annaka ‘abdullahi wa Rasuluhu.” 

Mendengar bacaan syahadat yang saya baca, kaum muslimin mengumandangkan takbir yang didengar di jalanan Mekah.

Saya berkata kepada Rasulullah, “Bukankah kita berada di jalan yang benar?” Rasulullah berkata, “Ya!” “Lalu mengapa kita mesti melakukan dakwah yang benar ini dengan cara sembunyi-sembunyi?” kata saya kepada Rasulullah. Lalu kami keluar dalam dua barisan. Satu baris bersama Hamzah dan satu lagi bersama saya. Kami memasuki Masjidil-Haram. Orang-orang Quraisy melihat kepadaku dan Hamzah. Mereka merasa sedih dan duka sekali. Sebuah peristiwa duka cita yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Maka, Rasulullah pun memberi gelar kepada saya dengan gelar al-Faruq. Umar disebut demikian karena ia menampakkan Islam dengan terang-terangan dan dia membedakan antar yang haq dan yang batil.

Ath-Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Abbas dia berkata, “Orang yang pertama kali menyatakan ke-Islamannya secara terang-terangan adalah Umar.”

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Shuhaib dia berkata: 
Tatkala umar masuk Islam, dia menyatakan ke-Islamannya dengan terang-terangan dan dia mengajak manusia masuk Islam dengan terang-terangan. Kami bisa duduk di sekitar Baitullah dengan tenang. Kami melakukan thawaf tanpa rasa khawatir. Kami mampu menolak orang-orang yang mengganggu kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar