MENGHADAPI KEZALIMAN PENGUASA,
DIJELASKAN SIKAP YANG BENAR SECARA RINGKAS NAMUN PADAT DAN KOMPLIT DALAM HADITS INI !
Dari Ummu Salamah Hindun bintu Abi Umayyah radhiallahu’anha, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ستكونُ أمراءُ . فتعرفونَِ وتُنْكرونَ . فمن عَرِف بَرِئ . ومن نَكِرَ سَلِمَ . ولكن من رَضِي وتابعَ قالوا : أفلا نقاتلهُم ؟ قال : لا . ما صلوا
“Akan ada para pemimpin kelak. Kalian mengenal mereka dan mengingkari perbuatan mereka. Siapa yang membenci kekeliruannya, maka ia terlepas dari dosa. Siapa yang mengingkarinya, maka ia selamat. Namun yang ridha dan mengikutinya, itulah yang tidak selamat”. Para sahabat bertanya: “Apakah kita perangi saja pemimpin seperti itu?”. Nabi menjawab: “Jangan, selama mereka masih shalat” (HR. Muslim no. 1854).
Maka sikap yang benar terhadap kezaliman yang dilakukan penguasa adalah
* Tidak boleh setuju terhadap kezaliman, wajib membenci kezaliman tersebut
* Wajib mengingkari kezaliman, sesuai kemampuan dan dengan cara yang dibenarkan syariat
* Orang yang setuju dan ridha pada kezaliman, ikut berdosa
* Namun tetap tidak boleh melawan dan memberontak
Semoga Allah memberi taufik
@fawaid_kangaswad
.
KEWAJIBAN TAAT KEPADA PEMERINTAH
Ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed hafizhahullah
Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah karut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.
KKN, represivitas penguasa, kedekatan pemerintah dengan Barat (baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari yang ‘sekadar’ demonstrasi, hingga yang berujud pemberontakan fisik.
Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan tidak timbul kerusakan yang jauh lebih besar.
Yang menyedihkan, Islam atau jihad justru yang paling laris dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya.
Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakr dan Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه dapat tegak kembali di masa kini.
Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di bejana ditumpahkan”.
Mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه, namun kewajiban yang Allah سبحانه و تعالى perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yang ada di hadapan mereka, justru dilupakan. Padahal dengan itu, Allah سبحانه و تعالى akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.
Wajibnya Taat kepada Penguasa Muslim
Allah عز و جل telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapa pun jelek dan zalimnya mereka.
Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata.
Allah عز و جل juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kezaliman mereka dan tetap berjalan di atas As-Sunnah.
Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah سبحانه و تعالى seperti keadaan orang-orang jahiliah. [1] (Lihat ucapan al-Imam an-Nawawi رحمه الله dalam Syarah Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abbas c, dia berkata, Rasulullah صلی اللہ علیہ وسلم bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
“Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)
Wallahu A'lam Bishowab
.
HATI-HATI DENGAN KRITIKANMU
MENGKRITISI PEMERINTAH
Fadhilatusy Syaikh Al Allamah Prof. Dr. Muhammad bin Umar Baazmul hafizhahullah berkata :
"Apabila engkau mengkritik penguasa atau menteri atau kepala daerah atau kepala kantor pemerintahan maka hal ini tidak lepas dari beberapa keadaan :
Keadaan pertama : engkau mengkritiknya dengan sesuatu yang benar namun tidak di hadapannya maka kritikan ini merupakan ghibah yang diharamkan.
Keadaan kedua : engkau mengkritiknya dengan sesuatu yang tidak benar maka ini merupakan kedustaan; sehingga ini haram dan tidak boleh.
Keadaan ketiga : engkau mengkritiknya dengan sesuatu yang benar dan di majelis ia berada serta di hadapan manusia; maka ini merupakan fadhihah (membongkar aib di depan umum) dan bukan nasehat.
Keadaan keempat : engkau mengkritiknya dengan sesuatu yang benar dan engkau menyampaikan kritikan tersebut kepadanya secara rahasia dan khusus dengan dirinya tanpa menyebarluaskannya serta tidak di depan manusia maka ini nasehat yang bisa melepaskan tanggung jawabmu dan engkau mendapatkan pahala karenanya.
Wallahul muwaffiq".
Sumber : https://twitter.com/momalbaz/status/1101373053030813697?s=20
MENDOAKAN KEBAIKAN PEMERINTAH TERMASUK KETAATAN YANG PALING AFDHAL
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
الدعاء لولي الأمر من أفضل الطاعات، ومن النصيحة لله ولعباده، فالمؤمن يدعو للناس بالخير، والسلطان أولى من يدعى له؛ لأن صلاحه صلاح للأمة.
"Mendoakan kebaikan bagi pemerintah termasuk ketaatan yang paling afdhal dan termasuk bentuk nasehat bagi Allah dan hamba-hamba-Nya, jadi seorang mu'min suka mendoakan kebaikan bagi orang lain, sementara pemerintah merupakan pihak yang paling layak untuk didoakan, karena sesungguhnya baiknya pemerintah akan membawa kebaikan bagi umat."
MENDOAKAN KEBAIKAN BAGI PEMERINTAH TERMASUK KEBIASAAN AHLUS SUNNAH
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
من صفات المؤمن من أهل السنة والجماعة: الدعاء لأئمة المسلمين بالصلاح.
"Diantara sifat seorang mu'min dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah; mendoakan kebaikan bagi pemerintah kaum muslimin."
Thabaqat al-Hanabilah, jilid 1 hlm. 33
BOLEHKAH MENGKRITIK PEMERINTAH DI MUKA UMUM/ MIMBAR - MIMBAR ?
[ Pertanyaan ]
Bismillah, Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh ustadz , saya ingin bertanya tentang pendapat ustadz ada teman ana yang mengatakan boleh mengkritik pemerintah dimuka umum dengan dalih amar ma'ruf nahi mungkar dengan berdasarkan dalil berikut:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ، كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
”Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kalimat yang adil (haq) kepada penguasa (sulthan) yang zalim.” (HR Abu Dawud 4346, Tirmidzi no 2265, dan Ibnu Majah no 4011).
[ Jawaban ]
Di dalam hadits tersebut sama sekali TIDAK ADA DALIL padanya tentang bolehnya mengkritik pemerintah di khalayak ramai, di mimbar-mimbar, di umum..
Di dalam hadits tersebut disebutkan dengan lafadz:
عند سلطان جائر
yang maknanya adalah di sisi penguasa yang dzalim, bukan di umum, walhamdulillah.
| Dijawab Oleh:
Al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu 'Umar حفظه الله تعالى |
MEWASPADAI KAUM KHAWARIJ AL-QA'ADIYYAH
Berkata al-'Allamah 'Ubaid al-Jabiri hafizhahullah:
{ إياك ثم إياك أن تغتر بصنيع هؤلاء القوم الذين يشهرون بالحكَّام على المنابر، وفي المحافل العامة ويصدعون بأخطائهم؛ فإن هذا من التحريض الذي هو منهج الخوارج القعدية. }
“Waspadalah, waspadalah dari tertipu dengan perbuatan kaum ini
— yang mengkritik para penguasa (pemerintah) di atas mimbar-mimbar dan di tempat-tempat umum..
❱ yang mana mereka membeberkan dengan berani dan terang-terangan kesalahan-kesalahan para penguasa.
Maka sungguh perbuatan ini adalah diantara bentuk provokasi yang merupakan manhajnya (metode) khawarij al-Qa'diyyah.”
📚[Majmu'ah Rasail, juz 1 hal. 242]
HARAMNYA MENGGUNJING KESALAHAN PEMERINTAH DAN BAHAYANYA!!
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
إذا اغتبت الأمير أو الوزير أو الملك معناها أنك تشحن قلوب الرعية على ولاتهم، هذا سبب لنشر الفوضى بين الناس وتمزقهم، واليوم يكون رميا بالكلام، وغدًا يكون رميا بالسهام!!
"Jika engkau menggunjing pemimpin, atau menteri, atau raja, maka artinya engkau membangkitkan kemarahan hati rakyat terhadap pemerintah mereka, dan yang semacam ini menyebabkan tersebarnya kekacauan diantara manusia dan memecah belah mereka, bisa jadi hari ini serangan dilakukan dengan ucapan, sedangkan besok serangan dilakukan dengan panah (senjata)."
📚 Syarh Riyadhush Shalihin, jilid 6 hlm. 105
JANGAN MEMBENCI DAN MENCELA PEMERINTAH KALIAN
✍🏻 Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:
نهانا كبراؤنا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا تسبوا امراءكم ولا تغشوهم ولا تبغضوهم واتقوا الله واصبروا فإن الأمر قريب.
Para pembesar kami dari kalangan Sahabatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang kami dengan berkata: "Janganlah kalian mencaci penguasa kalian, jangan menipu mereka, dan jangan pula membenci mereka. Bertaqwalah kalian kepada Allah, dan bersabarlah, karena kematian telah dekat".
(Sanadnya Jayyid, dzhilul jannah fii takhrij as-Sunnah, karya Ibnu Abi Ashim).
BANYAK ORANG SIBUK MENGGHIBAHI PENGUASA MEREKA HANYA KARENA BANYAK HAQ-HAQ MEREKA YANG HILANG DI DUNIA INI.
Aduhai malang sekali nasibmu, sudah hilang haq-haqmu di dunia, haruskah hilang juga haq-haqmu di akhirat karena dosa-dosa ghibah ?
Padahal andai engkau bersabar saja atas apa yang terlewatkan bagimu dari dunia ini in syaa Allah nanti di akhirat engkau akan panen pahala.
Alangkah indah nasehat Ibnu 'Utsaimīn berikut ini:
قال العلامة ابن عثيمين - رحمه الله :
"لا تظن أن مايكون في الدنيا من
الظلم سيذهب هباء أبدا. حق
المخلوق لابد أن يؤخذ يوم القيامة".
[ شرح رياض الصالحين( ٢/٤٠)].
Berkata al-'allāmah Ibnu 'Utsaimīn rahimahullāh:
"Jangan engkau kira bahwasanya apa yang terjadi di dunia berupa kezhaliman akan terbang begitu saja selamanya ?. Haq makhluq pasti akan di ambil pada hari kiamat."
[Syarh Riyādhis Shālihīn 2/40].
✍
Ustadz Hanafi Abu Abdillah Ahmad
MENCELA PEMERINTAH TERMASUK DOSA BESAR!!
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
الكلام في ولاة الأمور من الغيبة والنميمة، وهما من أشد المحرمات بعد الشرك.
"Mencela pemerintah termasuk ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba), dan kedua perbuatan ini termasuk perkara yang paling diharamkan setelah syirik."
📚 Al-Ajwibah al-Mufidah, hlm. 60
TIDAK BOLEH MENCELA PEMERINTAH DI MANAPUN
✍🏻 Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
لا يجوز أن يقلل من شأن ولي الأمر أو أن يتكلم فيه في المجالس أو في الخطب أو في المحاضرات.
"Tidak boleh merendahkan pemerintah atau mencelanya, di majelis-majelis, di khutbah-khutbah, atau di ceramah-ceramah."
📖 Mafhumul Bai'ah, hlm. 18
AHLUS SUNNAH MENTAATI PEMERINTAH WALAUPUN TANPA SEPENGETAHUAN ORANG LAIN
Ketika Abu Hanifah rahimahullah ditanya oleh salah seorang putri beliau tentang sebuah masalah, beliau menjawab:
ﺳﻠﻲ ﺃﺧﺎﻙ ﺣﻤﺎﺩﺍً، ﻓﺈﻥ ﺍﻷﻣﻴﺮ ﻣﻨﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺘﻴﺎ.
"Tanyalah kepada saudaramu Hamad, karena gubernur (Kufah) melarangku untuk berfatwa."
📖 Wafayatul A’yan, jilid 4 hlm. 180
🏣 MENGAJARI ANAK MENCINTAI PEMERINTAH MUSLIM
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,
نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ، قَالُوا : قَالَ رَسولُ اللّهِ صلى اللّه عليه وسلّم : لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَ تَغُشُّوهُمْ، وَ تُبْغِضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ، وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ
“Dahulu kami dilarang oleh para tokoh kami dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
❶. Jangan kalian mencela penguasa kalian,
❷. Jangan mengkhianati mereka, dan
❸. Jangan pula membenci mereka.
Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena urusannya dekat’.”
📚 HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (2/474)(1015) dan al-Baihaqi dalam al-Jami’ li Syu’abil Iman (10/27) (7117).
MENCELA PEMERINTAH BUKAN AKHLAK SALAF
✍🏻 Al-Imam Ibnu Abdil Barr Umar bin Abdillah rahimahullah berkata:
*إن لم يتمكن من نصح السلطان فالصبر والدعاء، فإنهم كانوا ينهون عن سب الأمراء.*
"Jika tidak memungkinkan untuk menasehati pemerintah, maka bersabar dan berdoa, karena sesungguhnya mereka (para Salaf) dahulu melarang dari mencela pemerintah."
📚 At-Tamhid, jilid 21 hlm. 278
بسم الله الرحمن الرحيم
BAHAYA MENCELA PEMERINTAH
Abu Darda' radhiyallahu 'anhu berkata,
أول نفاق المرء طعنه على إمامه
"Kemunafikan yang pertama diketahui pada seseorang adalah celaannya terhadap pemerintahnya."
📖 Sumber: Lam al-Dur Al-Mantsur, hlm. 49
✒️ Faidah al-Ustadz Abu Fudhail hafizhahullah
WAJIB MENAATI PEMERINTAH DAN MENJAGA PERSATUAN KAUM MUSLIMIN
Asy-Syaikh al-Allamah Dr. Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
لزوم طاعته [الإمام] والانضمام مع الجماعة فيه الأمن، فيه الاستقرار، فيه القوة، فيه السلامة. وأما الخروج عليه فيسبب الفوضى، والضياع، وسفك الدماء، كما تعلمون الآن من الحوادث. فتلزم جماعة المسلمين وإمامهم، هذا هو طريق النجاة.
"Sikap selalu menaati pemerintah (dalam hal yang baik) dan bersatu dengan jama'ah kaum muslimin membawa keamanan, ketenangan, kekuatan, dan keselamatan. Sedangkan pemberontakan terhadapnya akan menyebabkan kekacauan, kehancuran, dan pertumpahan darah, sebagaimana yang kalian ketahui dari berbagai peristiwa yang terjadi. Maka, hendaknya engkau selalu bersama jama'ah kaum muslimin dan pemimpin mereka, inilah jalan keselamatan itu!"
Syarh kitab al-Fitan wal Hawadits, hlm. 54
KEUTAMAAN MENAATI PEMERINTAH
✍🏼 Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, bahwa Ibnu Batthal berkata:
وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب، والجهاد معه، وأن طاعته خير من الخروج عليه، لما في ذلك من حقن للدماء، وتسكين الدهماء
"Para Fuqaha (Ulama) telah bersepakat, atas wajibnya menaati penguasa yang menang (menjadi penguasa) karena kudeta. Wajib berjihad bersamanya. Dan menaatinya itu lebih baik dibanding memberontak terhadapnya, karena yang demikian itu lebih menjaga darah dan ketenteraman manusia."
(Fathul Bary 7/13).
Larangan Memberontak kepada Pemerintah Muslim
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan berkata:
“Termasuk pokok akidah Ahlus Sunnah adalah diharamkannya memberontak kepada pemimpin kaum muslimin(1) meskipun mereka melakukan perbuatan dosa –yang tidak sampai kepada kekufuran–, karena Nabi Sholallohu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk mentaati mereka selain dalam perkara maksiat dan selama belum tampak pada mereka kekufuran yang nyata.
Berbeda halnya dengan kelompok sempalan Mu’tazilah yang mewajibkan untuk memberontak kepada para pemimpin apabila mereka melakukan suatu dosa besar walaupun belum sampai pada tingkat kekufuran, bahkan mereka menganggap hal tersebut termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.
Padahal sebenarnya perbuatan mereka inilah yang merupakan kemungkaran terbesar, karena berdampak kerugian dan bahaya yang besar berupa kekacauan (di dalam negeri), rusaknya perkara (urusan kaum muslimin), terpecah belahnya persatuan dan berkuasanya musuh (terhadap kaum muslimin).” (Min Ushul ‘Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 21-22)
Catatan Kaki:
1 Al-Imam Ath-Thahawi Rohimahulloh berkata: “Kita (Ahlus Sunnah) berpandangan tidak boleh memberontak kepada para imam dan pemimpin kita (pemimpin di sini adalah orang Islam), walaupun mereka berbuat jahat. Kita tidak boleh mendoakan kejelekan atas mereka dan tidak boleh menarik tangan dari sumpah setia untuk menaati mereka. Bahkan kita memandang taat kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah secara wajib, selama mereka tidak memerintahkan kepada maksiat. Dan kita mendoakan mereka dengan kebaikan dan memintakan perlindungan untuk mereka dari segala yang tidak baik.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah).
MENGHORMATI PEMERINTAH
Antara Kewajiban dan Penyampaian Aspirasi
Allah subhanahu wa taala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa: 59)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Kerajaan Arab Saudi, ketika menjelaskan ayat di atas, beliau mengatakan,
“Ayat ini adalah nash (dalil) tentang kewajiban taat kepada ulil amri yaitu umara dan ulama. Hadits-hadits yang sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menerangkan bahwa ketaatan ini adalah sesuatu yang harus, bahkan wajib, dalam perkara yang ma’ruf.
“Adapun keluar dari ketaatan terhadap umara dan membelot dengan mengadakan penyerangan atau selainnya, itu adalah bentuk kemaksiatan dan penentangan terhadap Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya serta penyelisihan terhadap akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Salaful Ummah.” ( Nashihah Muhimmah )
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menegaskan,
“Penting kiranya untuk memahami manhaj salaf dalam bermuamalah dengan pemerintah, jangan sampai kesalahan pemerintah dijadikan celah untuk memprovokasi rakyat dan menjauhkannya dari pemerintah karena ini adalah kerusakan dan satu penyebab utama munculnya kekacauan.
“Provokasi untuk membenci pemerintah akan menimbulkan keburukan, fitnah, dan kekacauan. Begitu pula provokasi untuk membenci para ulama akan memunculkan sikap meremehkan kehormatan para ulama, yang mengantarkan pada sikap peremehan terhadap syariat yang dibawa oleh para ulama tersebut.
“Jika seseorang berupaya meremehkan kehormatan ulama dan kehormatan pemerintah maka pasti akan hilang syariat agama dan stabilitas keamanan. Sebab, dengan itu, ketika para ulama menasihati, masyarakat tidak akan lagi percaya kepada nasihat mereka. Begitu pula ketika pemerintah mengambil kebijakan, masyarakat akan menentang kebijakan tersebut. Akibatnya, akan terjadi keburukan dan kerusakan.
“Jadi, yang wajib adalah kita melihat cara yang telah ditempuh oleh generasi salaf dalam menyikapi penguasa. Hendaknya masing-masing pihak dapat mengendalikan diri dan melihat akibat yang akan timbul.
“Penting pula diketahui bahwa orang yang gemar melakukan provokasi pada hakikatnya dia sedang membantu musuh-musuh Islam.” ( Huquq ar-Ra’i war Ra’iyah )
Dua nama ulama di atas, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, termasuk deretan ulama salafi yang selalu menasihati umat di berbagai negara untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negaranya melalui sikap taat dan patuh kepada pemerintahnya, tidak menentang dan memberontak kepadanya. Beliau berdua dalam banyak nasihatnya selalu melarang para dai dan tokoh agama memprovokasi masyarakat untuk membenci pemerintahnya.
Beliau berdua sering menasihati umat dengan membawakan hadits berikut,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ
“Barang siapa ingin menasihati penguasa tentang suatu perkara, janganlah dia lakukan secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi. Jika nasihat tersebut diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, ia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim, dari ‘Iyadh bin Ghunm radhiallahu ‘anhu).
MEMBICARAKAN KEBURUKAN PENGUASA, APAKAH TERMASUK GHIBAH ??
Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala
Pertanyaan:
Apakah membicarakan urusan kenegaraan dan kondisi masyarakat dapat dianggap sebagai ghibah, sampai-sampai seandainya seseorang itu mencela (mencaci) aib dan kejelekan penguasa? (dengan kata lain, apakah ghibah itu hanya dilarang jika yang di-ghibah adalah rakyat atau manusia biasa seperti kita, sedangkan jika kita meng-ghibah penguasa itu diperbolehkan? –pen.)
Jawaban:
Perbuatan ini termasuk ghibah, bahkan termasuk jenis ghibah yang paling parah (paling jelek). Hal ini karena membicarakan (kesalahan) penguasa dan ulil amri akan menimbulkan suu’dzan (buruk sangka) terhadap penguasa kaum muslimin dan merendahkan kedudukan mereka di hadapan masyarakat. Dan terkadang akan menimbulkan kebencian pada sebagian masyarakat dan (menimbulkan) dendam tersembunyi terhadap ulil amri, sehingga akan terjadi perpecahan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasihat.”
Kemudian para sahabat bertanya, “Untuk siapa (wahai Rasulullah)?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat pada umumnya.” (HR. Muslim no. 55)
Maka apakah termasuk dalam nasihat (menginginkan kebaikan) kepada ulil amri ketika Engkau duduk di berbagai forum dan berbicara (tentang kesalahan penguasa, pen.)? Atau Engkau merekam perkataanmu di kaset, atau Engkau berbicara di mimbar-mimbar mencela penguasa dan melecehkan mereka?
Perbuatan ini merusak persatuan, dan menyebabkan masyarakat menyimpan dendam terhadap penguasa, sehingga menimbulkan banyak kerusakan, terbaliknya keadaan, mencabut ketaatan (menjadi pemberontak), dan anggapan bahwa ketaatan (terhadap penguasa) itu tidak wajib.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)
Maka harus ada ketaatan terhadap penguasa, selama mereka tidak memerintahkan untuk maksiat kepada Allah Ta’ala. Jika Engkau mencela penguasa, membicarakan (aib) mereka, kemudian dampaknya masyarakat meremehkan perintah penguasa dan durhaka kepada penguasa, sehingga akhirnya masyarakat pun keluar dari perintah Allah Ta’ala.
@Sint-Jobskade 718 NL, 11 Dzulqa’dah 1439/ 25 Juli 2018
Penerjemah: M. Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.Or.Id
Baca selengkapnya https://muslim.or.id/41771-membicarakan-keburukan-penguasa-apakah-termasuk-ghibah.html
.
.
MENDOAKAN PEMERINTAH MERUPAKAN KEWAJIBAN MENURUT AHLUS SUNNAH !
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
إني لأدعو لولي الأمر بالتسديد والتوفيق في الليل والنهار وأرى له ذلك واجبا علي.
"Sungguh malam dan siang saya benar-benar mendoakan kebaikan bagi pemerintah agar diberi kelurusan dan taufik, dan saya menilai hal itu hukumnya wajib bagi saya."
(As-Sunnah, karya al-Khallal, jilid 1 hlm. 83).
.
.
🔰MENDOAKAN KEBAIKAN BAGI PEMIMPIN🔰
Diantara ciri dan karakter ahlu Sunnah adalah mendoakan penguasa dengan kebaikan.
Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik -radhiyallahu anhu-, dari Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda;
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ»، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: «لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ»
“Sebaik baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka, dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka, dan seburuk buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian. Dikatakan, Wahai Rasulullah, apakah kita tidak memeranginya dengan pedang?, Maka beliau menjawab, Tidak selama mereka mendirikan shalat. Dan apabila kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian tidak suka, maka bencilah amalannya, dan tidak boleh mencabut ketaatan darinya” (HR Muslim : 65).
Dalam masalah ini Imam Al Barbahari -rahimahullah- mengatakan :
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُوْ عَلَى السُلْطَانِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوَىً، وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُوْ لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Jika engkau melihat orang yang mendoakan keburukan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwasanya ia adalah ahli bid’ah, tapi kalau engkau melihat ada orang yang mendoakan kebaikan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwa ia ahlu sunnah insya Allah” (Syarhus Sunnah karya Al Barbahari hal. 113)
Abu Utsman As Shabuni -rahimahullah- mengatakan :
وَيَرَوْنَ الدُّعَاءَ لَهُمْ بِالْإِصْلاَحِ وَالتَّوْفِيْقِ وَالصَّلاَحِ، وَبَسْطِ الْعَدْلِ فِيْ الرَّعِيَّةِ
“Mereka (ahlus sunnah) berpendapat untuk mendoakan pemimpin, agar menjadi baik, mendapat taufiq, dan kebaikan serta meluaskan keadilan bagi rakyat”. (Aqidah Salaf Ashabul Hadits, hal. 92-93)
Al Fudhail bin ‘Iyadh -rahimahullah- berkata :
لَوْ كَانَتْ لِيْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا لِلسُّلْطَانِ، قِيْلَ لَهُ: يَا أَبَا عَلِيْ فَسِّرْ لَنَا هَذَا؟ قَالَ: إِذَا جَعَلْتُهَا فِيْ نَفْسِيْ لَمْ تَعْدُنِيْ، وَإِذَا جَعَلْتُهَا فِيْ السُّلْطَانِ صَلَحَ، فَصَلَحَ بِصَلاَحِهِ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ
“Seandainya aku mempunyai doa baik yang dikabulkan maka aku tidak akan mempersembahkannya kecuali untuk pemimpin. Dikatakan kepadanya, wahai Abu ‘Ali jelaskan kepada kami apa maksudnya? Beliau berkata, “Bila doa itu hanya aku tujukan kepada diriku sendiri maka hanya akan bermanfaat untuk diriku sendiri, namun bila aku mempersembahkan kepada pemimpin, dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan Negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya”. (Ittihaful Qaari bit Ta’liqat ‘Ala Syarhi Sunnah, syaikh Al Fauzan 2/153). Wallahu waliyyut Taufiq.
✍ Abu Ghozie As Sundawie
🌹Repost Fp Ittiba'Rasulullah
➡Silahkan dishare,Barakallahu Fiikum
🌹“Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” 📚 (HR. Muslim no. 2674).🌹
Tidak ada komentar:
Posting Komentar