Sabtu, 15 Oktober 2011

Hijrah Ke Habasyah

Hijrah Ke Habasyah I
Berbagai macam penganiayaan dan penyiksaan fisik yang dilancarkan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin terus terjadi tiada henti. Akibatnya, kaum muslimin mulai berfikir tentang cara yang harus mereka tempuh untuk keluar dari kondisi yang sangat mencekam dan menakutkan tersebut. Dalam kondisi yang sangat sulit inilah surah az-Zumar diturunkan Allah subhanahu Wa ta’ala. Surah ini memberikan petunjuk kepada orang-orang yang beriman untuk melakukan hijrah dan mengumumkan kepada seluruh manusia bahwa bumi Allah itu tidak sempit, tetapi sangatlah luas. Yakni ketika Allah berfirman,
“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas’.” (Qs. Az-Zumar ayat 10).
Ibnu Ishaq meriwayatkan, Ummu Salamah berkata: 
“Ketika Mekah semakin terasa sempit bagi kami, sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu “alaihi Wa Sallam banyak yang dianiaya, disiksa dan mereka merasa keberadaan diri dan agama mereka semakin terancam, maka Rasulullah Shallallahu “alaihi Wa Sallam berkata, “Sesungguhnya di Habasyah terdapat seorang raja yang tidak akan berlaku zhalim. Maka pergilah kalian semua ke negara itu. Semoga Allah memberikan jalan keluar untuk kalian dari semua hal ini.” Lalu kami pun pergi ke tempat tersebut dan berkumpul di sana. Dan benar, kami tinggal di Negara yang aman dan mendapatkan tetangga yang baik, sehingga kami merasa agama kami telah aman dan tak akan pernah dizhalimi.”

Ibnu Sa’ad menceritakan, mereka keluar dari Mekah dengan cara sembunyi-sembunyi. Mereka berjumlah sebelas laki-laki dan empat orang perempuan. Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai di Sya’ibah, mereka ada yang memakai kendaraan dan ada juga yang berjalan kaki. Sesampainya di Sya’ibah Allah memberikan kemudahan kepada mereka. Yakni, tanpa diduga dua kapal besar milik para pedagang datang. Lalu para pedagang itu membawa mereka ke Habasyah hanya dengan ongkos setengah dinar. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab, tahun ke-5 sejak penobatan beliau sebagai nabi. 

Kabar hijrahnya mereka ini akhirnya terdengar oleh orang-orang Quraisy. Maka mereka pun berupaya  mengejar kaum muslimin sampai di pantai. Namun semua kaum muslimin telah naik kapal ketika mereka sampai ke pantai.

Mereka yang berhijrah ke Habasyah pada waktu itu adalah Abu Salamah dan istrinya, Ummu Salamah, Utsman ibn Math’un, Mushab ibn Umair, Utsman ibn Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah.

Tentang Utsman dan Ruqayyah Rasulullah Shallallahu “alaihi Wa Sallam bersabda, “Mereka berdua adalah ahlul bait yang pertama kali berhijrah di jalan Allah, setelah Ibrahim dan Luth.”

Hijrah ke Habasyah ini dikenal sebagai hijrah pertama kaum muslimin. Tak berapa lama setelah mereka tinggal di Habasyah, terdengar kabar bahwa penduduk Mekah telah berbondong-bondong masuk Islam. Maka dari itu, mereka kembali ke Mekah, pada bulan Syawal pada tahun yang sama.

Ketika mereka semakin dekat dengan Mekah, mereka baru mengetahui bahwa kabar yang mereka terima tidak benar dan api permusuhan kaum kafir masih menyala-nyala. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke Habasyah. Namun, sebagian di antara mereka ada yang tetap masuk ke Mekah secara diam-diam. Ada pula yang mencari perlindungan kepada orang-orang Quraisy yang memiliki pengaruh.

Hijrah Ke Habasyah II

Sepulangnya dari hijrah ke Habasyah yang pertama, mereka mendapatkan penyiksaan dan penganiayaan yang lebih kejam dari sebelumnya. Melihat hal itu, Rasulullah pun mengizinkan mereka berhijrah lagi ke Habasyah. Pada hijrah ke Habasyah yang kedua ini jumlah mereka lebih dari 80 orang laki-laki dan 19 kaum perempuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar