Hijrah Ke
Habasyah I
Berbagai
macam penganiayaan dan penyiksaan fisik yang dilancarkan orang-orang kafir
terhadap kaum muslimin terus terjadi tiada henti. Akibatnya, kaum muslimin
mulai berfikir tentang cara yang harus mereka tempuh untuk keluar dari kondisi
yang sangat mencekam dan menakutkan tersebut. Dalam kondisi yang sangat sulit
inilah surah az-Zumar diturunkan Allah subhanahu Wa ta’ala. Surah ini memberikan
petunjuk kepada orang-orang yang beriman untuk melakukan hijrah dan mengumumkan
kepada seluruh manusia bahwa bumi Allah itu tidak sempit, tetapi sangatlah
luas. Yakni ketika Allah berfirman,
“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas’.” (Qs. Az-Zumar ayat 10).
Ibnu Ishaq
meriwayatkan, Ummu Salamah berkata:
“Ketika Mekah semakin terasa sempit bagi
kami, sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu “alaihi Wa Sallam banyak yang
dianiaya, disiksa dan mereka merasa keberadaan diri dan agama mereka semakin
terancam, maka Rasulullah Shallallahu “alaihi Wa Sallam berkata, “Sesungguhnya
di Habasyah terdapat seorang raja yang tidak akan berlaku zhalim. Maka pergilah
kalian semua ke negara itu. Semoga Allah memberikan jalan keluar untuk kalian
dari semua hal ini.” Lalu kami pun pergi ke tempat tersebut dan berkumpul di
sana. Dan benar, kami tinggal di Negara yang aman dan mendapatkan tetangga yang
baik, sehingga kami merasa agama kami telah aman dan tak akan pernah
dizhalimi.”
Ibnu Sa’ad
menceritakan, mereka keluar dari Mekah dengan cara sembunyi-sembunyi. Mereka berjumlah
sebelas laki-laki dan empat orang perempuan. Mereka terus berjalan hingga
akhirnya sampai di Sya’ibah, mereka ada yang memakai kendaraan dan ada juga
yang berjalan kaki. Sesampainya di Sya’ibah Allah memberikan kemudahan kepada
mereka. Yakni, tanpa diduga dua kapal besar milik para pedagang datang. Lalu
para pedagang itu membawa mereka ke Habasyah hanya dengan ongkos setengah
dinar. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab, tahun ke-5 sejak penobatan beliau
sebagai nabi.
Kabar hijrahnya mereka ini akhirnya terdengar oleh orang-orang
Quraisy. Maka mereka pun berupaya mengejar kaum muslimin sampai di
pantai. Namun semua kaum muslimin telah naik kapal ketika mereka sampai ke
pantai.
Mereka yang
berhijrah ke Habasyah pada waktu itu adalah Abu Salamah dan istrinya, Ummu
Salamah, Utsman ibn Math’un, Mushab ibn Umair, Utsman ibn Affan dan istrinya
Ruqayyah binti Rasulullah.
Tentang
Utsman dan Ruqayyah Rasulullah Shallallahu “alaihi Wa Sallam bersabda, “Mereka
berdua adalah ahlul bait yang pertama kali berhijrah di jalan Allah, setelah
Ibrahim dan Luth.”
Hijrah ke
Habasyah ini dikenal sebagai hijrah pertama kaum muslimin. Tak berapa lama
setelah mereka tinggal di Habasyah, terdengar kabar bahwa penduduk Mekah telah
berbondong-bondong masuk Islam. Maka dari itu, mereka kembali ke Mekah, pada
bulan Syawal pada tahun yang sama.
Ketika mereka
semakin dekat dengan Mekah, mereka baru mengetahui bahwa kabar yang mereka
terima tidak benar dan api permusuhan kaum kafir masih menyala-nyala. Mereka
pun memutuskan untuk kembali ke Habasyah. Namun, sebagian di antara mereka ada
yang tetap masuk ke Mekah secara diam-diam. Ada pula yang mencari perlindungan
kepada orang-orang Quraisy yang memiliki pengaruh.
Hijrah Ke
Habasyah II
Sepulangnya
dari hijrah ke Habasyah yang pertama, mereka mendapatkan penyiksaan dan
penganiayaan yang lebih kejam dari sebelumnya. Melihat hal
itu, Rasulullah pun mengizinkan mereka berhijrah lagi ke Habasyah. Pada hijrah
ke Habasyah yang kedua ini jumlah mereka lebih dari 80 orang laki-laki dan 19
kaum perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar