TERMASUK SYIRIK BERAMAL SHALEH UNTUK DUNIA
Firman Allah subhanahu wata’ala:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ، أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasaannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan, mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, serta sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15–16).
Dalam shahih Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الخَمِيْصَةِ، تَعِسَ عَبْدُ الخَمِيْلَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيْكَ فَلاَ انْتَقَشَ، طُوْبَى لِعَبْدٍ أَخَذَ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّة قَدَمَاهُ، إِنْ كَانِ فِيْ الحِرَاسَةِ كَانَ فِيْ الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنْ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَّعَ لَمْ يُشَفَّعْ
“Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba khamishah, celaka hamba khamilah, jika diberi ia senang, dan jika tidak diberi ia marah, celakalah ia dan tersungkurlah ia, apabila terkena duri semoga tidak bisa mencabutnya, berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya (berjihad di jalan Allah), kusut rambutnya, dan berdebu kedua kakinya, bila ia ditugaskan sebagai penjaga, dia setia berada di pos penjagaan, dan bila ditugaskan di garis belakang, dia akan tetap setia di garis belakang, jika ia minta izin (untuk menemui raja atau penguasa) tidak diperkenankan, dan jika bertindak sebagai pemberi syafaat (sebagai perantara) maka tidak diterima syafaatnya”. (HR. Bukhari: 2/328)
Kandungan bab ini:
1. Motivasi seseorang dalam amal ibadahnya, yang semestinya untuk akhirat malah untuk kepentingan duniawi [termasuk syirik dan menjadikan pekerjaan itu sia-sia tidak diterima oleh Allah].
2. Penjelasan tentang ayat dalam surat Hud.
3. Manusia muslim disebut sebagai hamba dinar, hamba dirham, hamba khamishah dan khamilah [jika menjadikan kesenangan duniawi sebagai tujuan].
Dunia sebagai tujuannya dalam beribadah, orientasi nya dunia semata-mata.
4. Tandanya apabila diberi ia senang, dan apabila tidak diberi ia marah. Ia tidak ikhlas dengan keadaan, marah jika kebutuhannya tidak dipenuhi.
5. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendo’akan: “celakalah dan tersungkurlah”.
6. Juga mendoakan: “Jika terkena duri semoga ia tidak bisa mencabutnya.”
7. Sebaliknya Pujian dan sanjungan untuk mujahid (pejuang) yang memiliki sifat-sifat sebagaimana yang disebut dalam hadits. Loyalitas dan dedikasi yang tinggi dalam perjuangan.
===================
I. Praktek beramal shalih untuk dunia
Contoh praktek seorang beramal untuk mendapatkan dunia:
1. Dia menginginkan harta, seperti seorang adzan untuk mendapatkan gaji sebagai seorang muadzin, atau haji untuk mendapatkan harta. Ketika seseorang menjadi muadzin maka harus berhati-hati dalam berniat karena jangan sampai adzan yang seharusnya untuk tujuan akhirat lalu menjadi orientasi dunia. Dia menetapkan harga dengan jumlah tertentu, dan tidak mau menjadi muadzin jika harga yang ditetapkan tidak dipenuhi oleh panitia. Ini sangat berbahaya, tapi jika dia menerima amanah sebagai muadzin tapi tidak sama sekali melakukan transaksi atau menetapkan harga dan honor bukan menjadi tujuan utama nya tapi dia hanya jadikan sebagai rutinitas ibadah dan kalaupun dikasih honor dengan jumlah tertentu dan tidak mempermasalahkan maka ini tidak mengapa. Adapula orang pergi berhaji atau umroh dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan dunia semata-mata. Dia pergi berdagang atau berbisnis saat pelaksanaan umroh atau haji ini juga harus berhati-hati karena dia campur antara tujuan akhirat dengan dunia. Namun berbeda halnya jika urusan haji atau umrah sudah selesai baru melakukan bisnis atau dagang karena sudah yakin tidak bercampur urusan dunia dan akhiratnya maka ini tidak mengapa.
2. Dia menginginkan martabat, seperti seorang belajar di perguruan tinggi untuk mendapatkan ijazah semata-mata yang dengan hal itu naik martabatnya. Dan sama sekali bukan peningkatan ilmu pengetahuan yang diinginkan tetapi sekedar mendapatkan kehormatan atau martabatnya di masyarakat bertambah dan dihargai. Ini harus berhati-hati, karena jangan sampai menuntut ilmu yg merupakan ibadah suci dan ibadah tertinggi dalam Islam menjadi Sia-sia karena tujuan belajarnya untuk dunia semata-mata.
3. Dia ingin menolak gangguan, penyakit dan petaka, seperti seorang beribadah kepada Allah supaya Allah membalasnya dengan segera amalannya ini di dunia dengan kecintaan makhluk kepadanya, dia terhindarkan dari keburukan dan yang semisalnya. (Al-Qaulul Mufid: 2/137)
Note: terkait masalah ini akan ada penjelasan khusus lewat video di YouTube insyaallah
II. Keadaan manusia ketika beramal
Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsry hafizhahullah menjelaskan, seorang ketika beramal ibadah ada tiga keadaan:
1. Beramal untuk Allah dan untuk mengharapkan ganjaran akhirat, maka dia mendapatkan pahala dunia dan akhirat.
2. Beramal untuk Allah tapi hanya untuk mengharapkan ganjaran dunia, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat. Contoh orang sholat Dhuha karena semata-mata ingin dilancarkan rezekinya, hal ini tujuan yang keliru, yang benar adalah orang sholat Dhuha sebagai ibadah sholat Sunnah pagi diwaktu Dhuha untuk mengharapkan ridho Allah semata-mata, kalaupun dari sholat Dhuha ini lantas Allah memberikan manfaat lain seperti dilancarkan rezekinya dan urusannya itu bonus dari Allah tapi sama sekali bukan tujuan.
3. Beramal untuk selain Allah:
– Jika dalam bentuk ubudiyyah maka syirik besar
-Jika tidak dalan bentuk ubudiyyah syirik kecil seperti beramal tapi riya.
III. Orang kafir disegerakan balasannya di dunia
Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu bercerita: Lalu aku duduk sambil mendongakkan kepalaku melihat keadaan di sekitarku. Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang kelihatan selain tiga kantong. Lalu aku berkata;
ادْعُ اللَّهَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ يُوَسِّعَ عَلَى أُمَّتِكَ فَقَدْ وَسَّعَ عَلَى فَارِسَ وَالرُّومِ وَهُمْ لَا يَعْبُدُونَ اللَّهَ
“Berdo’alah kepada Allah wahai Rasulullah, semoga Dia melapangkan kehidupan untuk ummat anda. Sebab Allah Ta’la telah melapangkan penghidupan bangsa Persia dan Romawi, sedangkan mereka bangsa yang tidak menyembah Allah.”
Mendengar penuturanku itu, beliau duduk, kemudian beliau bersabda:
أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Apakah kamu masih ragu wahai Ibnul Khaththab! Mereka memang disegerakan untuk menerima segala kebaikan dalam hidup di dunia (tapi mereka tidak akan memperoleh kehidupan akhirat).” (HR. Bukhari: 2288, Muslim: 1479)
Note : Kita muslim berbeda dengan non muslim atau bangsa kafir dalam memandang kesuksesan dunia. Bagi muslim kesuksesan dunia itu hanya sebagai bonus dari Allah tapi sama sekali kesuksesan hidup dari segi harta itu bukanlah tujuan hidup muslim tapi kesuksesan hidup jika didapatkan itu untuk kepentingan kemaslahatan umat dan kepentingan akhirat. Jadi cara dan polanya berbeda.
IV. Jangan sekutukan Allah dengan apapun
Allah berfirman :
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS. An-Nisa’: 36)
Allah menyebutkan syai’an secara nakirah dalam redaksi larangan. Sedangkan para ulama telah menyebutkan sebuah kaidah:
النَكِرَةُ فِيْ سِيَاقِ النَّهْيِ يُفِيْدُ العُمُوْمَ
“Kata nakirah (tidak jelas) yang terdapat pada redaksi larangan bermakna umum.”
Di dalam ayat ini kata “syaian” adalah kata nakirah sedangkan kontek ayat ini adalah larangan. Maka berlakulah kaidah ini. Sehingga, larangan mempersekutukan Allah itu mencakup umum. Tidak boleh mempersekutukan dengan apapun apakah itu seorang nabi, malaikat, wali dan orang shalih, atau pun batu, kayu, laut, gunung, dst. Atau bahkan, urusan dunia. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:
“Dan janganlah engkau jadikan dunia sebagai sekutu bagi Allah. Seorang apabila tujuan utamanya adalah dunia maka ia menjadi hamba dunia sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah.” (HR. Bukhari: 2887) (Al-Qaulul Mufid: 1/30-31)
*V. Cara agar ikhlas dalam beramal*
1. Berdo’a
Dari Ibnu Umar, ia berkata; jarang Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam berdiri dari majelis kecuali beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya:
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا
Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepadaMu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah keyakinan yang meringankan musibah di dunia. Berilah kenikmatan kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan dari kami, dan jadikan pembalasan atas orang yang mendzhalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai impian kami terbesar, serta pengetahuan kami yang tertinggi, serta jangan engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami. (HR. Tirmidzi: 3502)
2. Mengetahui hakihat hidup dunia dan akhirat.
Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melintas masuk ke pasar seusai pergi dari tempat-tempat tinggi sementara orang-orang berada disisi beliau. Beliau melintasi bangkai anak kambing dengan telinga melekat, beliau mengangkat telinganya lalu bersabda: “Siapa diantara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?” mereka menjawab: Kami tidak mau memilikinya, untuk apa? Beliau bersabda: “Apa kalian mau (bangkai) ini milik kalian?” mereka menjawab: Demi Allah, andai masih hidup pun ada cacatnya karena telinganya menempel, lalu bagaimana halnya dalam keadaan sudah mati? Beliau bersabda: “Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah melebihi (bangkai) ini bagi kalian.” (HR. Muslim: 2957)
Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:
يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
“Orang termewah sedunia yang termasuk penghuni neraka didatangkan pada hari kiamat lalu dicelupkan sekali ke neraka, setelah itu dikatakan padanya: ‘Wahai anak cucu Adam, apa kau pernah melihat kebaikan sedikit pun, apa kau pernah merasakan kenikmatan sedikit pun? ‘ ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb.’ Kemudian orang paling sengsara didunia yang termasuk penghuni surga didatangkan kemudian ditempatkan di surga sebentar, setelah itu dikatakan padanya: ‘Hai anak cucu Adam, apa kau pernah melihat kesengsaraan sedikit pun, apa kau pernah merasa sengsara sedikit pun? ‘ ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb, aku tidak pernah merasa sengsara sedikit pun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan pun’.” (HR. Muslim: 2807)
3. Berteman dengan orang shalih
Dari Al-Hasan rahimahullah, ia berkata:
مَرَّ عُمَرُ عَلَى مَزْبَلَةٍ فَاحْتَبَسَ عِندَهَا، فَكَأَنَّهُ شَقَّ عَلَى أَصْحَابِهِ وَتَأَذَّوْا بِهَا فَقَالَ لَهُمْ : هَذِهِ دُنْيَاكُمْ الَّتِي تَحْرِصُونَ عَلَيهَا
“Umar bin Khattab pernah melewati sebuah tempat sampah, lalu ia berdiam sejenak di sana, sehingga para sahabatnya merasa terganggu dengan baunya, lantas Umar pun berkata kepada mereka, ‘Inilah dunia yang kalian rebutkan.’” (Az-Zuhd Imam Ahmad: 97)
Dari Ibrahim bin Muhammad al-Muntasyir, dia mengatakan:
كَانَ مَسْرُوقٌ يَرْكَبُ كُلَّ جُمُعَةٍ بَغْلَةً لَهُ وَيَحْمِلُنِي خَلْفَهُ ثُمَّ يَأْتِي كُنَاسَةً بِالْحيرةِ قَدِيمَة فَيَجْعَلُ عَلَيْهَا بَغْلَتَهُ ثُمَّ يَقُولُ : الدُّنْيَا تَحْتَنَا
Setiap hari Jum’at Masruq biasa menunggang baghal dan memboncengku di belakangnya, kemudian dia mendatangi tempat pembuangan sampah tua di Hirah, lalu dia menaikkan baghalnya ke atasnya kemudian mengatakan: “Dunia ada di bawah kita.” (Hilyah al-Auliya’: 2/96)
Note : Dalam perspektif tauhid dunia ini dan segala perhiasan dan kesenangannya hanya di tempatkan ditangan tidak boleh masuk kedalam hati. Seorang yang bertauhid membangun harta dunia sebagai titipan amanah dan sama sekali bukanlah tujuan. Jikapun suatu saat Allah mengambilnya kembali maka itu hak Allah dan hatinya ikhlas dan ridho. Tidak merasa keberatan, segalanya dikembalikan kepada Allah.
Semoga bermanfaat!
Barakallahufiikum
TERMASUK SYIRIK BERAMAL SHALEH UNTUK DUNIA
Firman Allah subhanahu wata’ala:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ، أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasaannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan, mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, serta sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15–16).
Dalam shahih Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الخَمِيْصَةِ، تَعِسَ عَبْدُ الخَمِيْلَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيْكَ فَلاَ انْتَقَشَ، طُوْبَى لِعَبْدٍ أَخَذَ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّة قَدَمَاهُ، إِنْ كَانِ فِيْ الحِرَاسَةِ كَانَ فِيْ الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنْ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَّعَ لَمْ يُشَفَّعْ
“Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba khamishah, celaka hamba khamilah, jika diberi ia senang, dan jika tidak diberi ia marah, celakalah ia dan tersungkurlah ia, apabila terkena duri semoga tidak bisa mencabutnya, berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya (berjihad di jalan Allah), kusut rambutnya, dan berdebu kedua kakinya, bila ia ditugaskan sebagai penjaga, dia setia berada di pos penjagaan, dan bila ditugaskan di garis belakang, dia akan tetap setia di garis belakang, jika ia minta izin (untuk menemui raja atau penguasa) tidak diperkenankan, dan jika bertindak sebagai pemberi syafaat (sebagai perantara) maka tidak diterima syafaatnya”. (HR. Bukhari: 2/328)
Kandungan bab ini:
1. Motivasi seseorang dalam amal ibadahnya, yang semestinya untuk akhirat malah untuk kepentingan duniawi [termasuk syirik dan menjadikan pekerjaan itu sia-sia tidak diterima oleh Allah].
2. Penjelasan tentang ayat dalam surat Hud.
3. Manusia muslim disebut sebagai hamba dinar, hamba dirham, hamba khamishah dan khamilah [jika menjadikan kesenangan duniawi sebagai tujuan].
Dunia sebagai tujuannya dalam beribadah, orientasi nya dunia semata-mata.
4. Tandanya apabila diberi ia senang, dan apabila tidak diberi ia marah. Ia tidak ikhlas dengan keadaan, marah jika kebutuhannya tidak dipenuhi.
5. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendo’akan: “celakalah dan tersungkurlah”.
6. Juga mendoakan: “Jika terkena duri semoga ia tidak bisa mencabutnya.”
7. Sebaliknya Pujian dan sanjungan untuk mujahid (pejuang) yang memiliki sifat-sifat sebagaimana yang disebut dalam hadits. Loyalitas dan dedikasi yang tinggi dalam perjuangan.
===================
I. Praktek beramal shalih untuk dunia
Contoh praktek seorang beramal untuk mendapatkan dunia:
1. Dia menginginkan harta, seperti seorang adzan untuk mendapatkan gaji sebagai seorang muadzin, atau haji untuk mendapatkan harta. Ketika seseorang menjadi muadzin maka harus berhati-hati dalam berniat karena jangan sampai adzan yang seharusnya untuk tujuan akhirat lalu menjadi orientasi dunia. Dia menetapkan harga dengan jumlah tertentu, dan tidak mau menjadi muadzin jika harga yang ditetapkan tidak dipenuhi oleh panitia. Ini sangat berbahaya, tapi jika dia menerima amanah sebagai muadzin tapi tidak sama sekali melakukan transaksi atau menetapkan harga dan honor bukan menjadi tujuan utama nya tapi dia hanya jadikan sebagai rutinitas ibadah dan kalaupun dikasih honor dengan jumlah tertentu dan tidak mempermasalahkan maka ini tidak mengapa. Adapula orang pergi berhaji atau umroh dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan dunia semata-mata. Dia pergi berdagang atau berbisnis saat pelaksanaan umroh atau haji ini juga harus berhati-hati karena dia campur antara tujuan akhirat dengan dunia. Namun berbeda halnya jika urusan haji atau umrah sudah selesai baru melakukan bisnis atau dagang karena sudah yakin tidak bercampur urusan dunia dan akhiratnya maka ini tidak mengapa.
2. Dia menginginkan martabat, seperti seorang belajar di perguruan tinggi untuk mendapatkan ijazah semata-mata yang dengan hal itu naik martabatnya. Dan sama sekali bukan peningkatan ilmu pengetahuan yang diinginkan tetapi sekedar mendapatkan kehormatan atau martabatnya di masyarakat bertambah dan dihargai. Ini harus berhati-hati, karena jangan sampai menuntut ilmu yg merupakan ibadah suci dan ibadah tertinggi dalam Islam menjadi Sia-sia karena tujuan belajarnya untuk dunia semata-mata.
3. Dia ingin menolak gangguan, penyakit dan petaka, seperti seorang beribadah kepada Allah supaya Allah membalasnya dengan segera amalannya ini di dunia dengan kecintaan makhluk kepadanya, dia terhindarkan dari keburukan dan yang semisalnya. (Al-Qaulul Mufid: 2/137)
Note: terkait masalah ini akan ada penjelasan khusus lewat video di YouTube insyaallah
II. Keadaan manusia ketika beramal
Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsry hafizhahullah menjelaskan, seorang ketika beramal ibadah ada tiga keadaan:
1. Beramal untuk Allah dan untuk mengharapkan ganjaran akhirat, maka dia mendapatkan pahala dunia dan akhirat.
2. Beramal untuk Allah tapi hanya untuk mengharapkan ganjaran dunia, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat. Contoh orang sholat Dhuha karena semata-mata ingin dilancarkan rezekinya, hal ini tujuan yang keliru, yang benar adalah orang sholat Dhuha sebagai ibadah sholat Sunnah pagi diwaktu Dhuha untuk mengharapkan ridho Allah semata-mata, kalaupun dari sholat Dhuha ini lantas Allah memberikan manfaat lain seperti dilancarkan rezekinya dan urusannya itu bonus dari Allah tapi sama sekali bukan tujuan.
3. Beramal untuk selain Allah:
– Jika dalam bentuk ubudiyyah maka syirik besar
-Jika tidak dalan bentuk ubudiyyah syirik kecil seperti beramal tapi riya.
III. Orang kafir disegerakan balasannya di dunia
Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu bercerita: Lalu aku duduk sambil mendongakkan kepalaku melihat keadaan di sekitarku. Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang kelihatan selain tiga kantong. Lalu aku berkata;
ادْعُ اللَّهَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ يُوَسِّعَ عَلَى أُمَّتِكَ فَقَدْ وَسَّعَ عَلَى فَارِسَ وَالرُّومِ وَهُمْ لَا يَعْبُدُونَ اللَّهَ
“Berdo’alah kepada Allah wahai Rasulullah, semoga Dia melapangkan kehidupan untuk ummat anda. Sebab Allah Ta’la telah melapangkan penghidupan bangsa Persia dan Romawi, sedangkan mereka bangsa yang tidak menyembah Allah.”
Mendengar penuturanku itu, beliau duduk, kemudian beliau bersabda:
أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Apakah kamu masih ragu wahai Ibnul Khaththab! Mereka memang disegerakan untuk menerima segala kebaikan dalam hidup di dunia (tapi mereka tidak akan memperoleh kehidupan akhirat).” (HR. Bukhari: 2288, Muslim: 1479)
Note : Kita muslim berbeda dengan non muslim atau bangsa kafir dalam memandang kesuksesan dunia. Bagi muslim kesuksesan dunia itu hanya sebagai bonus dari Allah tapi sama sekali kesuksesan hidup dari segi harta itu bukanlah tujuan hidup muslim tapi kesuksesan hidup jika didapatkan itu untuk kepentingan kemaslahatan umat dan kepentingan akhirat. Jadi cara dan polanya berbeda.
IV. Jangan sekutukan Allah dengan apapun
Allah berfirman :
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS. An-Nisa’: 36)
Allah menyebutkan syai’an secara nakirah dalam redaksi larangan. Sedangkan para ulama telah menyebutkan sebuah kaidah:
النَكِرَةُ فِيْ سِيَاقِ النَّهْيِ يُفِيْدُ العُمُوْمَ
“Kata nakirah (tidak jelas) yang terdapat pada redaksi larangan bermakna umum.”
Di dalam ayat ini kata “syaian” adalah kata nakirah sedangkan kontek ayat ini adalah larangan. Maka berlakulah kaidah ini. Sehingga, larangan mempersekutukan Allah itu mencakup umum. Tidak boleh mempersekutukan dengan apapun apakah itu seorang nabi, malaikat, wali dan orang shalih, atau pun batu, kayu, laut, gunung, dst. Atau bahkan, urusan dunia. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:
“Dan janganlah engkau jadikan dunia sebagai sekutu bagi Allah. Seorang apabila tujuan utamanya adalah dunia maka ia menjadi hamba dunia sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah.” (HR. Bukhari: 2887) (Al-Qaulul Mufid: 1/30-31)
*V. Cara agar ikhlas dalam beramal*
1. Berdo’a
Dari Ibnu Umar, ia berkata; jarang Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam berdiri dari majelis kecuali beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya:
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا
Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepadaMu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah keyakinan yang meringankan musibah di dunia. Berilah kenikmatan kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan dari kami, dan jadikan pembalasan atas orang yang mendzhalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai impian kami terbesar, serta pengetahuan kami yang tertinggi, serta jangan engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami. (HR. Tirmidzi: 3502)
2. Mengetahui hakihat hidup dunia dan akhirat.
Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melintas masuk ke pasar seusai pergi dari tempat-tempat tinggi sementara orang-orang berada disisi beliau. Beliau melintasi bangkai anak kambing dengan telinga melekat, beliau mengangkat telinganya lalu bersabda: “Siapa diantara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?” mereka menjawab: Kami tidak mau memilikinya, untuk apa? Beliau bersabda: “Apa kalian mau (bangkai) ini milik kalian?” mereka menjawab: Demi Allah, andai masih hidup pun ada cacatnya karena telinganya menempel, lalu bagaimana halnya dalam keadaan sudah mati? Beliau bersabda: “Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah melebihi (bangkai) ini bagi kalian.” (HR. Muslim: 2957)
Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:
يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
“Orang termewah sedunia yang termasuk penghuni neraka didatangkan pada hari kiamat lalu dicelupkan sekali ke neraka, setelah itu dikatakan padanya: ‘Wahai anak cucu Adam, apa kau pernah melihat kebaikan sedikit pun, apa kau pernah merasakan kenikmatan sedikit pun? ‘ ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb.’ Kemudian orang paling sengsara didunia yang termasuk penghuni surga didatangkan kemudian ditempatkan di surga sebentar, setelah itu dikatakan padanya: ‘Hai anak cucu Adam, apa kau pernah melihat kesengsaraan sedikit pun, apa kau pernah merasa sengsara sedikit pun? ‘ ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb, aku tidak pernah merasa sengsara sedikit pun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan pun’.” (HR. Muslim: 2807)
3. Berteman dengan orang shalih
Dari Al-Hasan rahimahullah, ia berkata:
مَرَّ عُمَرُ عَلَى مَزْبَلَةٍ فَاحْتَبَسَ عِندَهَا، فَكَأَنَّهُ شَقَّ عَلَى أَصْحَابِهِ وَتَأَذَّوْا بِهَا فَقَالَ لَهُمْ : هَذِهِ دُنْيَاكُمْ الَّتِي تَحْرِصُونَ عَلَيهَا
“Umar bin Khattab pernah melewati sebuah tempat sampah, lalu ia berdiam sejenak di sana, sehingga para sahabatnya merasa terganggu dengan baunya, lantas Umar pun berkata kepada mereka, ‘Inilah dunia yang kalian rebutkan.’” (Az-Zuhd Imam Ahmad: 97)
Dari Ibrahim bin Muhammad al-Muntasyir, dia mengatakan:
كَانَ مَسْرُوقٌ يَرْكَبُ كُلَّ جُمُعَةٍ بَغْلَةً لَهُ وَيَحْمِلُنِي خَلْفَهُ ثُمَّ يَأْتِي كُنَاسَةً بِالْحيرةِ قَدِيمَة فَيَجْعَلُ عَلَيْهَا بَغْلَتَهُ ثُمَّ يَقُولُ : الدُّنْيَا تَحْتَنَا
Setiap hari Jum’at Masruq biasa menunggang baghal dan memboncengku di belakangnya, kemudian dia mendatangi tempat pembuangan sampah tua di Hirah, lalu dia menaikkan baghalnya ke atasnya kemudian mengatakan: “Dunia ada di bawah kita.” (Hilyah al-Auliya’: 2/96)
Note : Dalam perspektif tauhid dunia ini dan segala perhiasan dan kesenangannya hanya di tempatkan ditangan tidak boleh masuk kedalam hati. Seorang yang bertauhid membangun harta dunia sebagai titipan amanah dan sama sekali bukanlah tujuan. Jikapun suatu saat Allah mengambilnya kembali maka itu hak Allah dan hatinya ikhlas dan ridho. Tidak merasa keberatan, segalanya dikembalikan kepada Allah.
Semoga bermanfaat!
Barakallahufiikum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar