Sabtu, 22 Oktober 2011

ALI BIN ABI THALIB Rhadhiyallahu ‘Anhu

Dia bernama Ali bin Abi Thalib. Ayahnya adalah Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Ibunya adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim, ia masuk Islam dan Hijrah.

Ali bin Abi Thalib adalah orang tua, dengan kepala botak, banyak mengarang syair, tidak begitu tinggi, perutnya besar, jenggotnya lebat memenuhi kedua bahunya putih laksana kapas, kulitnya sawo matang.

Ali bin Abi Thalib dipanggil Abul Husein dan Abu Turab oleh Rasulullah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad dia berkata, 

“Sesungguhnya nama yang paling disenangi oleh Ali adalah Abu Turab dan dia suka dipanggil dengan nama itu. Abu Turab adalah nama yang diberikan kepadanya oleh Rasulullah. Sebabnya ialah pada suatu hari ia marah kepada Fathimah. Dia kemudian keluar dan duduk bersandar di tembok Masjid Nabawi. Kemudian datanglah Rasulullah menghapus debu itu dari pundaknya sambil berkata, ‘Duduklah wahai Abu Turab’.”


Ali bin Abu Thalib meriwayatkan hadits dari Rasulullah sebanyak lima ratus delapan puluh enam hadits.

Ali adalah salah satu dari sepuluh orang yang mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk surge. Dia adalah saudara Rasulullah pada saat terjadi mu’akhat (jalinan ukhuwah di Madinah). Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar dia berkata, 

“Rasullullah mempersaudarakan para sahabat antara kaum Muhajirin dan Anshar, kemudian Ali datang menemui Rasulullah dengan kedua mata berlinang. ‘Wahai Rasulullah kau telah memperasudarakan antara sahabatmu yang satu dengan yang lain, namun sampai kini kau belum mempersaudarakan aku dengan salah seorang sahabatmu’ Rasulullah bersabda, ‘Kau adalah saudaraku di dunia dan akhirat’.”


Dia adalah menantu Rasulullah karena Ali menikahi putrinya Fathimah, penghulu kaum wanita di surga. Ali adalah salah di antara orang-orang yang masuk Islam di awal-awal lahirnya Islam. Tatkala dia masuk Islam umurnya baru sepuluh tahun, bahkan ada yang mengatakan lebih muda dari itu. Dia adalah seorang ulama Rabbaniyyin. Seorang pejuang yang gagah berani, seorang zuhud yang terkenal, seorang orator ulung. Dia adalah salah seorang pengumpul al-Qur’an dan dia bacakan kepada Rasulullah. Dia adalah khalifah pertama dari Bani Hasyim. Ali dikenal dengan Abu as-Sabthain, yakni ayah dari al-Hasan dan al-Husein. 
Al-Hasan bin Zaid bin al-hasan berkata, 

“Ali tidak pernah menyembah berhala sama sekali karena dia memang masih kecil.” (H.R. Ibnu Sa’ad).


Tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau memerintahkan Ali untuk tinggal di Makkah selama beberapa hari hingga dia mengembalikan semua barang titipan orang yang ada pada Rasulullah kepada para pemiliknya.

Dia mengikuti Rasulullah pada perang Badar, perang Uhud dan perang-perang lain kecuali perang Tabuk. Sebab Rasulullah waktu itu memerintahkannya untuk menjadi khalifah sementara di Madinah. Dalam setiap peperangan dia memiliki kisah-kisah yang sangat terkenal. Jabir bin Abdullah berkata, 

“Pada saat perang Khibar, Ali menjebol pintu Khaibar sendirian, hingga akhirnya kaum Muslimin mampu masuk ke dalam benteng dan menaklukkan musuh-musuhnya. Lalu mereka menarik pintunya dan pintu tersebut tidak mampu ditarik kecuali oleh empat puluh orang.” (H.R. Ibnu Asakir).

Keutamaan Ali Bin Abi Thalib

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Waqqash bahwa Rasulullah memerintahkan Ali untuk menggantikannya sementara di Madinah pada saat kaum Muslimin akan menuju perang Tabuk. Ali saat itu berkata, 

“Engkau tempatkan aku bersama para wanita dan anak-anak di madinah?” lalu Rasulullah bersabda, “Tidakkah engkau rela menjadi laksana Harun di samping Musa di sisiku? Hanya saja memang tidak ada Nabi setelahku.”


Imam Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad dia berkata, 

“Rasulullah berkata pada saat perang Khaibar, ‘Saya sungguh-sungguh akan memberikan bendera perang esok hari kepada orang yang dengannya Khaibar akan dibuka dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.’ Malam itu para sahabat ramai membincangkan siapa yang akan mendapat kehormatan untuk mendapatkan bendera perang itu. Tatkala pagi menjelang para sahabat segera menemui Rasulullah. Semuanya berharap semoga bendera itu diberikan kepadanya, lalu Rasulullah berkata, ‘Di mana Ali?’orang yang hadir saat itu berkata, ‘Dia sedang sakit mata.’ Rasulullah bersabda, ‘Datangkan dia ke sini’ lalu para sahabat menjemputnya untuk menghadap Rasulullah. Ali datang menemui Rasulullah, dan Rasulullah menyemburkan ludah kepada kedua matanya dan berdoa. Dan sembuhlah kedua mata Ali seakan-akan dia tidak pernah merasakan sakit. Lalu Rasulullah serahkan bendera itu kepadanya.”


Imam Muslim dari Sa’ad bin Waqqash dia berkata, “turun ayat, 

“siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Qs. Ali Imran ayat 61). Rasulullah memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husein lalu berkata, ‘Ya Allah, mereka adalah keluargaku.’

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Suraih, Rasulullah bersabda, 

“Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.”


Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim dari Buraidah dia berkata, Rasulullah bersabda, 

“sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mencintai empat orang dan Dia mengabarkan kepadaku bahwa mereka mencintaiku.” Sahabat yang ada di tempat itu berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkan kepada kami nama-nama mereka.” Rasulullah bersabda, “Ali adalah dari mereka-beliau mengatakan itu tiga kali-, Abu Dzar, al-Miqdad dan Salman al-Farisi.”


Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’I dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Habsyi bin Janadah, dia berkata Rasulullah bersabda, 

“Ali adalah bagian dariku dan aku bagian darinya. ”


Al-Hakim meriwayatkan dari Ali, dia berkata, 

“Rasulullah mengutusku ke Yaman. Saya katakan kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, engkau mengutusku ke Yaman padahal saya masih muda dan saya harus menyelesaikan maslaah diantara mereka.npadahal saya tidak tahu bagaimana cara memutuskan perkara mereka.’ Lalu Rasulullah menepuk dada saya dan berkata, ‘Ya Allah, berilah hidayah kepada kalbunya, dan kokohkan lisannya!.’ Demi Dzat yang merekahkan biji-bijian sejak saat itulah saya tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan antara orang yang berselisih.”


Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Umar bin Khaththab telah berkata, 

“Ali adalah orang yang paling pandai dalam masalah hokum diantara kami.”


Abdullah bin ‘Iyas bin Abi Rabi’ah berkata, 

“Ali memiliki ketajaman dalam ilmu, luas dalam pergaulan, paling terdahulu masuk Islam, mengambil janji dari rasulullah, memiliki kepahaman tentang sunnah dan keberanian dalam perang serta pemurah dalam harta.”


Abu Ya’la meriwayatkan dari abu Hurairah, dia berkata bahwa Umar bin Khaththab berkata, 

“Ali memiliki tiga keistimewaasn, yang untuk memiliki salah satunya lebih saya cintai daripada diberi unta yang paling baik. Lalu dia ditanya apa keistimewaan tersebut. Umar berkata: pernikahannya dengan Fathimah putri Rasulullah, tinggalnya di Masjid dan diberikannya bendera perang pada perang Khaibar.” 


Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ummu Salamah dari Rasulullah, dia bersabda, 

“Barangsiapa yang mencintai Ali, maka dia berarti mencintai saya, dan barangsiapa yang mencintai saya, berarti dia mencintai Allah. Barangsiapa yang membenci Ali, maka dia berarti membenci saya, dan barangsiapa yang membenci saya, berarti dia membenci Allah.”


Al-Bazzar  dan Abu Ya’la dan al-Hakim meriwayatkan dari Ali dia berkata, Rasulullah memanggil saya lalu berkata, 

“Wahai Ali, sesungguhnya dalam dirimu ada sesuatu yang menyerupai Isa, dia dibenci orang Yahudi hingga mereka melecehkan ibunya, Dan dicintai oleh orang-orang Nashrani hingga mereka mendudukkannya pada posisi yang tidak benar (yakni anggapan bahwa Isa adalah anak Allah). Ketahuilah, sesungguhnya ada dua golongan yang akan hancur karena perlakuan mereka terhadapmu, golongan yang berlebih-lebihan dalam mencintaimu sehingga mereka mendudukanmu pada posisi yang tidak benar, dan golongan yang membencimu dengan keterlaluan hingga mereka melecehkan kamu.” 


Masa Kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib

Ibnu Sa’ad berkata, Ali dibaiat sebagai khalifah sehari setelah terbunuhnya Utsman di Madinah. Semua sahabat membai’atnya sebagai khalifah.

Terbunuhnya Ali Bin Abi Thalib

Pada tanggal 17 Ramadhan Ali bangun menjelang subuh. Lalu dia berkata kepada anaknya al-Hasan, 

“Semalam saya mimpi bertemu dengan Rasulullah, saya katakan kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, saya telah mendapatkan dari umatmu beban dan pertengkaran yang keras’ maka Rasulullah bersabda kepada saya, ‘Do’akan mereka!’ lalu saya katakan, ‘Ya Allah, gantikanlah untukku orang yang lebih baik bagiku dari mereka, dan gantikanlah buat mereka orang yang lebih jelek dari aku!’.”  


Saat itulah Ibnu Nabbah sang muadzdzin datang mengetuk pintu Ali. Dia berkata, “Shalat! Shalat!.”Ali keluar dari pintunya dan berseru, “Wahai manusia, Shalat! Shalat!.” Saat itulah Ibnu Maljam dating dan menebasnya dengan pedang. Sabetan pedang orang itu mengenai kening dan muka ali hingga sampai ke otaknya. Lalu orang-orang mengepung pembunuh itu dari segala arah.

Ali sempat bertahan selama dua hari, Jum’at dan Sabtu. Beliau meninggal pada hari Ahad, yang memandikan mayatnya adalah al-Hasan, al-Husein dan Abdullah bin Jafar. Al-Hasan menjadi imam shalat jenazahnya. Dia dikuburkan di perumahan pemerintah di Kuf’ah pada malam hari.

Ibnu Muljam dihukum dengan cara dipotong semua kaki dan tangannya, lalu diikat pada pohon kurma, lalu dibakar.

Abu Bakar bin Iyasy berkata, 

“Kuburan Ali sengaja dirahasiakan agar tidak dibongkar oleh orang-orang khawarij.”


Syarik berkata, 

“al-Hasan memindahkan kuburan Ali dari Kuf’ah ke Madinah.”


Ali terbunuh saat usianya enam puluh tiga tahun. Ada juga yang berpendapat empat puluh lima tahun, bahkan ada yang mengatakan beliau meninggal pada usia lima puluh delapan tahun.
Wallahu A‘lam Bishshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar