Jibril berkata kepada Muhammad, “Bacalah!” Aku (Muhammad) menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Lantas Jibril mendekapku dengan sekuat tenaga hingga aku tidak bias bernafas. Setelah itu, ia melepaskanku dan berkata, “Bacalah!” aku kembali menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Maka Jibril mendekapku lagi dengan sekuat tenaga untuk kedua kalinya. Lalu ia melepaskanku lagi seraya berkata, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” Sampai pada firman Allah yang berbunyi, “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Setelah itu Muhammad pulang ke rumah dengan tubuh
gemetar karena ketakutan. Sesampainya di rumah ia bertemu Khadijah. Lalu dengan
gemetar beliau berkata, “Selimutilah aku!.” Maka keluarga beliau menyelimutinya
hingga ketakutan beliau sirna. Setelah agak tenang Muhammad berkata, Wahai
Khadijah, apakah sebenarnya yang terjadi pada diriku ini? Lantas beliau
menceritakan peristiwa yang telah beliau alami kepada Khadijah itu dengan cemas
dan penuh kekhawatiran. Namun, dengan bijak Khadijah berkata, “Janganlah engkau
cemas, Demi Allah, sesungguhnya Dia tidak akan pernah mengecewakanmu. Bukankah
engkau orang yang selalu menyambung tali silaturahim, berkata jujur, menolong
orang yang membutuhkan pertolongan dan membantu mereka yang terkena musibah?” setelah itu Khadijah
pergi bersama Muhammad untuk menemui putra pamannya, Waraqah ibn Naufal. Ia
beragama Nasrani, ia juga menulis kitab Injil dalam bahasa Ibrani. Ia sudah sangat tua lagi tuna netra. Di hadapan
Waraqah, Khadijah berkata,
“Dengarkanlah cerita dari putra saudaramu ini!” Waraqah berkata, “wahai putera saudaraku, apa yang terjadi padamu?.” Maka Muhammad menceritakan kepadanya semua hal yang terjadi pada dirinya. Waraqah pun berkata, “Itu adalah rahasia yang paling besar yang pernah diturunkan Allah kepada Musa, wahai seandainya aku bisa menjadi muda dan kuat, semoga aku masih hidup hingga bisa menyaksikan dirimu diusir oleh kaummu.” Muhammad memotong pembicaraan Waraqah seraya bertanya dengan heran, “Benarkah kaumku kelak akan mengusirku?.” Waraqah menjawab, “Ya, karena tidak ada satu pun nabi yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa itu melainkan mereka akan diusir dan disakiti. Dan seandainya aku bisa menjumpai hari di saat engkau dimusuhi dan disakiti itu, niscaya aku menolong dan membantumu dengan sekuat tenagaku.” Akan tetapi, tidak lama berselang, Waraqah meninggal dunia.
Masa
Terputusnya Wahyu
Setelah
menyampaikan wahyu yang pertama di Gua Hira itu, Jibril tidak pernah lagi
mendatangi Muhammad selama beberapa waktu. Muhammad pun merasa gelisah dan putus
asa menghadapi keterputusan wahyu ini.
Setelah
beberapa lama terputus, wahyu mulai turun lagi kepada Muhammad. Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Ketika aku tengah berjalan kaki, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengarahkan pandanganku ke atas. Dan ternyata, seorang malaikat yang dulu mendatangiku di Gua Hira terlihat tengah duduk di atas kursi yang terletak antara langit dan bumi. Maka, aku pun tiba-tiba menjadi gemetar dan sangat takut. Lantas aku pun segera pulang dan berkata kepada keluargaku, “Selimutilah aku, selimutilah aku!.”
Maka, pada
saat itulah Allah menurunkan firmannya yang berbunyi,
“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (Qs. Al-Mudatsir ayat 1 - 5).
Demikianlah,
sejak saat itu wahyu mulai turun lagi secara berturut-turut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar