Minggu, 16 Oktober 2011

Isra’ Mi’raj

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat yang dikaruniakan Allah subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengukuhkan semangat dan tekad beliau, terutama setelah beliau mengalami cobaan kematian paman beliau yang selalu melindunginya dan kematian istrinya yang selalu setia menghiburnya serta penganiayaan kaum kafir sewaktu di Mekah dan Thaif .

Isra’ Mi’raj menurut beberapa riwayat terjadi setelah tahun kesepuluh dari penobatan beliau sebagai nabi. Peristiwa isra’ mi’raj ini dibagi menajdi 4 bagian, yaitu:

   1.    Pembedahan dada Rasulullah

Dikisahkan, seusai melakukan shalat Isya pada malam penuh berkah tersebut, Jibril turun dari langit untuk mendatangi Rasulullah, ia masuk ke kediaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Mekah. Lalu, membedah dada beliau, mengambil hatinya dan mencucinya dengan air zamzam. Kemudian dia mengeluarkan sebuah baskom emas berisi hikmah dan keimanan. Kemudian, ia memasukan kedua unsur tersebut ke dalam dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menjahitnya kembali. Setelah itu, Jibril menggandeng tangan beliau dan membawanya naik ke langit.

    2.    Peristiwa Isra’

Anas Rhadhiyallahu ‘Anhu menuturkan: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ia (Jibril) mendatangiku bersama seekor Buraq (sebangsa hewan berwarna putih, tubuhnya lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bighal ‘anak kuda’). Lalu aku menaikinya dan ia membawaku hingga sampai di Bayt al Maqdis. Aku menambatkannya di tempat para nabi biasa menambatkan binatang kendaraan mereka. Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan shalat sebanyak dua rakaat. Saat aku keluar dari masjid, Jibril menghampiriku dengan membawa segelas minuman arak dan secangkir susu untukku. Namun, aku memilih susu. Maka Jibril berkata, “Engkau memilih fitrah”. Rasulullah bersabda, “Lalu Jibril membawaku naik… ” 

Riwayat lain menuturkan, Rasulullah shalat bersama para nabi sebelum Mi’raj. Dikisahkan, sesampainya di Baitul Maqdis, Allah menurunkan Adam dan para nabi yang lainnya untuk shalat bersama Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun yang mengimami shalat pada malam itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

    3.    Peristiwa Mi’raj

Rasulullah bersama Jibril naik ke langit. Di setiap langit, Jibril selalu meminta dibukakan pintu dan ditanya, “Siapakah yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Lalu dia dipersilahkan masuk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di langitnya dunia, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam a.s. Di langit tingkat kedua, berjumpa dengan Nabi Isa dan nabi Yahya a.s.. Di langit tingkat ketiga, bertemu dengan nabi  Yusuf a.s. Di langit keempat, bertemu  nabi Idris a.s . Di langit kelima bertemu dengan nabi Harun a.s. Di langit keenam, bertemu dengan nabi Musa a.s. Dilangit ketujuh, beliau berjumpa dengan nabi Ibarahim a.s. yang tengah bersandar ke Bayt al-ma’mur.

Setelah itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik ke Sidratul Muntaha. Di tempat itu Allah mewajibkan kepadanya dan umatnya untuk shalat sebanyak lima puluh kali dalam satu hari satu malam. Lalu beliau turun kembali dan berjumpa dengan Nabi Musa ‘alaihis salam. Nabi Musa pun bertanya kepada Rasulullah, “apa yang telah diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu?” Rasulullah menjawab apa adanya. Nabi Musa pun menyarankan beliau untuk kembali menghadap Allah dan meminta keringanan. Maka Allah mengurangi jumlah tadi menjadi empat puluh lima kali dalam sehari semalam. 

Demikianlah, setiap kali turun Musa bertanya kepada Rasulullah,  Dan beliau selalu menganjurkan kepada Rasulullah untuk meminta keringanan. Hal itu terjadi berkali-kali hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengurangi jumlah kewajiban shalat menjadi lima kali sehari semalam. Namun, jumlah tersebut, menurut Musa masih terlalu berat bagi umat Muhammad. Musa pun meminta kepada Rasulullah untuk kembali lagi kepada Allah untuk menguranginya lagi. Namun, Rasulullah menjawab, “Aku telah memintanya kepada Tuhanku berulangkali hingga diriku malu.” Baru saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti berbicara, tiba-tiba terdengar suara berseru, 

“Aku telah menetapkan putusan-Ku dan telah meringankannya untuk hamba-hamba-Ku.”

    4.    Sikap bangsa Quraisy terhadap Isra’ dan Mi’raj

Pagi harinya Rasulullah menceritakan peristiw isra’ Mi’raj  tersebut kepada kaumnya. Sontak,  mereka terkejut dan keheranan dengan cerita beliau. Karena penasaran, seseorang dari mereka yang pernah melihat Masjidil Aqsa, meminta kepada Rasulullah menceritakan ciri-ciri masjid tersebut kepada mereka. Rasulullah pun menyebutkan dengan tepat. Sehingga orang-orang tersebut berkata, “apa yang ia sebutkan itu, sungguh demi Allah, sangat benar dan tepat.”

Dalam riwayat yang lain dikatakan: Mereka tidak percaya bahwa Rasulullah telah pergi ke syam dan kembali lagi ke Mekah hanya dalam waktu satu malam saja. Lain halnya dengan Abu Bakar Rhadhiyallahu ‘Anhu, beliau langsung membenarkan cerita Rasulullah tanpa ada keraguan sedikit pun. Ia berkata, 

“Demi Allah, apabila yang mengatakan adalah beliau (Muhammad), maka hal itu benar.” 

Kemudian Abu Bakar menghampiri Rasulullah dan meminta beliau untuk menceritakan kisah perjalanannya malam itu. Setiap kali Rasulullah selesai menceritakan sesuatu, Abu Bakar selalu berkata, 

“Aku mempercayainya. Dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah…” 

Maka, Rasulullah pun berkata, 

“Wahai, Abu Bakar, engkau adalah orang yang sangat percaya (ash-Shiddiq).” 

Sejak saat itu, Abu Bakar dipanggil dengan nama ash-Shiddiq.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar