Imam Nawawi berkata:
Dia termasuk pendahulu dari
orang-orang yang masuk Islam, dan sepuluh orang yang dijanjikan Rasulullah
untuk masuk surga.
Dia salah seorang Khulafa’ Rasyidin dan sekaligus mertua
Rasulullah.
Umar juga merupakan sahabat terkemuka dan salah seorang yang paling
zuhud terhadap dunia.
Diriwayatkan darinya sebanyak lima ratus tiga puluh
Sembilan hadits.
MASUK ISLAMNYA UMAR
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa
Rasulullah berdoa,
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua
orangyang Engkau cintai dengan Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Khaththab.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Ya’la dan al-Hakim
dia berkata:
Umar keluar dengan menyandang pedang di pundaknya. Seorang lelaki
dari Bani Zuhrah bertemu dengannya di tengah jalan. Orang itu bertanya, “Kemana
engkau akan pergi wahai Umar?” dia berkata, “Saya akan membunuh Muhammad!” orang itu berkata, “Bagaimana kamu bisa menjaga dirimu dari Bani Hasyim dan
Bani Zuhrah jika kamu membunuh Muhammad?” Umar berkata, “Saya rasa kamu telah
berganti agama!” orang itu berkata lagi, “Tidakkah akan saya tunjukkan satu hal
yang mungkin menyentak fikiranmu? Sesungguhnya ipar dan saudarimu sendiri telah
berganti agama dan mereka telah meninggalkan agama yang kamu peluk.”
Umar kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah
saudarinya. Di sana ada Khabbab. Ketika mendengar suara Umar, dia bersembunyi
di belakang rumah. Umar masuk ke dalam rumah kemudian berkata, “Suara apa yang kalian bisik-bisikkan itu?” ipar dan
saudarinya menjawab, “bukan apa-apa, hanya perbincangan biasa yang rutin di
antara kami.” Umar berkata, “Apakah
kalian telah berganti agama?” iparnya menjawab, “Wahai Umar, jika kebenaran
ternyata berada di luar agamamu!” mendengar jawaban itu Umar melompat dan mencekik
leher iparnya. Adiknya datang untuk mencegah perbuatan Umar terhadap suaminya
itu, namun Umar justru menampar muka adiknya dengan keras hingga berdarah.
Dengan nada marah adiknya berkata, “Karena kebenaran tidak berada bersama
agamamu, maka Asyhadu allaa Ilaaha Illa allah wa Asyhadu Anna Muhammadan
‘abduhu wa Rasuluhu (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad
adalah utusan Allah).” Umar berkata, “Berikan kepada saya kitab yang kalian
baca hingga saya juga bisa membacanya!” saudarinya berkata, “Tidak mungkin!
Karena engkau najis. Dan sesungguhnya tidak ada seorang pun yang berhak
menyentuh kitab ini kecuali dia berada dalam keadaan suci, maka mandilah engkau
dan berwudhu’lah!.”
Umar kemudian berdiri dan berwudhu, kemudian dia
membaca surat Thaha hingga berakhir pada ayat:
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan
(yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat
Aku.” (Qs. Thaaha ayat 14).
Umar berkata, “Antarkan saya kepada Muhammad!” Khabbab
yang mendengar ucapan Umar segera keluar dan berkata, “Bergembiralah engkau
wahai Umar, saya berharap semoga doa Rasulullah pada malam kamis yang lalu
adalah untukmu.” Saat beliau berdoa, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah
satu dari dua orang yang Engkau cintai dengan Abu Jahal bin Hisyam atau Umar
bin Khaththab.”
Setelah itu berangkatah Umar ke rumah tempat
Rasulullah berada. Di depan pintu ada Hamzah dan Thalhah dan beberapa orang
yang lain. Hamzah berkata, ini Umar datang! Jika Allah menginginkan kebaikan
baginya, maka dia akan masuk Islam, dan jika dia menginginkan selain itu maka
akan gampang bagi kita untuk membunuhnya.
Saat itu Rasulullah keluar dan menemui Umar.
Raasulullah memegangng bagian baju Umar dan sarung pedangnya seraya berkata,
“Jika kamu tidak berhenti melakukan ini wahai Umar, Allah akan menurunkan siksa
kepadamu sebagaimana yang Allah turunkan kepada al-Walid bin al-Mughirah.” Umar
berkata, “Asyhadu Allaa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Annaka ‘abdullahi wa
Rasuluhu.”
Mendengar bacaan syahadat yang saya baca, kaum muslimin
mengumandangkan takbir yang didengar di jalanan Mekah.
Saya berkata kepada Rasulullah, “Bukankah kita berada
di jalan yang benar?” Rasulullah berkata, “Ya!” “Lalu mengapa kita mesti melakukan
dakwah yang benar ini dengan cara sembunyi-sembunyi?” kata saya kepada
Rasulullah. Lalu kami keluar dalam dua barisan. Satu baris bersama Hamzah dan
satu lagi bersama saya. Kami memasuki Masjidil-Haram. Orang-orang Quraisy
melihat kepadaku dan Hamzah. Mereka merasa sedih dan duka sekali. Sebuah
peristiwa duka cita yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Maka, Rasulullah
pun memberi gelar kepada saya dengan gelar al-Faruq. Umar disebut demikian
karena ia menampakkan Islam dengan terang-terangan dan dia membedakan antar
yang haq dan yang batil.
Ath-Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Abbas dia
berkata, “Orang yang pertama kali menyatakan ke-Islamannya secara
terang-terangan adalah Umar.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Shuhaib dia berkata:
Tatkala umar masuk Islam, dia menyatakan ke-Islamannya dengan terang-terangan
dan dia mengajak manusia masuk Islam dengan terang-terangan. Kami bisa duduk di
sekitar Baitullah dengan tenang. Kami melakukan thawaf tanpa rasa khawatir.
Kami mampu menolak orang-orang yang mengganggu kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar