Kamis, 13 Oktober 2011

Kaum Musyrik Menghalangi Dakwah

Ketika Allah berfirman, 

“Maka sampaikanlah apa yang diperintahkan (Kepadamu)dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (Qs. Al-Hijr ayat 9). 
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun bangkit, menyingsingkan lengan baju dan menyerukan kebenaran, mengajak manusia agar meninggalkan penyembahan berhala, memperlihatkan kebodohan orang yang menyembah berhala dan menjelaskan kebenaran Islam. 

Kaum Quraisy mulai sadar bahwa dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memiliki pengaruh yang sangat luas. Menyadari hal tersebut, kaum Quraisy mulai melancarkan berbagi penentangan dan upaya merintangi dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan pengikutnya. Berbagai cara dan upaya mereka tempuh untuk menghadang jalannya dakwah Islam yang lambat laun mereka rasakan sebagai ancaman bagi kepentingan mereka, khususnya bagi pemuka-pemuka masyarakat Quraisy. Ajaran yang didakwahkan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan pengikutnya bisa menghalangi mereka untuk memuaskan hawa nafsu dan melakukan berbagai macam perbuatan buruk dengan sesuka hati.

Beberapa cara yang ditempuh kaum musyrikin untuk menghadang jalannya dakwah Islam saat itu antara lain:

Meminta Abu Thalib agar menyuruh Muhammad menghentikan dakwahnya
Suatu hari beberapa pemuka kaum  Quraisy mendatangi Abu Thalib dan berkata kepadanya, 

“Wahai Abu Thalib, anak saudaramu itu telah berani mencaci Tuhan-Tuhan kita, mencela agama kita dan menganggap sesat kakek moyang kita! Apakah engkau akan tetap membiarkan perselisihan di antara kami dan Muhammad?, ketahuilah, sesungguhnya engkau terhadapnya sama halnya dengan kami terhadapnya. Maka dalam hal ini kami cukup mempercayakan urusan ini kepadamu!.” 
Namun, Abu Thalib menolak permintaan mereka dengan perkataan yang lemah lembut dan baik.  
  
Mengancam akan memerangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Abu Thalib. 

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap menjalankan dakwahnya, kaum Quraisy menjadi sangat murka. Mereka mulai memusuhi, mendendam dan mereka saling memperingatkan satu sama lain agar waspada terhadap Muhammad dan ajarannya. Kemudian mereka mendatangi Abu Thalib dan mengatakan,

“Wahai Abu Thalib, engkau adalah sesepuh kami, terhormat dan memiliki kedudukan di hadapan kami. Kami pernah memintamu untuk menghentikan sepak terjang anak saudaramu itu, tetapi ternyata engkau tidak mau melakukannya.” 

Setelah mengatakan demikian, mereka mengancam akan memerangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Abu Thalib sampai titik darah penghabisan. Abu Thalib pun menyampaikan ancaman kaum Quraisy itu kepada  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka beliau pun berkata kepada Abu Thalib, 

“Demi Allah, wahai paman , seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan maksud agar aku meninggalkan tugasku (berdakwah menyiarkan agama Allah ini sampai tersiar di muka bumi) atau sampai aku binasa di dalamnya, niscaya aku tetap tidak akan meninggalkannya.”  

Kemudian Abu Thalib berkata, 

“wahai putra saudaraku, lanjutkanlah perjuanganmu dan katakanlah apapun yang ingin engkau katakan. Demi Allah,aku tidak akan pernah menyerahkanmu kepada mereka apapun alasannya.”  

Melontarkan tuduhan palsu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Di antara tuduhan palsu yang ditujukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

Mengatakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam gila. 

Hal  ini disebutkan dalam Qs. Al-Hijr ayat 6, yang berbunyi :

“ Mereka berkata, “Hai orang yang diturunkan al-Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang gila.’”

Kemudian, Allah membantah dakwaan mereka ini dengan firman-Nya dalam Qs. Al-Qalam ayat 2 yang berbunyi, 

“Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.”

Mereka menuduh Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa Sallam sebagai tukang sihir. 

Tentang tuduhan mereka ini Allah berifrman, 

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata, ‘ini  adalah  seorang ahli sihir yang banyak berdusta’.” 

Melontarkan ejekan, cemoohan, sindiran, golok-olokan, hinaan dan celaan kepada kaum Muslimin.

Tentang ejekan dan cemoohan mereka terhadap orang-orang beriman ini, Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

“Sesungguhnya orang -orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu dihadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.” (Qs. Al-Muthaffifin ayat 29-31).

Mengganggu dengan keonaran dan kegaduhan

Orang-orang musyrik saat itu sepakat untuk bersama-sama menciptakan keributan dan kegaduhan dengan berbagai teriakan yang keras pada saat ayat-ayat al-Qur’an diperdengarkan. Dengan begitu mereka berharap ayat-ayat tersebut tidak bisa di dengar dan difahami oleh setiap akal yang sehat dan hati yang suci. Tentang kelakuan mereka ini, Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

“Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkan mereka’.” (Qs. Fushshilat ayat 20).

Meminta Rasulullah menunjukkan keistimewaan yang tidak dimiliki manusia biasa.

Salah satu permintaan mereka adalah seperti diceritakan Allah subhanahu wa Ta’ala dalam  firman-Nya, 

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia. Atau, (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang ia dapat makan dari hasilnya’.” 
(Qs. Al-Furqan ayat 7-8)

Permintan mereka ini jelas bukan untuk mencari petunjuk dan kebenaran, melainkan hanya sebagai upaya untuk mencemooh dan memusuhi Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Menawarkan kompromi-kompromi

Mereka berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Sembahlah Tuhan kami pada hari tertentu, dan kami akan menyembah Tuhanmu pada waktu yang telah ditentukan pula,.” Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya, 

“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku ’.” (Qs. Al-Kafirun ayat 1-6). 

Demikianlah Allah menggagalkan tawaran itu.

Bersekutu dengan orang Yahudi

Bangsa Quraisy mengirim serombongan utusan ke Madinah untuk menemui beberapa tokoh Yahudi dan meminta mereka agar memberikan pertanyaan-pertanyan yang akan sulit dijawab oleh Rasulullah. Orang-orang Yahudi menganjurkan mereka untuk menanyakan kepada Muhammad shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang Ahlu al-Kahf, Dzul Qarnain dan ruh. Akan tetapi, Allah telah menggagalkan tipu daya mereka dengan menurunkan ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan jawaban dari seluruh pertanyaan yang mereka lontarkan tersebut.

Menggunakan tindak kekerasan

Penganiayaan secara fisik. 

Muslim meriwayatkan, Abu Hurairah Rhadhiyallahu ‘Anhu menuturkan: Suatu ketika Abu Jahal berkata, 

“Benarkah Muhammad pernah bersujud di hadapan kalian?” seseorang menjawab, “Ya, benar!” Maka, Abu Jahal berkata “Demi Latta dan Uzza, andaikata aku melihat Muhammad melakukan hal tersebut, niscaya aku akan memenggal lehernya atau aku akan membenamkan wajahnya ke tanah.” Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wa Sallam datang dan shalat di depan Kakbah. Maka orang-orang Quraisy mengira Abu Jahal akan memenggal leher Muhammad. Akan tetapi, betapa terkejutnya mereka ketika melihat Abu Jahal justru melangkah mundur dengan tubuh gemetar. Melihat hal itu, beberapa orang Qusaisy pun bertanya kepadanya, “Apa yang tejadi denganmu dan mengapa kamu tidak jadi melaksanakan sumpahmu?” Abu Jahal menjawab, “Entahlah, tapi aku merasa seolah-olah diantara diriku terdapat lubang api hingga aku merasa takut dan gemetar.” Maka Rasulullah pun bersabda, “Seandainya waktu itu ia mendekatiku, niscaya malaikat akan melepaskan bagian tubuhnya satu persatu.”  

Penyiksaan terhadap para budak

Orang-orang kafir melampiaskan rasa marah mereka terhadap Islam dan para pengikutnya kepada budak-budak yang masuk Islam. Penyiksaan kaum kafir terhadap para budak ini sangat keji dan tidak beradab. Ibnu Mas’ud menuturkan: 

Orang-orang yang pertama kali menunjukkan ke-Islamannya ada tujuh orang  yaitu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Abu Bakar, Ammar dan ibunya Samiyah, Shuhaib, Bilal dan Miqdad. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendapat perlindungan dari pamannya dan Abu Bakar dilindungi oleh kaumnya. Adapun yang lainnya disiksa oleh kaum musyrikin, mereka ada yang dipukul dengan besi dan ada pula yang dipanggang di bawah terik matahari di padang pasir.  Maka tidak ada seorangpun dari mereka ini yang akhirnya tidak memenuhi kemauan orang-orang  musyrik kecuali Bilal. Ia benar-benar telah mengorbankan dirinya hanya untuk Allah. Akhirnya kaumnya menyeretnya keliling kota Mekah sedang ia terus berucap, Ahad, Ahad.  

Sa’id ibn Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, 

“Akankah orang-orang musyrik senantiasa melakukan penyiksaan diluar batas kepada para pengikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam selagi mereka tidak mau meninggalkan agama mereka?”.

Ibnu Abbas menjawab, 

“Benar, Demi Allah, sesungguhnya mereka akan terus menyiksa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallamu membuatnya kelaparan dan kehausan. Lalu, mereka akan memukulinya dengan keras secara bertubi-tubi hingga membuatnya tak kuasa duduk dengan tegak. Bahkan, siksaan itu tidak akan berhenti sebelum seorang muslim memenuhi permintaan mereka. Dan mereka berkata kepada si Muslim yang sedang sekarat itu, “bukanlah Latta dan Uzza itu tuhanmu selain Allah?” sampai si Muslim terpaksa menjawab, “Ya!” jawaban sperti ini, tentu saja tidak lahir dari hatinya yang paling dalam, melainkan karena ia sudah tak kuasa lagi menahan siksaan.” 

Tentang hal ini, Allah menurunkan firman-Nya, 

“Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah ia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berodsa). Akan tetapi, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Qs. An-Nahl ayat 106).  

Siksaan terhadap keluarga Yasir

Dikisahkan, Bani Makhzum menyeret mereka ke tengah-tengah sahara di kota Mekahdi bawah panasnya terik matahari dan kemudian menyiksa mereka. Kemudian Rasulullah lewat di depan mereka, sedang mereka saat itu tengah disiksa. maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, 

“Kabarkanlah kepada keluarga Amar dan Yasir, ‘Sesungguhnya tempat kembali kaliana adalahsurga’.” 

Orang pertama yang meninggal dunia sebagai syahid dari umat Islam adalah ibu Ammar, yaitu Samiyah binti Khatbah. Abu Jahal telah menusuknya dengan tombak, tepat di bagian kemaluannya. Perlakuan biadab inilah yang menyebabkan wanita mulia ini meninggal dunia. Yasir juga meninggal dalam penyiksan tersebut. Begitu pula dengan putranya Abdullah.

Penyiksaan terhadap Bilal

Bilal adalah seorang budak Bani Jamh. Nama lengkapnya adalah Bilal ibn Rabbah. Dia berasal dari Habasyah(Ethiopia). Diriwayatkan, 

Ketika majikannya mengetahui bahwa Bilal sudah masuk Islam, majikannya menyeret Bilal ke tengah-tengah padang sahara kota Mekah di bawah panasnya terik matahari. Kemudian majikannya meletakkan sebuah batu besar di atas dada Bilal seraya berkata, 
“Engkau akan tetap seperti ini sampai ajal menjemputmu. Namun bila engkau mau mengingkari Muhammad dan kembali menyembah Tuhan Latta dan Uzza, niscaya aku akan melepaskanmu.” Bilal tidak sedikitpun goyah dengan siksaan itu dan dari mulutnya terus keluar kalimat, “Ahad, Ahad.”

Amru ibn Ash menceritakan

“Aku melintas di depan Bilal pada saat disiksa di bawah sengatan matahari. Sungguh, seandainya beberapa potong daging diletakkan di atas tubuhnya niscaya daging-daging itu akan matang pada saat itu. Meski  demikian Bilal tetap berkata, “Aku sungguh-sungguh mengingkari Latta dan Uzza.” Pernyataan ini membuat majikannya semakin geram dan murka. Maka ia pun mencekik leher Bilal sekuat tenaga sampai Bilal pingsan karena cekikan tersebut.

Ketika Abu Bakar melihat kondisi bilal seperi itu, ia menghampiri majikannya dan menawar harga Bilal untuk dibeli. Akhirnya Abu Bakar membeli Bilal dan membebaskannya.

Penyiksaan terhadap Khabab ibn Arat.

Dikisahkan, kaum musyrikin pernah menarik rambutnya dengan keras dan mencekik lehernya dengan sekuat tenaga. Kemudian membaringkan ditengah-tengah gurun pasir yang panas lalu mereka meletakkan batu di atas tubuhnya hingga ia tidak kuat bangun lagi. Kaum kafir juga pernah menyalakan api dan kemudian membakar tubuhnya. Lalu, ketika api itu dipadamkan, punggungnya sudah terbakar. Hal itu diceritakan sendiri oleh Khahab ibn Arat. Bahkan ia pernah memperlihatkan bekas luka bakarnya itu kepada Umar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar