Ali bin Abi Thalib adalah orang tua, dengan kepala
botak, banyak mengarang syair, tidak begitu tinggi, perutnya besar, jenggotnya
lebat memenuhi kedua bahunya putih laksana kapas, kulitnya sawo matang.
Ali bin Abi Thalib dipanggil Abul Husein dan Abu Turab
oleh Rasulullah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad dia berkata,
“Sesungguhnya nama yang paling disenangi oleh Ali adalah Abu Turab dan dia suka
dipanggil dengan nama itu. Abu Turab adalah nama yang diberikan kepadanya oleh
Rasulullah. Sebabnya ialah pada suatu hari ia marah kepada Fathimah. Dia
kemudian keluar dan duduk bersandar di tembok Masjid Nabawi. Kemudian datanglah
Rasulullah menghapus debu itu dari pundaknya sambil berkata, ‘Duduklah wahai
Abu Turab’.”
Ali bin Abu Thalib meriwayatkan hadits dari Rasulullah sebanyak lima
ratus delapan puluh enam hadits.
Ali adalah
salah satu dari sepuluh orang yang mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk
surge. Dia adalah saudara Rasulullah pada saat terjadi mu’akhat (jalinan
ukhuwah di Madinah). Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar dia
berkata,
“Rasullullah mempersaudarakan para sahabat antara kaum Muhajirin dan
Anshar, kemudian Ali datang menemui Rasulullah dengan kedua mata berlinang.
‘Wahai Rasulullah kau telah memperasudarakan antara sahabatmu yang satu dengan
yang lain, namun sampai kini kau belum mempersaudarakan aku dengan salah
seorang sahabatmu’ Rasulullah bersabda, ‘Kau adalah saudaraku di dunia dan
akhirat’.”
Dia adalah menantu Rasulullah karena Ali menikahi
putrinya Fathimah, penghulu kaum wanita di surga. Ali adalah salah di antara
orang-orang yang masuk Islam di awal-awal lahirnya Islam. Tatkala dia masuk
Islam umurnya baru sepuluh tahun, bahkan ada yang mengatakan lebih muda dari
itu. Dia adalah seorang ulama Rabbaniyyin. Seorang pejuang yang gagah berani,
seorang zuhud yang terkenal, seorang orator ulung. Dia adalah salah seorang
pengumpul al-Qur’an dan dia bacakan kepada Rasulullah. Dia adalah khalifah
pertama dari Bani Hasyim. Ali dikenal dengan Abu as-Sabthain, yakni ayah dari
al-Hasan dan al-Husein.
Al-Hasan bin Zaid bin al-hasan berkata,
“Ali tidak
pernah menyembah berhala sama sekali karena dia memang masih kecil.” (H.R. Ibnu
Sa’ad).
Tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau
memerintahkan Ali untuk tinggal di Makkah selama beberapa hari hingga dia
mengembalikan semua barang titipan orang yang ada pada Rasulullah kepada para
pemiliknya.
Dia mengikuti Rasulullah pada perang Badar, perang
Uhud dan perang-perang lain kecuali perang Tabuk. Sebab Rasulullah waktu itu
memerintahkannya untuk menjadi khalifah sementara di Madinah. Dalam setiap
peperangan dia memiliki kisah-kisah yang sangat terkenal. Jabir bin Abdullah berkata,
“Pada saat perang Khibar,
Ali menjebol pintu Khaibar sendirian, hingga akhirnya kaum Muslimin mampu masuk
ke dalam benteng dan menaklukkan musuh-musuhnya. Lalu mereka menarik pintunya
dan pintu tersebut tidak mampu ditarik kecuali oleh empat puluh orang.” (H.R.
Ibnu Asakir).
Keutamaan Ali Bin Abi Thalib
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin
Waqqash bahwa Rasulullah memerintahkan Ali untuk menggantikannya sementara di
Madinah pada saat kaum Muslimin akan menuju perang Tabuk. Ali saat itu berkata,
“Engkau tempatkan aku bersama para wanita dan anak-anak di madinah?” lalu
Rasulullah bersabda, “Tidakkah engkau rela menjadi laksana Harun di samping
Musa di sisiku? Hanya saja memang tidak ada Nabi setelahku.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad dia
berkata,
“Rasulullah berkata pada saat perang Khaibar, ‘Saya sungguh-sungguh
akan memberikan bendera perang esok hari kepada orang yang dengannya Khaibar
akan dibuka dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.’ Malam itu para sahabat
ramai membincangkan siapa yang akan mendapat kehormatan untuk mendapatkan
bendera perang itu. Tatkala pagi menjelang para sahabat segera menemui
Rasulullah. Semuanya berharap semoga bendera itu diberikan kepadanya, lalu
Rasulullah berkata, ‘Di mana Ali?’orang yang hadir saat itu berkata, ‘Dia
sedang sakit mata.’ Rasulullah bersabda, ‘Datangkan dia ke sini’ lalu para
sahabat menjemputnya untuk menghadap Rasulullah. Ali datang menemui Rasulullah,
dan Rasulullah menyemburkan ludah kepada kedua matanya dan berdoa. Dan
sembuhlah kedua mata Ali seakan-akan dia tidak pernah merasakan sakit. Lalu
Rasulullah serahkan bendera itu kepadanya.”
Imam Muslim
dari Sa’ad bin Waqqash dia berkata, “turun ayat,
“siapa yang membantahmu
tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah
(kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu,
isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian
Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah
ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Qs. Ali Imran ayat 61). Rasulullah
memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husein lalu berkata, ‘Ya Allah, mereka adalah
keluargaku.’
Imam
at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Suraih, Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa
yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.”
Imam
at-Tirmidzi dan al-Hakim dari Buraidah dia berkata, Rasulullah bersabda,
“sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mencintai empat orang dan Dia
mengabarkan kepadaku bahwa mereka mencintaiku.” Sahabat yang ada di tempat itu
berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkan kepada kami nama-nama mereka.” Rasulullah
bersabda, “Ali adalah dari mereka-beliau mengatakan itu tiga kali-, Abu Dzar,
al-Miqdad dan Salman al-Farisi.”
Imam
at-Tirmidzi, an-Nasa’I dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Habsyi bin Janadah, dia
berkata Rasulullah bersabda,
“Ali adalah bagian dariku dan aku bagian darinya.
”
Al-Hakim
meriwayatkan dari Ali, dia berkata,
“Rasulullah mengutusku ke Yaman. Saya
katakan kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, engkau mengutusku ke Yaman
padahal saya masih muda dan saya harus menyelesaikan maslaah diantara
mereka.npadahal saya tidak tahu bagaimana cara memutuskan perkara mereka.’ Lalu
Rasulullah menepuk dada saya dan berkata, ‘Ya Allah, berilah hidayah kepada
kalbunya, dan kokohkan lisannya!.’ Demi Dzat yang merekahkan biji-bijian sejak
saat itulah saya tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan antara orang yang
berselisih.”
Ibnu Sa’ad
meriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Umar bin Khaththab telah
berkata,
“Ali adalah orang yang paling pandai dalam masalah hokum diantara
kami.”
Abdullah bin
‘Iyas bin Abi Rabi’ah berkata,
“Ali memiliki ketajaman dalam ilmu, luas dalam
pergaulan, paling terdahulu masuk Islam, mengambil janji dari rasulullah,
memiliki kepahaman tentang sunnah dan keberanian dalam perang serta pemurah
dalam harta.”
Abu Ya’la
meriwayatkan dari abu Hurairah, dia berkata bahwa Umar bin Khaththab berkata,
“Ali memiliki tiga keistimewaasn, yang untuk memiliki salah satunya lebih saya
cintai daripada diberi unta yang paling baik. Lalu dia ditanya apa keistimewaan
tersebut. Umar berkata: pernikahannya dengan Fathimah putri Rasulullah,
tinggalnya di Masjid dan diberikannya bendera perang pada perang Khaibar.”
Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ummu Salamah dari
Rasulullah, dia bersabda,
“Barangsiapa yang mencintai Ali, maka dia berarti
mencintai saya, dan barangsiapa yang mencintai saya, berarti dia mencintai Allah.
Barangsiapa yang membenci Ali, maka dia berarti membenci saya, dan barangsiapa
yang membenci saya, berarti dia membenci Allah.”
Al-Bazzar dan
Abu Ya’la dan al-Hakim meriwayatkan dari Ali dia berkata, Rasulullah memanggil
saya lalu berkata,
“Wahai Ali, sesungguhnya dalam dirimu ada sesuatu yang
menyerupai Isa, dia dibenci orang Yahudi hingga mereka melecehkan ibunya, Dan
dicintai oleh orang-orang Nashrani hingga mereka mendudukkannya pada posisi
yang tidak benar (yakni anggapan bahwa Isa adalah anak Allah). Ketahuilah,
sesungguhnya ada dua golongan yang akan hancur karena perlakuan mereka
terhadapmu, golongan yang berlebih-lebihan dalam mencintaimu sehingga mereka
mendudukanmu pada posisi yang tidak benar, dan golongan yang membencimu dengan
keterlaluan hingga mereka melecehkan kamu.”
Masa Kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib
Ibnu Sa’ad berkata, Ali dibaiat sebagai khalifah
sehari setelah terbunuhnya Utsman di Madinah. Semua sahabat membai’atnya
sebagai khalifah.
Terbunuhnya Ali Bin Abi Thalib
Pada tanggal 17 Ramadhan Ali bangun menjelang subuh.
Lalu dia berkata kepada anaknya al-Hasan,
“Semalam saya mimpi bertemu dengan
Rasulullah, saya katakan kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, saya telah mendapatkan
dari umatmu beban dan pertengkaran yang keras’ maka Rasulullah bersabda kepada
saya, ‘Do’akan mereka!’ lalu saya katakan, ‘Ya Allah, gantikanlah untukku orang
yang lebih baik bagiku dari mereka, dan gantikanlah buat mereka orang yang
lebih jelek dari aku!’.”
Saat itulah Ibnu Nabbah sang muadzdzin datang mengetuk
pintu Ali. Dia berkata, “Shalat! Shalat!.”Ali keluar dari pintunya dan berseru,
“Wahai manusia, Shalat! Shalat!.” Saat itulah Ibnu Maljam dating dan menebasnya
dengan pedang. Sabetan pedang orang itu mengenai kening dan muka ali hingga
sampai ke otaknya. Lalu orang-orang mengepung pembunuh itu dari segala arah.
Ali sempat bertahan selama dua hari, Jum’at dan Sabtu.
Beliau meninggal pada hari Ahad, yang memandikan mayatnya adalah al-Hasan,
al-Husein dan Abdullah bin Jafar. Al-Hasan menjadi imam shalat jenazahnya. Dia
dikuburkan di perumahan pemerintah di Kuf’ah pada malam hari.
Ibnu Muljam dihukum dengan cara dipotong semua kaki
dan tangannya, lalu diikat pada pohon kurma, lalu dibakar.
Abu Bakar bin Iyasy berkata,
“Kuburan Ali sengaja
dirahasiakan agar tidak dibongkar oleh orang-orang khawarij.”
Syarik berkata,
“al-Hasan memindahkan kuburan Ali dari
Kuf’ah ke Madinah.”
Ali terbunuh saat usianya enam puluh tiga tahun. Ada
juga yang berpendapat empat puluh lima tahun, bahkan ada yang mengatakan beliau
meninggal pada usia lima puluh delapan tahun.
Wallahu A‘lam Bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar