Ibnu Ishaq
menuturkan: Ummu Salamah Rhadhiyallahu ‘Anha menceritakan:
Sesampainya di negeri Habasyah, kami hidup bertetangga dengan sebaik-baik tetangga, yaitu Raja Najasyi. Ia membuat kami merasa aman dalam memeluk agama kami dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami tidak dianiaya atau pun mendengar kata-kata yang tidak kami suka. Ketika bangsa Quraisy mendengar kabar kami, mereka berkumpul dan sepakat akan mengutus dua orang antara mereka untuk menjumpai Raja Najasyi dan menghadiahkan kepadanya berbagai macam cendra mata dari
Sesampainya di negeri Habasyah, kami hidup bertetangga dengan sebaik-baik tetangga, yaitu Raja Najasyi. Ia membuat kami merasa aman dalam memeluk agama kami dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami tidak dianiaya atau pun mendengar kata-kata yang tidak kami suka. Ketika bangsa Quraisy mendengar kabar kami, mereka berkumpul dan sepakat akan mengutus dua orang antara mereka untuk menjumpai Raja Najasyi dan menghadiahkan kepadanya berbagai macam cendra mata dari
kota Mekah. Lalu mereka mengutus Abdullah ibn Abi Rabi’ah dan Amr ibn Ash
untuk menjalankan misi tersebut. Sebelum keduanya berangkat, kaum Quraisy
berpesan kepada keduanya, “Berikanlah hadiah-hadiah itu kepada para petinggi
istana sebelum kalian berbicara dengan Raja Najasyi. Setelah itu, berikanlah
hadiah untuk Raja Najasyi dan bujuklah ia agar menyerahkan kaum muslimin kepada
kalian berdua sebelum raja tersebut berbicara dengan mereka!.”
Berangkatlah keduanya ke Habasyah untuk menjalankan tugas tersebut. Sesampainya di tujuan, mereka membagi-bagikan hadiah kepada setiap pejabat istana sebelum menghadap raja. Kepada setiap petinggi tersebut mereka berkata, “Telah datang ke negeri sang raja, para budak-budak bodoh dari negeri kami. Mereka itu telah meninggalkan agama kaumnya, tetapi juga tidak masuk ke dalam agama kalian. Mereka datang ke negeri ini dengan membawa agama baru yang kami dan kalian tidak mengenalnya…”
Akhirnya kedua utusan itu bersekongkol dengan para petinggi istana untuk bersama-sama membujuk sang raja agar bersedia menyerahkan kaum muslimin ke tangan dua utusan Quraisy itu. Tetapi Raja Najasyi memanggil kaum muslimin dan bertanya tentang ajaran yang dibawa oleh Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa sallam.
Ketika kaum muslimin telah datang ke istana, Ja’far ibn Abu Thalib berbicara mewakili kaum muslimin. Ja’far membacakan kepadanya awal surah Maryam, mendengar bacaan tersebut, Raja Najasyi pun menangis tersedu-sedu sampai janggutnya basah. Begitu pula dengan para Uskupnya, mereka menagis hingga air mata mereka terjatuh di atas al-kitab yang mereka bawa.
Setelah itu,Raja Najasyi berkata kepada dua utusan Quraisy tadi, “Sesungguhnya ajaran ini dan ajaran yang dibawa oleh Isa ‘Alaihis Salam adalah sama-sama berasal dari satu lentera. Karena itu sesungguhya aku sekali-kali tidak akan pernah menyerahkan mereka kepada kalian. ”
Dengan rasa jengkel, keduanya pun pergi meningglkan istana. Amru berkata kepada Abdullah, “Demi Tuhan, besok aku akan mendatangi
mereka lagi.” Esok harinya Amru kembali menghadap kepada Raja Najasyi. Ia berkata kepadanya, “Mereka (orang muslim) telah mengatakan sesuatu yang sangat besar tentang Isa ibn Maryam.”
Mendengar hal itu Raja Najasyi mengutus utusannya untuk menemui dan memanggil kaum muslimin. Ketika mereka telah datang di Istana, Najasyi menanyakan apa yang mereka katakan tentang al-Masih. Ja’far menjawab, “kami mengatakan seperti yang telah diajarkan oleh Rasul kami Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa sallam, Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, ruh-Nya dan bukti kebesaran-Nya yang dianugerahkan kepada Maryam, si perempuan suci.”
Akhirny Raja
Najasyi puas dengan jawaban itu, sehingga ia tetap memberikan jaminan keamanan
kepada kaum muslimin di negaranya. Bahkan dia mengembalikan seluruh hadiah
bangsa Quraisy. Setelah peristiwa itu, kaum muslimin hidup damai di Habasyah
tanpa ada gangguan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar