Senin, 15 Februari 2021

Kesabaran Atha' bin Yasar

๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€

๐Ÿ“œ KISAH KESABARAN ATHO’ BIN YASAR

 

Atho’ bin Yasar rahimahullah merupakan seorang tabi’in yang lahir di kota Madinah tahun 29 H dan wafat tahun 103 H. Selain seorang Imam dan Faqih, ia juga rajin menyampaikan mau’izhoh hasanah di Masjid Nabawi kepada kaum muslimin. Beliau seorang yang penyabar dan tegar. Berkaitan dengan hal ini, beliau memiliki kisah menarik bersama saudaranya Sulaiman bin Yasar rahimahullah, sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abdurrahman bin Zaid bn Aslam rahimahumallah. Berikut alur cerita tersebut.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah bercerita: “Atho bin Yasar dan Sulaiman bin Yasar pernah keluar dari kota Madinah -menuju Mekkah- untuk melaksanakan ibadah haji. Ikut bersama mereka beberapa orang sahabat. Ketika sampai di daerah al-Abwa’, mereka mampir di sebuah rumah persinggahan. Sulaiman dan para sahabatnya lalu pergi untuk menyelesaikan kebutuhan masing-masing. Yang tersisa hanyalah Atho’ bin Yasar. Ia berdiri untuk mengerjakan shalat malam di dalam rumah itu.”

Abdurrahman melanjutkan: “Tiba-tiba seorang wanita badui yang cantik jelita masuk untuk menemui Atho’. Pada saat melihatnya, Atho’ mengira wanita itu butuh sesuatu, ia pun menyegerakan shalatnya. 

Atho' bertanya: “Engkau butuh sesuatu?” 

Wanita itu menjawab: “Iya.” 

Atho’ kembali bertanya: “Apa itu?” 

“Kemarilah engkau, tidurlah denganku, aku rindu laki-laki, aku tidak bersuami,” Jawabnya.

Atho’ berkata: “Menjauhlah dariku, jangan engkau bakar aku dan dirimu dengan api neraka.” 

Atho’ melihat wanita cantik itu dan ia terus menggodanya, akan tapi tetap saja ia menolaknya. Akhirnya ia menangis dan berkata: “Celakalah dirimu, menjauhlah engkau dariku!”

Isak tangisnya pun semakin menjadi. Ketika wanita itu melihat Atho’ menangis seperti itu, akhirnya ia terharu dan larut menangis bersamanya. 

Atho’ terus saja menangis. Wanita yang ada di hadapannya itu juga terus menangis. Dalam keadaan seperti itu, datanglah Sulaiman setelah menyelesaikan urusannya. Tatkala melihat Atho’ menangis, dan wanita yang ada di hadapannya di pojok rumah itu juga menangis, ia pun ikut menangis. Padahal ia tidak mengetahui sebab keduanya memangis. Para sahabat mereka berdua pun berdatangan satu demi satu. Ketika satu persatu datang dan melihat mereka menangis, maka ia langsung duduk dan ikut menangis bersama mereka, tanpa bertanya sebab tangisan mereka. Sehingga pecahlah suara tangisan mereka. Akhirnya, tatkala wanita itu melihat apa yang terjadi di sekelilingnya, ia bangkit dan pergi.“

Abdurrahman meneruskan: “Para sahabat Atho’ lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah. Sementara itu, karena menghormati kakaknya dan wibawa yang ada padanya, hingga beberapa saat Sulaiman tidak berani bertanya kepadanya tentang kisah wanita itu.”

Abdurrahman melanjutkan: “Pada kesempatan lain, karena ada suatu urusan mereka berdua pergi menuju Mesir dan tinggal di sana hingga beberapa saat. Pada suatu malam, tiba-tiba Atho’ terbangun dari tidurnya lalu menangis. 

Sulaiman bertanya: “Kenapa engkau menangis, saudaraku?” Namun tangisannya malah semakin menjadi. Ia bertanya lagi: “Kenapa engkau menangis, saudaraku?” 

Akhirnya Atho’ bercerita: “Malam ini aku bermimpi.” 

Sulaiman bertanya: “Mimpi apa itu?” 

Atho’ berkata: “Jangan sekali-kali engkau menceritakannya kepada seorangpun selama aku masih hidup. Aku bermimpi melihat Nabi Yusuf alaihis-salam. Aku mendatangi beliau untuk memandanginya bersama orang-orang lain yang juga ingin memandangi beliau. Ketika aku melihat ketampanannya aku menangis, sehingga orang-orang melihatku.

Lalu Nabi Yusuf bertanya: “Mengapa engkau menangis?” 

Aku menjawab: “Wahai Nabi Allah, aku teringat -kisah- dirimu bersama Istri sang Raja, cobaan darinya dan penjara yang menimpamu, juga perpisahanmu dengan Nabi Ya’qub. Jadilah aku menangis seperti ini. Aku kagum terhadap semua itu.”

Nabi Yusuf berkata: “Mengapa engkau tidak kagum kepada laki-laki yang bersama wanita badui di al-‘Abwa’?" (maksudnya adalah Atho' sendiri)

[Atho berkata]: "Aku paham apa yang beliau maksud, sehingga aku terbangun seraya menangis.”

Sulaiman bertanya: “Saudaraku, apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu?” Akhirnya Atho’ menceritakan kejadian sebenarnya kepadanya. Sulaiman tidak memberitahukan cerita ini kepada seorangpun hingga Atho’ meninggal dunia. Ia bercerita kepada seorang wanita dari anggota keluarganya. Sementara itu, tidaklah kisah ini tersebar luas di kota Madinah kecuali setelah Sulaiman bin Yasar meninggal dunia rahimahumallah.

๐Ÿ“š (Mawaqif Imaniyyah, Ahmad Farid, 104-105)

Menghadapi cobaan wanita tidaklah mudah. Sedikit dari kaum Adam yang selamat darinya, tapi begitu banyak lelaki yang tumbang dan takluk di hadapannya. Semoga Allah memudahkan kita -kaum Adam- menjadi golongan yang sedikit tersebut.

Untuk kaum Hawa, jagalah baik-baik diri kalian. Sebab fitnah terbesar bagi kami -kaum Adam- ada pada kalian. Jangan sampai kalian menjadi penyebab kami menuju neraka. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kalian untuk meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Aamiin.

 

๐Ÿ“ Bagian Indonesia ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ
ICC DAMMAM KSA
[ 24/04/1438 H ]
================== @iccdammamksa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar