Peristiwa
Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat yang dikaruniakan Allah subhanahu Wa
Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengukuhkan
semangat dan tekad beliau, terutama setelah beliau mengalami cobaan kematian
paman beliau yang selalu melindunginya dan kematian istrinya yang selalu setia
menghiburnya serta penganiayaan kaum kafir sewaktu di Mekah dan Thaif .
Isra’ Mi’raj
menurut beberapa riwayat terjadi setelah tahun kesepuluh dari penobatan beliau
sebagai nabi. Peristiwa isra’ mi’raj ini dibagi menajdi 4 bagian, yaitu:
1.
Pembedahan
dada Rasulullah
Dikisahkan,
seusai melakukan shalat Isya pada malam penuh berkah tersebut, Jibril turun
dari langit untuk mendatangi Rasulullah, ia masuk ke kediaman Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Mekah. Lalu, membedah dada beliau, mengambil
hatinya dan mencucinya dengan air zamzam. Kemudian dia mengeluarkan sebuah
baskom emas berisi hikmah dan keimanan. Kemudian, ia memasukan kedua unsur
tersebut ke dalam dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menjahitnya
kembali. Setelah itu, Jibril menggandeng tangan beliau dan membawanya naik ke
langit.
2.
Peristiwa
Isra’
Anas
Rhadhiyallahu ‘Anhu menuturkan: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda, “Ia (Jibril) mendatangiku bersama seekor Buraq (sebangsa hewan
berwarna putih, tubuhnya lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bighal
‘anak kuda’). Lalu aku menaikinya dan ia membawaku hingga sampai di Bayt al
Maqdis. Aku menambatkannya di tempat para nabi biasa menambatkan binatang
kendaraan mereka. Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan shalat sebanyak dua
rakaat. Saat aku keluar dari masjid, Jibril menghampiriku dengan membawa
segelas minuman arak dan secangkir susu untukku. Namun, aku memilih susu. Maka
Jibril berkata, “Engkau memilih fitrah”. Rasulullah bersabda, “Lalu Jibril
membawaku naik… ”
Riwayat
lain menuturkan, Rasulullah shalat bersama para nabi sebelum Mi’raj.
Dikisahkan, sesampainya di Baitul Maqdis, Allah menurunkan Adam dan para nabi
yang lainnya untuk shalat
bersama Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun yang mengimami shalat
pada malam itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
3.
Peristiwa
Mi’raj
Rasulullah
bersama Jibril naik ke langit. Di setiap langit, Jibril selalu meminta
dibukakan pintu dan ditanya, “Siapakah yang bersamamu?” Jibril menjawab,
“Muhammad”. Lalu dia dipersilahkan masuk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam. Di langitnya dunia, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam a.s. Di
langit tingkat kedua, berjumpa dengan Nabi Isa dan nabi Yahya a.s.. Di langit
tingkat ketiga, bertemu dengan nabi
Yusuf a.s. Di langit keempat, bertemu nabi Idris a.s . Di langit kelima bertemu
dengan nabi Harun a.s. Di langit keenam, bertemu dengan nabi Musa a.s. Dilangit
ketujuh, beliau berjumpa dengan nabi Ibarahim a.s. yang tengah bersandar ke
Bayt al-ma’mur.
Setelah
itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik ke Sidratul Muntaha. Di
tempat itu Allah mewajibkan kepadanya dan umatnya untuk shalat sebanyak lima
puluh kali dalam satu hari satu malam. Lalu beliau turun kembali dan berjumpa
dengan Nabi Musa ‘alaihis salam. Nabi Musa pun bertanya kepada Rasulullah, “apa
yang telah diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu?” Rasulullah menjawab apa adanya.
Nabi Musa pun menyarankan beliau untuk kembali menghadap Allah dan meminta
keringanan. Maka Allah mengurangi jumlah tadi menjadi empat puluh lima kali
dalam sehari semalam.
Demikianlah, setiap kali turun Musa bertanya kepada
Rasulullah, Dan beliau selalu menganjurkan
kepada Rasulullah untuk meminta keringanan. Hal itu terjadi berkali-kali hingga
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengurangi jumlah kewajiban shalat menjadi lima kali
sehari semalam. Namun, jumlah tersebut, menurut Musa masih terlalu berat bagi
umat Muhammad. Musa pun meminta kepada Rasulullah untuk kembali lagi kepada
Allah untuk menguranginya lagi. Namun, Rasulullah menjawab, “Aku telah
memintanya kepada Tuhanku berulangkali hingga diriku malu.” Baru saja
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti berbicara, tiba-tiba
terdengar suara berseru,
“Aku telah menetapkan putusan-Ku dan telah
meringankannya untuk hamba-hamba-Ku.”
4.
Sikap bangsa
Quraisy terhadap Isra’ dan Mi’raj
Pagi
harinya Rasulullah menceritakan peristiw isra’ Mi’raj tersebut kepada kaumnya. Sontak, mereka terkejut dan keheranan dengan cerita
beliau. Karena penasaran, seseorang dari mereka yang pernah melihat Masjidil
Aqsa, meminta kepada Rasulullah menceritakan ciri-ciri masjid tersebut kepada
mereka. Rasulullah pun menyebutkan dengan tepat. Sehingga orang-orang tersebut
berkata, “apa yang ia sebutkan itu, sungguh demi Allah, sangat benar dan
tepat.”
Dalam
riwayat yang lain dikatakan: Mereka tidak percaya bahwa Rasulullah telah pergi
ke syam dan kembali lagi ke Mekah hanya dalam waktu satu malam saja. Lain halnya
dengan Abu Bakar Rhadhiyallahu ‘Anhu, beliau langsung membenarkan cerita Rasulullah
tanpa ada keraguan sedikit pun. Ia berkata,
“Demi Allah, apabila yang
mengatakan adalah beliau (Muhammad), maka hal itu benar.”
Kemudian Abu Bakar
menghampiri Rasulullah dan meminta beliau untuk menceritakan kisah
perjalanannya malam itu. Setiap kali Rasulullah selesai menceritakan sesuatu,
Abu Bakar selalu berkata,
“Aku mempercayainya. Dan aku bersaksi bahwa engkau
adalah utusan Allah…”
Maka, Rasulullah pun berkata,
“Wahai, Abu Bakar, engkau
adalah orang yang sangat percaya (ash-Shiddiq).”
Sejak saat itu, Abu Bakar
dipanggil dengan nama ash-Shiddiq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar