Ketika kaum Quraisy melihat bahwa orang-orang yang masuk Islam semakin bertambah banyak dan
berbagai upaya yang mereka lakukan untuk menghadang dakwah Islam gagal,
terutama setelah Hamzah dan Umar masuk Islam, mereka kembali mengevaluasi
berbagai cara yang pernah mereka lakukan. Kemudian, mereka berkesimpulan untuk
mengambil cara lain yang lebih keras, lebih kejam dan lebih luas pengaruhnya
dari cara-cara mereka sebelumnya. Cara yang mereka pilih adalah melakukan
pemboikotan total, yaitu pemutusan segala bentuk hubungan dengan kaum muslimin.
Kaum Quraisy
sepakat untuk menulis sebuah pernyataan yang berisi kesepakatan mereka untuk
tidak berhubungan dengan seluruh anggota keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib
dan tidak akan menikahi wanita-wanita mereka selama mereka belum menyerahkan
Muhammad. setelah itu mereka mengumumkan pernyataan tersebut dan kemudian
menempelkannya di dinding Ka'bah.
Setelah
pemboikotan diumumkan, Bani Hasyim dan Bani Muthalib berkumpul di rumah Abu
Talib kecuali Abu Lahab, karena ia berada di pihak Quraisy. Musa ibn Aqabah
mengatakan bahwa pemboikotan ini berlangsung selama 3 tahun hingga mereka
mengalami kesulitan dan kekurangan bahan makanan pokok.
Suhaili
menceritakan: Mereka sanagt kesulitan mendapatkan makanan sehingga memakan
dedaunan kering yang terjatuh dari pohon. Bahkan seseorang di antara mereka ada
yang tergeletak lemas seperti tergeletaknya seekor kambing. Sa’ad bin Abi
Waqqash mengatakan:
“Aku sangat kelaparan waktu itu. Sehingga, ketika suatu
malam tanganku menyentuh sesuatu yang basah, aku pun langsung memasukkannya ke
dalam mulutku dan sampai kini aku tidak tahu apa yang pernah aku makan itu.”
Dikisahkan,
setiap kafilah dagang sampai di Mekah, salah seorang dari keluarga kedua bani
yang diboikot itu pasti ada yang pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan
untuk keluarganya. Maka dari itu, Abu lahab pun berkata kepada para pedagang di
pasar, “Wahai para pedagang, naikkanlah harga barang-barang kalian kepada
sahabat-sahabat Muhammad agar mereka tidak bias membeli apa-apa dari kalian.
Jangan khawatir, aku akan menanggung kerugian kalian.”
Mendengar
perkataan Abu Lahab tersebut, semua pedagang di pasar menaikkan harga
barang-barang mereka secara berlipat-lipat. Akibatnya, orang-orang yang berasal
dari keturunan bani Hasyim dan Bani Muthalib tidak bisa membeli apa pun dari
pasar. Akhirnya orang-orang yang terkena pemboikotan pun mulai berjatuhan satu
persatu.
Sekalipun
mengalami pemboikotan dan kaum muslimin merasakan penderitaan dan kesengsaraan
yang tiada tara akibat pemboikotan tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam tetap menjalankan dakwahnya. Beliau terus berdakwah kepasa siapa saja
dari kaumnya yang ditemuinya.
Demikianlah
akhirnya pemboikotan pun usai. Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah
menghancurkan pemboikotan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
pun bersama para pengikutnya kembali berbaur dengan masyarakat Mekah dan terus
berdakwah.
HIKMAH
Sampai kapan
pun dan di mana pun berada, musuh-musuh Allah pasti akan mengunakan pemboikotan
(embargo) sebagai cara untuk menyerang dan mematikan sumber kehidupan atau
kekuatan para pejuang agama Allah. Dengan begitu mereka berharap agar para
pejuang agama Allah menghentikan dakwahnya. Oleh karena itu, hendaknya para
pejuang agama Allah menyadari realitas ini dengan berbagai bentuknya yang
beragam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar