Semakin ikhlas dan semakin baik ketakwaan seseorang, maka ia semakin takut kepada popularitas.
Kata Adz-Zahabi dalam Siyar A'laam an-Nubala', "Ada 20.000 mujahid yang tidak tercatat di kantor administrasi militer Khalifah Harun Ar-Rasyid. Mereka rela tidak mengambil gaji mereka asal nama mereka tidak dikenal oleh manusia."
As-Sa'ib bin Al-Aqra' bercerita kesedihannya kepada Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu'anhu, bahwa ada banyak syuhada' perang Nahawand yang tidak dikenal Umar. Umar pun menangis tersedu-sedu, "Apa ruginya mereka tidak dikenal Umar, sungguh Allah mengenal mereka,"
Dan berbeda jauh dengan keadaan hari ini, godaan ingin terkenal, ingin viral, ingin mendapat perhatian, ingin mendapat sajungan seolah-olah telah menjadi perlombaan dan tujuan yang bertebaran sehari-hari bagi orang-orang mengharapkan keuntungan duniawi.
Seperti di zaman medsos saat ini, begitu banyak orang-orang yg ingin tampil, ingin viral, ingin mendapat subscribe, followers, sehingga mereka berusaha memperbagus diri, membuat pencitraan, membuat kekonyolan dan melakukan hal² apapun yang penting dapat perhatian.
Padahal jika mereka menyadari, bahwa usia pujian dan kekaguman itu hanya sebatas Allah masih menutupi aibnya dan orang-orang belum tahu sisi kelemahannya.
Maka menderitalah siapa saja yang hidup terbuai dan senantiasa mengharap pujian, apa lagi bangga membesar-besarkan dirinya sendiri.
Karena, hal demikian justru sering kali dapat menggerus benteng keikhlasan, dan sehingga dapat menghancurkan amalan-amalan yang susah payah telah kita upayakan.
Dan sungguh kasian, apabila kelak kita alami, dimana kita mengira telah banyak melakukan amal. Tapi ternyata kosong dalam catatan Sang Rahman, Naudzubillah.
Habibie quotes
Tidak ada komentar:
Posting Komentar