Kamis, 20 Desember 2012

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di rumahnya




Rumah seseorang merupakan bukti nyata yang menjelaskan kebaikan akhlaknya, kesempurnaan pribadinya, kebaikan hatinya dan kejernihan jiwanya, ia berada di belakang tembok, tidak seorang pun yang melihatnya, ia bersama pembantunya atau istrinya, berperilaku sederhana, sangat tawadhu tanpa dibuat-buat dan pura-pura. Perhatikan keseharian rasul dan pemimpin umat ini, bagaimana beliau di rumahnya dengan kedudukan yang agung dan derajat yang tinggi ini. 

Aisyah r.a. ditanya : apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di rumahnya? Ia berkata :

“Beliau adalah manusia biasa, mencuci pakaiannya, memerah susu kambingnya dan mengurus dirinya sendiri.” (H.R. ahmad dan Tirmidzi).

Ini adalah contoh bagi kerendahan hati dan ketidak sombongan serta tidak angkuh. 
Beliau berperan serta dalam mengurus rumah. Manusia pilihan melakukan semua ini, dalam rumahnya yang dimana cahaya agama memancar darinya.

An Nu’man bin Basyir menceritakan keadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

“Aku telah melihat nabi kalian, beliau tidak mendapatkan kurma yang buruk sekalipun untuk mengganjal perutnya.” (H.R. Muslim).

Aisyah r.a. istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata :

“Kami keluarga Muhammad, pernah mengalami satu bulan tidak menyalakan api, makanan kami hanyalah kurma dan air.” (H.R. Bukhari).

Namun semua itu tidak ada yang melalaikan nabi beribadah dan taat kepada Allah subhanahu wa Ta’ala. Jika beliau mendengar hayya alash shalat…hayya alal falah, beliau segera memenuhi panggilan tersebut dan meningglkan dunia di belakang beliau.

Dari Al Aswad bin Yazid berkata : aku bertanya kepada Aisyah r.a. 
: apakah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di rumahnya ? beliau berkata :

“Beliau membantu pekerjaan keluarganya, jika mendengar adzan, maka langsung keluar.” (H.R. Bukhari).

Tidak pernah diberitakan bahwa beliau shalat fardhu di rumahnya sama sekali, kecuali beliau sakit dan menderita demam berat sehingga sulit bagi beliau keluar rumah, dan hal itu terjadi ketika beliau sakit menjelang ajal.

Walaupun beliau sangat kasih kepada umatnya dan sayang kepada mereka, akan tetapi beliau bersikap sangat keras bagi yang meninggalkan shalat berjama’ah, beliau bersabda :

“Sungguh aku telah berniat agar didirikan shalat, dan menyuruh seseorang menjadi imam kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa kayu bakar untuk pergi ke suatu kaum yang tidka hadir shalat berjama’ah lalu membakar rumah-rumah mereka.” (Muttafaq ‘alaih).

Hal ini tidak lain karena pentingnya shalat berjama’ah dan agungnya kedudukannya. Beliau bersabda :

“Barangsiap yang mendengar azan namun tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali kalau ada halangan.” (H.R. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).

Adapun halangan adalah, ketakutan dan sakit.

Dari Buku “Suatu Hari di Rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” 
oleh Abdul Malik al Qasim.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar