Hukum asalnya tidak ada seorangpun yang tahu dengan pasti kapan dia akan meninggal.
Allah ﷻ berfirman,
وَما تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (QS. Luqman: 34)
Tidak ada satu pun manusia yang tahu, di mana dia akan meninggal dunia. Akan tetapi, bagaimanapun seseorang berusaha menghindar dari kematian, dia pasti akan tetap mendatanginya.
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ
“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu.” (QS. Al-Jumuah: 8)
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh.” (QS. An-Nisa’: 78)
Siapa pun orangnya, baik raja, panglima perang atau orang yang memiliki keistimewaan lengkap dengan penjagaan sekalipun, bahkan di dalam rumah yang besar dan dinding yang kokoh, jika kematian datang kepadanya, maka dia akan mendapatinya dan tidak bisa lari darinya.
Bahkan para nabi pun tidak tahu dengan pasti kapan tiba kematiannya.
Seperti Nabi Adam álaihis salam ketika datang malaikat maut beliau menyangka bahwa umur beliau masih tersisa 40 tahun.
Rasulullahﷺ bersabda,
لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ، فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا مِنْ ذُرِّيَّتِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَجَعَلَ بَيْنَ عَيْنَيْ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصًا مِنْ نُورٍ، ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى آدَمَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ ذُرِّيَّتُكَ، فَرَأَى رَجُلًا مِنْهُمْ فَأَعْجَبَهُ وَبِيصُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: هَذَا رَجُلٌ مِنْ آخِرِ الأُمَمِ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ فَقَالَ: رَبِّ كَمْ جَعَلْتَ عُمْرَهُ؟ قَالَ: سِتِّينَ سَنَةً، قَالَ: أَيْ رَبِّ، زِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً، فَلَمَّا قُضِيَ عُمْرُ آدَمَ جَاءَهُ مَلَكُ المَوْتِ، فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ قَالَ: فَجَحَدَ آدَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَنُسِّيَ آدَمُ فَنُسِّيَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَخَطِئَ آدَمُ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ
“Saat Allah menciptakan Adam, Ia mengusap punggungnya lalu dari punggungnya berjatuhan setiap jiwa yang diciptakan Allah dari keturunan Adam hingga hari kiamat dan Ia menjadikan kilatan cahaya diantara kedua mata setiap orang dari mereka, kemudian mereka dihadapkan kepada Adam, ia bertanya: ‘Wahai Rabb, siapa mereka?’ Allah menjawab: ‘Mereka keturunanmu’. Adam melihat seseorang dari mereka dan kilatan cahaya diantara kedua matanya membuatnya kagum, Adam bertanya: ‘Wahai Rabb siapa dia?’ Allah menjawab: ‘Ia orang akhir zaman dari keturunanmu bernama Daud’. Adam bertanya: ‘Wahai Rabb, berapa lama Engkau menciptakan umurnya?’ Allah menjawab: ‘Enam puluh tahun’. Adam bertanya: ‘Wahai Rabb, tambahilah empat puluh tahun dari umurku’. Saat usia Adam ditentukan, Malaikat maut mendatanginya lalu berkata: ‘Bukankah usiaku masih tersisa empat puluh tahun’. Malaikat maut berkata: ‘Bukankah kau telah memberikannya kepada anakmu, Daud’. Adam membantah lalu keturunannya juga membantah. Adam dibuat lupa dan keturunannya juga dibuat lupa. Adam salah dan keturunannya juga salah.”
(H.R. Tirmidzi. 5/267 no. 3076)
🍃🍃
Ustadz Dr. Musyaffa' ad Dariny, M.A, Asatidzah Pengajar di Yayasan Risalah Islam Hafizhakumullah & Mutiara Riasalah Islam lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar