Minggu, 16 Oktober 2011

Pemboikotan


Ketika kaum Quraisy melihat bahwa orang-orang yang masuk Islam semakin bertambah banyak dan berbagai upaya yang mereka lakukan untuk menghadang dakwah Islam gagal, terutama setelah Hamzah dan Umar masuk Islam, mereka kembali mengevaluasi berbagai cara yang pernah mereka lakukan. Kemudian, mereka berkesimpulan untuk mengambil cara lain yang lebih keras, lebih kejam dan lebih luas pengaruhnya dari cara-cara mereka sebelumnya. Cara yang mereka pilih adalah melakukan pemboikotan total, yaitu pemutusan segala bentuk hubungan dengan kaum muslimin.

Kaum Quraisy sepakat untuk menulis sebuah pernyataan yang berisi kesepakatan mereka untuk tidak berhubungan dengan seluruh anggota keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib dan tidak akan menikahi wanita-wanita mereka selama mereka belum menyerahkan Muhammad. setelah itu mereka mengumumkan pernyataan tersebut dan kemudian menempelkannya di dinding Ka'bah.

Setelah pemboikotan diumumkan, Bani Hasyim dan Bani Muthalib berkumpul di rumah Abu Talib kecuali Abu Lahab, karena ia berada di pihak Quraisy. Musa ibn Aqabah mengatakan bahwa pemboikotan ini berlangsung selama 3 tahun hingga mereka mengalami kesulitan dan kekurangan bahan makanan pokok. 

Suhaili menceritakan: Mereka sanagt kesulitan mendapatkan makanan sehingga memakan dedaunan kering yang terjatuh dari pohon. Bahkan seseorang di antara mereka ada yang tergeletak lemas seperti tergeletaknya seekor kambing. Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan: 

“Aku sangat kelaparan waktu itu. Sehingga, ketika suatu malam tanganku menyentuh sesuatu yang basah, aku pun langsung memasukkannya ke dalam mulutku dan sampai kini aku tidak tahu apa yang pernah aku makan itu.”

Dikisahkan, setiap kafilah dagang sampai di Mekah, salah seorang dari keluarga kedua bani yang diboikot itu pasti ada yang pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk keluarganya. Maka dari itu, Abu lahab pun berkata kepada para pedagang di pasar, “Wahai para pedagang, naikkanlah harga barang-barang kalian kepada sahabat-sahabat Muhammad agar mereka tidak bias membeli apa-apa dari kalian. Jangan khawatir, aku akan menanggung kerugian kalian.”
Mendengar perkataan Abu Lahab tersebut, semua pedagang di pasar menaikkan harga barang-barang mereka secara berlipat-lipat. Akibatnya, orang-orang yang berasal dari keturunan bani Hasyim dan Bani Muthalib tidak bisa membeli apa pun dari pasar. Akhirnya orang-orang yang terkena pemboikotan pun mulai berjatuhan satu persatu. 

Sekalipun mengalami pemboikotan dan kaum muslimin merasakan penderitaan dan kesengsaraan yang tiada tara akibat pemboikotan tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tetap menjalankan dakwahnya. Beliau terus berdakwah kepasa siapa saja dari kaumnya yang ditemuinya.

Demikianlah akhirnya pemboikotan pun usai. Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menghancurkan pemboikotan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun bersama para pengikutnya kembali berbaur dengan masyarakat Mekah dan terus berdakwah. 

HIKMAH

Sampai kapan pun dan di mana pun berada, musuh-musuh Allah pasti akan mengunakan pemboikotan (embargo) sebagai cara untuk menyerang dan mematikan sumber kehidupan atau kekuatan para pejuang agama Allah. Dengan begitu mereka berharap agar para pejuang agama Allah menghentikan dakwahnya. Oleh karena itu, hendaknya para pejuang agama Allah menyadari realitas ini dengan berbagai bentuknya yang beragam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar