Kamis, 06 Oktober 2011

Peristiwa Pembelahan Dada


       Pada saat tinggal di perkampungan Bani Sa’ad, Muhammad kecil mengalami peristiwa “Pembelahan dada”. Peristiwa ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Pengasuhku (saat masa kanak-kanak) adalah seorang perempuan dari Bani Sa’ad ibn Bakrah. Suatu ketika, aku pergi bersama anak pengasuhku untuk menggembalakan kambing kami. Saat itu kami tidak membawa bekal. Maka, aku pun berkata kepada anak pengasuhku,  
“wahai saudaraku, pulanglah ke rumah dan kembalilah ke sini dengan membawa bekal dari ibu kita !”. lantas, saudaraku itu pun kembali ke rumah, sementara aku tetap menggembalakan kambing kami. Baru saja saudaraku berlalu, tiba-tiba datanglah dua ekor burung berwarna putih seperti burung elang. Salah satu di antara keduanya berkata,  
“Apakah ini orang yang kita maksud?” 
“Benar!,” jawab kawannya. 
Lalu, keduanya menghampiriku, memegang tubuhku dan menelentangkan diriku.  Setelah itu, keduanya membedah perutku, mengeluarkan hatiku dan membelahnya. Dari hatiku itu, keduanya mengeluarkan gumpalan darah berwarna hitam. Kemudian, salah seorang di antara mereka berkata kepada yang lain,  
“Ambil air es”  
dan sekejap kemudian keduanya telah sibuk mencuci perutku dengan air es tersebut. Sesudah itu, salah satu dari keduanya berkata lagi,  
“Ambillah air dingin!”  lantas keduanya  pun mencuci hatiku dengan air tersebut.  Setelah selesai, salah satu dari keduanya berkata,  
“Ambillah pisau!”  
maka, sesaat kemudian keduanya sibuk membelah hatiku. Setelah itu, salah satu dari keduanya berkata,  
“Sekarang jahitlah kembali!”
maka, yang satunya pun segera menjahit hatiku dan membuat cap kenabian di atasnya. 
Lalu, salah seorang dari keduanya berkata kepada kawannya,
“Taruhlah hati itu pada salah satu piring timbangan dan taruhlah seribu orang 
umatnya di piring timbangan yang lain.” 
Maka, ketika aku melihat seribu orang tersebut berada di atasku, aku merasa khawatir hatiku akan jatuh kepada sebagian dari mereka. Tetapi, ia berkata,  
“Bila umatnya ditimbang dengannya, niscaya ia akan mengalahkan mereka.”
Lalu keduanya pun pergi meninggalkanku. 

Setelah tersadar dengan apa yang terjadi, diriku merasa sangat takut. Maka aku pun segera menemui ibuku (Halimah Sa’diyyah) dan mengabarkan kepadanya tentang peristiwa yang baru saja kualami. Mendengar ceritaku, ia malah menyangka bahwa diriku telah kerasukan jin, 
sehingga ia berkata,  
“Semoga Allah melindungimu…”  
Setelah itu, ia mengeluarkan hewan tunggangannya dan menaikkan diriku ke atasnya. Kemudian, ia menyusul naik dan duduk di belakangku hingga kami berjumpa dengan  ibuku (Aminah). Sesampainya di hadapan ibu kandungku, ia berkata,  
“Aku telah menunaikan seluruh amanatmu dan tanggungjawabku terhadap anak ini.” Setelah itu, ia juga menceritakan tentang berbagai hal yang terjadi pada diriku. Namun, semua itu tidak membuat ibuku terkejut. Ibu kandungku malah berkata,  
“Ketika aku mengandungnya, aku bermimpi dari perutku ini keluar cahaya 
yang menerangi istana-istana di kota Syam.” 
       Peristiwa pembedahan dada Muhammad ini tidak hanya terjadi saat beliau menyusu di perkampungan Bani Sa’ad saja.  Peristiwa  ini terulang kembali untuk kedua kalinya setelah beber apa waktu kemudian. Ahmad, Ibn Asakir dan beberapa perawi lain menuturkan, peristiwa pembelahan dada Muhammad kembali terjadi pada saat ia berusia 10 tahun lebih beberapa bulan. Sementara itu Bukhari, Muslim, Ahmad, Hakim dan Tirmidzi meriwayatkan bahwa peristiwa pembelahan dada Muhammad untuk kedua kalinya terjadi pada saat beliau berusia 50 tahun. Tepatnya ketika beliau melakukan Isra’ ke Baitul Maqdis.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar