Minggu, 13 Januari 2013

SIFAT DAN KEBIASAAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM



Gerak langkah seseorang merupakan pertanda bagi akalnya dan kunci untuk mengetahui hatinya. Aisyah binti Shiddiq ummul mukminin rhadiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling tahu tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan orang yang paling detail dalam menceritakan kehidupan beliau. Dialah orang yang paling dekat kepada beliau di waktu bangun dan tidur, sakit dan sehat, marah dan ridha.

Umul mukminin Aisyah rhadiyallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidaklah berkata jorok dan kotor , tidak berteriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan akan tetapi memaafkan.” (H.R. Ahmad).

Ini adalah akhlak nabi umat ini, cucu beliau Al Hasan menggambarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada kita dengan berkata,  aku bertanya kepada bapakku tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam  bersama orang-orang disekitarnya, beliau berkata,   

Beliau selalu ceria, berakhlak baik, lemah lembut, tidak kasar dan berteriak, tidak mencela, meninggalkan apa yang beliau  tidak sukai, orang yang berharap dari beliau tidak putus asa dan tidak kecewa, beliau menjauhkan dirinya dari tiga hal : riya’, memperbanyak harta dan apa yang tidak berguna bagi beliau. Beliau meninggalkan tiga hal :  tidak mencaci seorang pun, tidak mencari-cari kesalahan orang dan tidak berbicara kecuali apa yang beliau harapkan pahalanya. Apabila beliau berbicara orang-orang disekitarnya menundukkan kepala seakan di kepala mereka ada burung, apabila beliau diam mereka berbicara, mereka tidak berebutan berbicara di hadapan beliau. Apabila ada yang berbicara mereka semua mendengarkannya hingga selesai, ikut tertawa bila mereka tertawa, kagum terhadap apa yang mereka kagumi, sabar terhadap orang asing yang tidak ramah kepada beliau dalam pembicaraan maupun permohonan, sehingga para sahabatnya mendatangkan mereka. 

Beliau berkata :

“Apabila kalian melihat orang yang meminta suatu keperluan maka bantulah. Dan beliau tidak menerima pujian kecuali dari orang yang membalas, tidak pernah memotong pembicaraan orang hingga berlebihan, maka beliau memotongnya dengan melarang atau meninggalkannya.” 
(H.R. Tirmidzi).

Perhatikan akhlak dan perilaku beliau satu demi satu, ambillah sebagian darinya dan usahakan mengambil bagian darinya, karena hal itu merupakan kumpulan kebaikan.

Di antara kebiasaan beliau adalah mengajar orang-orang disekitarnya tentang masalah agama mereka, diantaranya beliau bersabda :

“Barangsiapa mati dan ia mempersekutukan Allah dengan sesuatu maka ia masuk neraka.”  
(H.R. Bukhari).

Diantaranya juga beliau bersabda :

“Seorang muslim adalah siapa yang orang Islam selamat dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” 
(H.R. Bukhari dan Muslim).

Dan beliau bersabda :

“Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang suka pergi ke masjid diwktu gelap, dnegan cahaya yang sempurna di hari kiamat.” 
(H.R. Tirmidzi).

Dan beliau bersabda :

“Berjihadlah melawan orang-orang yang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian.”  
(H.R. Abu Daud).

Dan beliau bersabda :

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak jelas maknanya, menyebabkan ia tergelincir ke neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” 
(Muttafaq ‘alaih).

Beliau bersabda :

“Sesungguhnya kau tidak diutus menjadi tukang laknat, akan tetapi aku diutus dengan rahmat.”  
(H.R. Muslim).

Dari Umar rhadiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku seperti orang-orang nasrani memuji Isa bin Maryam.”  
(Muttafaq ‘alaih).

Dari Jundub bin Abdullah rhadiyallahu ‘anhu berkata : aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda lima hari sebelum beliau meninggal :

“Aku memohon dijauhkan oleh Allah dari menjadikan salah seorang kalian sebagai khalil (kekasih) karena Allah telah menjadikanku sebagai khalil, sebagaimana menjadikan Ibrahim sebagai khalil, ingat ! sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid. Ingat! Janganlah menjadikan kuburanku sebagai masjid, sesunguhnya aku melarang hal tersebut. ” 
(H.R. Muslim).

Oleh karena itu, maka tidak boleh shalat di masjid-masjid yang ada kuburannya.

Dari Buku : “Suatu Hari di Rumah Rasulullah.”
Karya       :  Abdul Malik Al-Qasim.


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar